| |
PENDAHULUAN
1. START WITH A DREAM
Mulailah dengan sebuah mimpi.
Semua bermula dari sebuah mimpi dan yakinkan akan produk yang akan kita tawarkan. A dream is where it all started : Pemimpilah yang selalu menciptakan dan membuat sebuah terobosan pada produk, cara pelayanan, jasa, ataupun ide yang dapat dijual dengan sukses. Mereka tidak mengenal batas dan keterikatan, tak mengenal kata “tidak bisa” ataupun “tidak mungkin”.
2. LOVE THE PRODUCTS OR SERVICES
Cintailah Produk Kelompok Pengajian Ridho Allah.
Kecintaan akan produk kita akan memberikan sebuah keyakinan pada pelanggan kita dan membuat kerja keras terasa ringan. Membuat kita mampu melewati masa-masa sulit. Enthusiastism and Persistence : Antusiasme dan keuletan sebagai pertanda Pengajian Ridho Allah cinta dan keyakinan akan menjadi tulang punggung keberhasilan sebuah usaha yang baru.
3. LEARN THE BASICS OF BUSINESS
Pelajarilah fundamental business.
BEYOND THE “BUY LOW, SELL HIGH, PAY LATE, COLLECT EARLY”: Tidak akan ada sukses tanpa ada sebuah pengetahuan dasar untuk business yang baik, belajar sambil bekerja, turut kerja dahulu selama 1-2 tahun untuk dapat mempelajari dasar-dasar usaha akan membantu kita untuk maju dengan lebih baik. Carilah Guru yang baik.
4. WILLING TO TAKE CALCULATED RISKS. SEEK ADVICE, BUT FOLLOW YOUR BELIEF
Ambillah resiko, Carilah nasehat dari pakarnya, tapi ikuti kata-kata kita
The Gaint that u will be able to achieve is directly proportional to the risk taken : Berani mengambil resiko yang diperhitungkan merupakan kunci awal pada dunia usaha, karena hasil yang akan dicapai akan proporsional terhadap resiko yang akan diambil. Sebuah resiko yang diperhitungkan dengan baik-baik akan lebih banyak memberikan kemungkinan berhasil. Dan inilah faktor penentu yang membedakan “entrepreneur” dengan “manager”. Entrepreneur akan lebih dibutuhkan pada tahap awal pengembangan Yayasan, dan manager dibutuhkan akan mengatur Yayasan yang telah maju.
Consult Consultants, ask the experts, but follow your hearts. Entrepreneur selalu mencari nasehat dari berbagai pihak tapi keputusan akhir selalu ada ditangannya dan dapat diputuskan dengan indera ke enam-nya. Komunikasi yang baik dan kepiawaian menjual. Pada fase awal sebuah usaha, kepiawaian menjual merupakan kunci suksesnya. Dan kemampuan untuk memahami dan menguasai hubungan dengan pelanggan akan membantu mengembangkan usaha pada fase itu.
5. WORK HARD, 7 DAY A WEEK, 18 HOURS A DAY& MAKE FRIENDS AS MUCH AS POSSIBLE
Kerja keras. Bertemanlah sebanyak banyaknya
Etos kerja keras sering dianggap sebagai mimpi kuno dan seharusnya diganti, tapi hard-work and smart-work tidaklah dapat dipisahkan lagi sekarang. Hampir semua successful start-up butuh workaholics.
Entrepreneur sejati tidak pernah lepas dari kerjanya, pada saat tidurpun otaknya bekerja dan berpikir akan bussinessnya. Melamunkan dan memimpikan kerjanya.
Pada harga dan kwalitas yang sama orang membeli dari temannya, pada harga yang sedikit mahal, orang akan tetap membeli dari teman. Teman akan membantu mengembangkan usaha kita, memberi nasehat, membantu menolong pada masa sulit.
6. DEAL WITH FAILURES
Hadapi kegagalan.
Kegagalan merupakan sebuah vitamin untuk menguatkan dan mempertajam intuisi dan kemampuan kita berwirausaha, selama kegagalan itu tidak “mematikan”. Setiap usaha selalu akan mempunyai resiko kegagalan dan bila mana itu sampai terjadi, bersiaplah dan hadapilah !
7. JUST DO IT, NOW!
Lakukanlah sekarang juga.
Bila Kelompok Pengajian Ridho Allah telah siap, lakukanlah sekarang juga.
Manager selalu melakukan READY-AIM-SHOOT, tetapi entrepreneur sejati akan melakukan READY-SHOOT-AIM !
Putuskan dan kerjakan sekarang, karena besok bukanlah milik kita.
BAB I
ASPEK PENTING MENUJU SUKSES
Memulai bisnis bagi kebanyakan orang bukanlah hal yang mudah. Hal yang klasik, banyak pertimbangan di sana sini sehingga tak jarang membuat orang urung memulai bisnis. Semestinya memulai bisnis tidak menjadi salah satu sumber ketakutan bagi setiap orang. Untuk menghilangkan ketakutan pada memulai bisnis, seseorang bisa membuat persiapan bisnis yang matang sehingga dapat menjalaninya dengan optimistis. menjadi sukses dengan memahami 7 aspek penting sebelum memulai usaha.
1. Memahami Konsep
Sebelum memulai suatu usaha maka hal yang terpenting adalah pemahaman kita akan konsep produk atau jasa yang akan menjadi bisnis inti. Kita perlu memahami bukan hanya secara teknis produksi tetapi juga pasar dan prospek mulai daripada lingkungan yang terkecil kepada lingkungan yang terbesar. Pada topik ini dibahas secara menyeluruh aspek-aspek yang penting pada melakukan analisa atas kelayakan dan prospek produk termasuk produk-produk yang sama sekali baru dengan melihat sisi human behavior, kebutuhan pasar dan lainnya.
2. Membuat Visi dan Misi Bisnis
Setiap orang yang mau memulai bisnis harus mengetahui visi dan misi yang akan menjadi panduan seseorang untuk tetap fokus kepada tujuan bisnis dan organisasi yang awal. Seringkali suatu usaha pada saat mulai berkembang pada tahap berikutnya mengalami kegagalan karena organisasi tersebut tidak memfokuskan diri kepada peningkatan kemajuan bisnis awal tetapi terlalu banyak mencoba mengembangkan bidang usaha lain yang baru. Pada topik ini setiap orang akan belajar bagaimana membuat visi dan misi pada kaitannya dengan latar belakang pribadi dan pengetahuan usaha yang akan Kelompok Pengajian Ridho Allah rintis.
3. Winning, Positive dan Learning Attitude untuk menjadi sukses
Sikap mental merupakan kunci keberhasilan atas usaha Kelompok Pengajian Ridho Allah. there is no over night success sesuatu yang harus dicamkan daripada setiap calon “entrepreneur” karena dibutuhkan waktu, sikap tidak menyerah, proses belajar secara kesinambungan, dan melihat permasalahan secara positif yang tidak membuat kita menjadi patah semangat namun melihat setiap peluang dan belajar atas setiap kegagalan.Kelompok Pengajian Ridho Allah akan belajar untuk mengembangkan sikap-sikap diatas untuk menjadi “bisnis entrepreneur” yang sukses.
4. Perencanaan dan Strategi Bisnis yang efektif
Secara statistik hampir seluruh kegagalan bisnis kecil dan menengah disebabkan karena tidak adanya atau kurang efektifnya perencanaan bisnis yang dibuat. Asumsi-asumsi seperti kapasitas produksi, tingkat utilisasi produksi, proyeksi kenaikan harga dan biaya dan aspek lainnya pada perencanaan bisnis haruslah menggambarkan secara akurat realitas pasar atau praktek yang ada pada suatu industri. Sistematika perhitungan dan proyeksi pendapatan dan biaya harus dibuat secara tepat sehingga membantu setiap calon pengusaha untuk menghitung secara akurat kebutuhan modal investasi dan modal kerja termasuk struktur biaya untuk persiapan awal, tahap percobaan, produksi secara komersial, inventori, distribusi, pemasaran, administrasi, sumber daya manusia dan juga komponen pendapatan usaha yang terdiri dari pendapatan inti dan tambahan. Pemahaman yang baik atas hal ini juga akan membantu calon entrepreneur untuk dapat mengindentifikasi potensi resiko bisnis, manajemen dan keuangan dan membuat langkah-langkah pengendalian untuk dapat menghindari setiap resiko tersebut.
5. Pengetahuan dasar Manajemen, Organisasi dan Sistem Resiko Manajemen.
Setiap usaha dari yang paling kecil sekalipun membutuhkan manajemen yang baik untuk memastikan proses pemasaran, produksi, distribusi dan penjualan berlangsung dengan baik. Sistem manajemen yang buruk akan mengakibatkan adanya biaya yang tidak perlu seperti:
- bahan baku yang terbuang,
- pekerja yang tidak produktif karena pengawasan yang tidak efektif dan deskripsi pekerjaan yang tidak jelas,
- koordinasi dan komunikasi antar anggota yang tidak efektif sehingga banyak keputusan yang terlambat,
- perekrutan anggota yang tidak efektif sehingga banyak anggota yang keluar masuk dan membuang banyak waktu dan biaya,
- pelatihan yang tidak baik sehingga produktivitas anggota yang rendah dan masih banyak lagi permasalahan organisasi.
Pada topik ini kita akan memberikan pengetahuan dasar dan aspek-aspek yang sangat penting yang harus dipelajari oleh calon bisnis entrepreneur untuk menghindari resiko manajemen yang dapat menyebabkan kegagalan usaha.
6. Optimalisasi sumber daya manusia maka 50% usaha akan berhasil.
Sumber Daya Manusia atau SDM merupakan salah satu kunci keberhasilan usaha yang sangat penting. Banyak pakar yang menyadari bahwasanya untuk memulai usaha seringkali apabila kita merekrut anggota yang tepat dan berpotensi sangat baik dapat menutup kelemahan manajemen, organisasi dan sistim pada jangka pendek. Dengan SDM yang tepat maka kita sudah setengah jalan untuk menjadi sukses. Topik ini akan membantu kita untuk memahami kriteria anggota yang baik dan sesuai dengan kebutuhan usaha, manajemen SDM secara umum termasuk sistim penilaian kinerja anggota sehingga setiap anggota akan merasa puas dan juga bagaimana memotivasi anggota baik secara psikologi umum maupun dengan sistim insentif untuk mengoptimalkan kinerja anggota.
7. kreativitas, kepemimpinan dan proses pembuatan keputusan
Pada memulai usaha umumnya setiap calon entrepreneur akan mengalami banyak permasalahan dan krisis. Banyak kegagalan terjadi karena kurangnya:
- Kreativitas,
- Kepemimpinan
- Pembuatan keputusan
yang tepat untuk mencari solusi yang baik. Kreativitas seperti “thinking outbox” atau kemampuan melakukan analisa permasalahan di luar pemahaman yang sudah ada dan mencari alternatif solusi yang kreatif akan sangat membantu usaha Kelompok Pengajian Ridho Allah untuk berhasil.
Kreativitas juga akan sangat membantu Kelompok Pengajian Ridho Allah untuk menyesuaikan produk-produk agar dapat diterima oleh pasar dan juga melihat berbagai peluang pada membangun usaha Kelompok Pengajian Ridho Allah.
Kepemimpinan sangat penting pada krisis untuk membuat setiap anggota dan semua orang yang terlibat pada usaha Kelompok Pengajian Ridho Allah percaya bahwasanya tidak panik, menjadi tempat last resort solusi atas semua permasalahan dan menjadi panutan.
Proses Pembuatan Keputusan akan membantu pada mencari alternatif solusi dan memilih yang terbaik untuk usaha dan organisasi Kelompok Pengajian Ridho Allah. Pada topik ini Kelompok Pengajian Ridho Allah akan mendapatkan cara-cara mengembangkan kreativitas usaha Kelompok, ciri-ciri kepemimpinan yang cocok dengan latar belakang pribadi Kelompok Pengajian Ridho Allah dan bagaimana proses yang benar pada membuat keputusan pada setiap permasalahan.
8. Pengetahuan dasar pengelolaan keuangan dan pembiayaan
Pemahaman atas aspek ini adalah sangat penting pada perkembangan usaha Kelompok Pengajian Ridho Allah. Seringkali produksi terganggu karena pengelolaan keuangan yang tidak baik seperti kekurangan dana untuk:
- pembelian bahan baku,
- alat-alat produksi dan lainnya.
Pada topik ini akan dibahas pengetahuan dasar atas cash flow atau arus kas yang seperti darah pada tubuh manusia, biaya pendanaan, pembiayaan modal kerja dan investasi, struktur modal, aset Yayasan, penyertaan modal dan lainnya.
9. Pemasaran, pelayanan dan product brand
Pemasaran merupakan ujung tombak keberhasilan penjualan produk atau jasa. Sebaik apapun produk atau jasa tanpa pemasaran yang baik maka akan sangat sukar untuk meningkat penjualan dan keuntungan usaha.
Di lain pihak tanpa pelayanan yang baik kepada pelanggan maka akan sangat sukar suatu usaha untuk memperoleh pelanggan yang loyal yang merupakan kunci perkembangan usaha.
Dengan pelanggan yang loyal maka pekerjaan pemasaran akan lebih mudah karena pelayanan yang baik akan menciptakan product brand yang baik kepada calon pelanggan baru.
Juga akan dibahas secara menyeluruh semua aspek penting pada membuat strategi pemasaran, identifikasi pelayanan yang dibutuhkan pelanggan dan bagaimana menciptakan product brand dan efeknya kepada keberhasilan
BAB II
LANGKAH DAN RESIKO MENUJU SUKSES
Kalau ditanya, siapa yang ingin sukses, tentu tidak ada satu orang pun yang menjawab tidak. Sukses—entah di bidang apapun—menjadi dambaan setiap orang. Namun, faktanya, hanya sedikit orang yang bisa sukses. Mengapa, karena banyak hambatan terutama dari sisi mental dan psikologis serta pola pikir, sehingga hanya sedikit yang punya keberanian untuk mengambil jalan yang tidak biasa.
Umumnya, untuk bisa bergerak di dunia usaha, orang banyak takut gagal, takut rugi dan kehilangan uang, sehingga tidak pernah memulai. Pada akhirnya, orang lebih banyak memilih jalan aman saja, seperti menjadi orang gajian atau karyawan. Sebagian, tidak mau keluar dari comfort zone.
Berdasarkan pengalaman mereka yang memulai usaha, meski dari titik nol sekalipun, ternyata kesuksesan bisa sangat dekat, selama ada kemauan dan mengetahui bagaimana cara untuk sukses. Berikut petikannya:
beratkah memulai usaha pertama? Mengapa?
Memulai Usaha menurut kita lebih mudah daripada mempertahankan dan mengembangkannya. Karena ketika memulai usaha kita bisa start dari mana saja, sesuai kemampuan. Tetapi pada mengembangkan Usaha banyak hal yang perlu diantisipasi, harus lebih inovatif dan kreatif, harus tahan banting, lebih banyak tantangan. Apalagi telah muncul banyak persaingan usaha.
memulai usaha cukup berat?
Memang, sangat diperlukan keberanian ekstra, apalagi bagi mereka yang sudah mapan dan berada di zona aman (comport zone) seperti menjadi staff atau karyawan dengan posisi enak dan pendapatan aduhai. Maka memulai usaha pasti penuh keraguan dan pertimbangan. Bagi yang belum bekerja pun memerlukan ekstra keberanian dan tenaga, karena dunia usaha penuh tantangan. Mungkin itu sebabnya kurang dari 1% dari 2,5 juta angkatan kerja setiap tahun, yang mau jadi pengusaha. Kenyataannya dinegara kita, umumnya banyak orang tidak cukup punya keberanian menjadi pengusaha. Padahal apa yang ditakutkan untuk dicoba. Menjadi pengusaha berarti kita bisa menjadi diri kita sendiri, mengatur waktu kita sendiri, mendapatkan hasil sesuai upaya dan usaha kita sendiri. Pengusaha adalah manusia paling merdeka.
berpeluang sukses pada membangun usaha yang memulai dari nol?
Semua orang berpeluang menjadi pengusaha sukses, asalkan mau memulai. Melangkah yang pertama selalu lebih berat. Lihatlah Bayi, sekali mulai berjalan mau berlari. Tidak akan ada seribu langkah kalau tidak ada langkah pertama, bukan? Banyak pengusaha yang kini berhasil, dulu memulai usaha mereka dari Nol, tengoklah misalnya Bob Sadino, kita tidak harus menjadi seperti Bob Sadino, tetapi memang diperlukan cara berfikir ‘out of the box’ untuk memulai usaha agar cepat berhasil. Sementara yang ikut-ikutan biasanya jalannya merayap.
Apa yang membuat orang bisa sukses?
Yang membedakan orang sukses dengan orang gagal hanya satu hal: mind set atau pola pikir. Kita percaya kita adalah apa yang kita pikir tentang diri kita. Sekali kita berfikir kita akan gagal, kita pasti gagal. Sebalinya, kalau kita berfikir kita akan sukses, tentu kita akan berupaya melakukan yang terbaik dengan sungguh-sungguh. Sementara orang sukses melihat hambatan sebagai tantangan, dari tantangan orang sukses melihat peluang, orang gagal seringkali hanya melihat hambatan.
Berapa persen peluang untuk sukses?
ditanya prosentase peluang sukses, karena tergantung dari banyak hal. Yang pasti yang kita tahu, menjadi pengusaha itu bukan karena bakat, bukan karena keturunan, dan bukan karena pendidikan. Semua orang berpeluang untuk sukses, tidak terkecuali, asalkan mau dan tahu bagaimana cara melakukannya agar berhasil. banyak referensi yang bisa didapatkan, banyak buku-buku, cerita pengalaman orang-orang sukses. pengalaman adalah guru yang terbaik. Dari pada melakukan kesalahan yang sama, kenapa tidak belajar dari kegagalan orang lain, sehingga setiap generasi akan lebih baik dari generasi sebelumnya.
contoh, orang memulai usaha dari nol kemudian sukses?
banyak sekali, sulit menyebutkan satu-persatu. Dari beberapa yang kita tahu ada Bob Sadino, Dudy Sugkita pemilik Restaurant Ponyo, Martha Tilaar group, Anton Priyatono Bus BIMA–ARIMBI, Prya Ramadhani dengan Radio PRAMBORSnya, dan masih banyak lagi.
Bagaimana bisa sukses? Apa yang dilakukan sehingga bisa sukses?
Umumnya mereka memang orang-orang yang tangguh, yang berpikir diluar kebiasaan (out of the box), sehingga mampu melihat peluang. Mereka itu pembuat perubahan, dinamis dan anti kemapanan, memiliki pengetahuan dan pengalaman, menyukai tantangan, berani mengambil resiko, memiliki daya tahan tinggi , pantang menyerah, rajin mengikuti perkembangan disekeliling, mengetahui kebutuhan pasar, memiliki keyakinan akan usaha. Mereka juga mengelola SDM dengan baik.
Pelajaran apa yang bisa diambil dari contoh Ini?
perlu mengasah kekuatan mental, konsentrasi, ketekunan, kegigihan, inisiatif, menjaga reputasi, tidak hanya meniru apa yang dilakukan orang. Berani, optimis, belajar dari pengalaman diri sendiri dan orang lain, mengenali watak diri dan Pengelolaan diri.
benang merah dari cerita- yang memulai usaha dari nol kemudian sukses?
Adanya otot mental yang kuat, terutama di saat sulit,Tidak panik,berfikir positif, memanfaatkan sumberdaya yang ada, dan selalu mampu menghadapi hambatan yang mereka hadapi.
apa saja tahapan untuk sukses ketika memulai usaha?
1. Pertama tama, kita putuskan usaha apa yang kita mau lakukan, tentu yang sesuai minat, bakat, keahlian ataupun kemampuan kita dan dibutuhkan oleh pasar.
2. Membuat perencanaan yang matang. harus percaya bahwa menjadi pengusaha dan usaha pilihan serta rencana itu adalah tepat untuk kita.
3. kontrol pikiran, karena fikiran yang akan mempengaruhi tindakan atau langkah, apakah kita akan sampai ketempat tujuan.
4. Membuat sebuah visi jauh kedepan, karena hal ini yang akan memotivasi kita, sehingga tidak ‘loyo’ ditengah jalan.
5. Menentukan tujuan dan target sesuai kurun waktu. Tujuan atau sasaran hendaknya spesifik, terukur, terjangkau (realistis), menginspirasi dan terlibat secara emosional, sehingga kalau berhasil akan membahagiakan serta tidak ingin sampai kita gagal.
6. Fokus. Setelah memutuskan pilihan usaha sebaiknya fokus terhadap usaha tersebut
7. Membangun sistem dan kelola SDM dengan baik.
8. Mengembangkan sikap, kepemimpinan jenis mana yang akan dipilih. tentunya harus kerja keras dan sekaligus kerja cerdas, bagaimana dapat mengembangkan usaha sesuai arah yang ditetapkan.
9. Tidak pernah menyerah, karena kita percaya bahwa pemenang tidak pernah menyerah. Penyerah tidak pernah menang.
Apa umumnya yang bisa membuat orang gagal?
orang gagal karena tidak memiliki kualitas mental sebagaimana yang dimiliki oleh orang-orang sukses. Semua itu berawal dari pola pikir mereka memang berbeda.
Bisakah pengalaman sukses itu ditransfer?
Pengalaman sukses sangat bisa ditransfer, asal kita mau belajar dari pengalaman orang lain, bagaimana orang tersebut bisa berhasil, ataupun gagal. Karena tidak perlu mengulangi kesalahan yang orang lain lakukan. Beruntung sekali sekarang ini telah banyak buku-buku referensi atau media yang menulisakan cerita dibalik sukses sesesorang, sehingga banyak hal dapat diperbaiki, dipercepat. Oleh karena itulah generasi yang baru akan lebih baik dari generasi sebelumnya.
RESIKO dalam BERUSAHA
Resiko-Resiko usaha yang akan dihadapi oleh Divisi Usaha YRA
1. Resiko Modal kerja/usaha
Resiko modal kerja/usaha secara garis besar didefinisikan sebagai kemungkinan kerugian yang timbul akibat kegagalan anggota ataupun counter-party untuk memenuhi kewajibannya terhadap Yayasan. Resiko modal kerja/usaha timbul pada pelaksanaan fungsi Divisi Usaha YRA dan merupakan bagian dari aktivitas Yayasan sehari-hari.
2. Resiko Pasar
Resiko pasar merupakan Resiko yang timbul karena adanya pergerakan variabel pasar dari portofolio yang dimiliki Yayasan, yang dapat merugikan Yayasan. Variabel pasar, termasuk derivasi dari kedua jenis Resiko pasar tersebut. Resiko pasar antara lain terdapat pada aktivitas usaha serta investasi, kegiatan pembiayaan dan pendanaan, serta kegiatan pembiayaan perdagangan.
3. Resiko Operasional
adalah Resiko yang timbul antara lain akibat ketidakcukupan atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau problem eksternal yang mempengaruhi operasional Yayasan. Resiko operasional dapat berdampak pada kerugian keuangan secara langsung, ataupun secara tidak langsung berupa kerugian potensial atau hilangnya kesempatan memperoleh keuntungan.
4. Resiko Hukum
adalah kemungkinan penyimpangan hasil karena Yayasan tidak mematuhi peraturan dan norma yang berlaku. Di lingkungan Yayasanan dinamai dengan resiko kepa Allah.
5. Resiko Reputasi
berkaitan dengan potensi hancurnya nama baik Yayasan karena ketidak mampuan Divisi Usaha mengelola kinerja dan komunikasi dengan pihak eksternal.
6. Resiko Persaingan
persaingan antar Usaha YRA lebih terfokus pada kemampuannya pada memberikan layanan kepada anggota secara baik dan profesional dikarenakan produk-produk yang (AKAN) ditawarkan oleh Divisi Usaha YRA hampir seluruhnya bersifat homogen.
Pemetaan Resiko
Pada arti luas, pemetaan resiko pada prinsipnya merupakan penyusunan Resiko berdasarkan kelompok-kelompok tertentu sehingga manajemen dapat mengidentifikasi karakter dari masing-masing Resiko dan menetapkan tindakan yang sesuai terhadap masing-masing Resiko.
Sejalan dengan prinsip ekonomi yaitu terbatasnya sumber daya Yayasan untuk memaksimumkan nilai/modal Yayasan, pemetaan Resiko selalu dikaitkan dengan prioritas. Dengan demikian, penetapan Resiko berarti proses penetapan prioritas pada penanganan Resiko dari keseluruhan Resiko yang berhasil diidentifikasi.
Bisa saja ternyata ada Resiko yang mestinya masuk ke pada skala prioritas, namun tidak masuk pada peta Resiko karena manajemen tidak mampu mengidentifikasi Resiko tersebut.
Dasar utamanya adalah tujuan Yayasan. Semakin tinggi kontribusi Resiko yang bersangkutan terhadap tujuan Yayasan, semakin tinggi prioritas penanganan Resiko yang bersangkutan.
Tujuan Yayasan kemudian dinyatakan pada target yang merupakan besaran-besaran terukur. Sebagian besar target berkaitan dengan nilai uang atau rupiah. Ada juga target yang dinyatakan bukan pada rupiah tetapi pada besaran lain. Manajemen musti mampu mengaitkan setiap resiko terhadap target Yayasan.
Teknik Pemetaan Resiko
Resiko selalu terkait dengan dua dimensi, pemetaan yang paling tepat juga menggunakan dua dimensi yang sama. Kedua dimensi yang dimaksud adalah probabilitas terjadinya Resiko dan dampaknya bila Resiko tersebut terjadi.
- Dimensi pertama, probabilitas, menyatakan tingkat kemungkinan suatu Resiko akan terjadi. Semakin tinggi kemungkinan suatu Resiko terjadi, semakin perlu mendapat perhatian. Sebaliknya, semakin rendah kemungkinan suatu Resiko terjadi, semakin rendah pula kepentingan manajemen untuk memberi perhatian kepada Resiko yang bersangkutan. Umumnya, probabilitas dibagi pada tiga kategori : tinggi, sedang, rendah.
- Dimensi kedua berupa dampak yaitu tingkat kegawatan atau biaya yang terjadi kalau Resiko yang bersangkutan benar-benar menjadi kenyataan. Semakin tinggi kemungkinan suatu Resiko terjadi, semakin perlu mendapat perhatian khusus. Sebaliknya, semakin rendah kemungkinan suatu Resiko terjadi, semakin rendah pula kepentingan manajemen untuk mengalokasikan sumber daya untuk menangani Resiko yang bersangkutan. Umumnya, dampak dibagi pada tiga tingkat: tinggi, sedang, rendah.
Pengukuran dimensi
Ada dua dimensi : probabilitas dan dampak.
- Pengukuran probabilitas sudah dilakukan pada tahap pengukuran Resiko. Pada umumnya, pengukuran probablitas bersumber pada dua jenis data : data histories dan data prediksi. Suatu probabilitas dapat diukur dengan menggunakan data historis selama Yayasan mampu mengumpulkan data untuk penghitungan Resiko keuangan.
- Dimensi kedua : dampak. Dampak berarti beserta akibat bila Resiko benar-benar terjadi. Untuk Resiko keuangan, ukuran dari dampak sudah jelas : rupiah atau nilai uang. Maksudnya, bila Resiko keuangan jenis X terjadi, besarnya dampak bias diukur pada rupiah.Salah satunya adalah dengan ukuran VaR (value at risk). Resiko operasional misalnya, bias diukur dengan VaR. demikian juga dengan Resiko yang lain seperti Resiko strategis dan Resiko eksternalitas.
Pengelolaan Resiko
Kerangka pengelolaan Resiko di Yayasan mencakup keseluruhan lingkup aktivitas usaha Yayasan, berdasarkan kebutuhan akan keseimbangan antara fungsi pengawasan usaha yang efektif dan tata cara yang jelas pada pengelolaan Resiko.
Tujuan pengelolaan Resiko di Yayasan adalah untuk meminimalkan Resiko yang dihadapi serta mengantisipasi kerugian yang diperkirakan maupun kemungkinan kerugian yang tidak diperkirakan dari berbagai Resiko tersebut. Kerangka pengelolaan Resiko di Yayasan didasarkan kepada prinsip-prinsip dasar pengelolaan Resiko yang berlaku di seluruh lingkup aktivitas usaha. Prinsip-prinsip tersebut dievaluasi secara berkala dan, apabila diperlukan, direvisi sejalan dengan perkembangan usaha dan perubahan parameter Resiko.
Prinsip-prinsip dasar kerangka pengelolaan Resiko Yayasan dapat disarikan sebagai berikut:
- Keterpaduan Resiko dan Pengelolaan Usaha.
Strategi pengelolaan Resiko yang baik merupakan bagian tak terpisahkan dari pengelolaan usaha dan merupakan pertimbangan utama pada setiap rencana usaha, strategi dan produk yang ditawarkan oleh Yayasan.
- Pengawasan dan Pengendalian Independen.
Penilaian Resiko dilakukan baik oleh unit operasional maupun unit pengelolaan Resiko yang independen untuk menjaga integritas proses pengambilan
keputusan.
•Kejelasan Kebijakan.
Seluruh kebijakan pengelolaan Resiko dijabarkan dengan jelas dan dikomunikasikan keseluruh jajaran organisasi.
•Identifikasi dan Pengukuran.
Resiko diukur secara kuantitatif dan kualitatif menggunakan metode-metode teruji termasuk stress testing dan back testing, serta dikelola pada kerangka kerja yang jelas.
•Pelaporan.
Seluruh Resiko dipantau dan dilaporkan melalui struktur organisasi pengelolaan Resiko yang diketuai oleh Ketua Yayasan.
Organisasi pengelolaan Resiko beserta jajarannya memberikan laporan pengelolaan Resiko baik yang bersifat rutin maupun khusus, kepada Ketua Yayasan.
Fungsi pengelolaan Resiko
Fungsi pengelolaan Resiko berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Pada tahap awal, organisasi bersifat tradisional atau konvensional. Model ini merupakan perkembangan dari cara klasik pengelolaan yang sekedar membeli produk. Pada pkitangan ini, pengelolaan Resiko membutuhkan keahlian lintas disiplin. Bukan saja mereka yang memiliki keahlian lain, seperti statistic dan disiplin yang terkait dengan Resiko. Namun, pengelolaan Resiko secara tradisional masih tetap berfokus pada pengelolaan Resiko murni, yaitu Resiko yang dapat menimbulkan kerugian, tetapi tidak ada kemungkinan memunculkan keuntungan.
Karena fokus pada minimalisasi Resiko tidak selalu sejalan dengan maksimalisasi hasil, pengelolaan Resiko secara tradisional sering tidak selalu sejalan dengan maksimalisai nilai Yayasan. Model manajemen Resiko total biasanya melakukan pendekatan structural. Artinya, manajemen memilah-milah Resiko dan dan sumber Resiko berdasarkan Resikonya. biasanya mereka memilah sumber Resiko ke pada tiga komponen:
- Perangkat lunak,
- Organisasi dan
- Sumber daya manusia.
Portofolio Pinjaman
secara luas mengembangkan dua model sederhana untuk mengukur konsentrasi Resiko modal kerja/usaha pada portofolio pinjaman melebihi model subyektif secara murni atas “kita selalu siap meminjamkan sebanyak mungkin kepada peminjam ini”.
Dua model Resiko konsentrasi pinjaman
- Analisis migrasi:
suatu metode untuk mengukur Resiko konsentrasi pinjaman dengan jejak modal kerja/usaha Yayasan pada sektor-sektor khusus untuk penurunan tidak biasa. Jika peringkat modal kerja/usaha anggota Yayasan pada suatu sektor itu turun dengan jumlah yang besar daripada biasanya, membatasi pinjaman kepada sektor itu.
batasan-batasan konsentrasi: batasan-batasan eksternal dibentuk atas ukuran pinjaman masimum yang dapat dibuat bagi seorang individu. menentukan batas-batas konsentrasi atas proporsi dari portofolio pinjaman yang dapat diberikan kepada beberapa anggota dengan menilai portofolio sekarang peminjam, rencana bisnis unit operasinya, proyeksi ekonomi ekonom dan perencanaan strategiknya.
- Diversifikasi portofolio pinjaman dan teori portofolio modern
Untuk menghitung atau menirukan pengembalian pinjaman atau obligasi, maka ketua dapat menggunakan model diversifikasi portofolio untuk mengukur dan mengontrol eksposur Resiko modal kerja/usaha agregat.
Pelajaran mendasar atas teori portofolio modern adalah bahwa dengan mengambil keuntungan atas ukurannya, Yayasan dapat mendiversifikasi jumlah yang dapat dipertimbangkan atas Resiko modal kerja/usaha sepanjang pengembalian atas asset-aset yang berbeda adalah berkorelasi tidak sempurna. Diversifikasi portofolio terbaik adalah yang memenuhi syarat:
dengan Resiko minimum akan menghasilkan dan pengembalian tertentu.
dengan Resiko tertentu akan akan menghasilkan pengembalian tertinggi.
Kebanyakan manajer portofolio menginginkan untuk menerima Resiko lebih jika mereka dikompensasi dengan pengembalian diharapkan lebih tinggi.
Aplikasi parsial atas teori portofolio
Data volume pinjaman meliputi:
Laporan Yayasan atas modal kerja/usaha rasional yang dibagi.
Data ini selanjutnya menyediakan patokan pasar Yayasan dengan individual dapat membandingkan alokasi internal miliknya dengan pinjaman silang sektor-sektor pinjaman utama seperti pemberian modal kerja .
Kesimpulan
Berdasarkan pada penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Resiko usaha merupakan tingkat ketidakpastian mengenai pendapatan yang akan diterima. Semakin tinggi ketidakpastian pendapatan yang diperoleh suatu intermediasi keuangan, semakin besar kemungkinan Resiko yang dihadapi dan semakin tinggi pula premi Resiko atau hasil yang diinginkan.
Sebagai DIVISI USAHA berbasis kepercayaan sudah seharusnya Yayasan ini menerapkan sistem manajemen Resiko. Baik untuk menekan kemungkinan terjadi kerugian akibat Resiko maupun memperkuat struktur MODAL , misalnya kecukupan modal untuk meningkatkan kapasitas, posisi tawar, dan reputasinya pada membimbing anggota.
Kewajiban penerapan manajemen Resiko oleh Yayasan Ridho Allah (YRA) akan disusul oleh ketentuan kecukupan modal yang memasukkan unsur Resiko operasional dan Resiko pasar yang mengoreksi kecukupan modal dan menambah beban penghitungannya ini dinilai cukup kompleks.
Penerapan Resiko manajemen mempunyai sasaran agar setiap potensi kerugian mendatang dapat diidentifikasi oleh manajemen YRA sebelum transaksi atau pemberian Pinjaman dilakukan.
Dengan demikian keputusan melakukan suatu transaksi benar-benar sudah mempertimbangkan potensi kerugian yang mungkin timbul serta rencana pengendalian dan mitigasi atas Resikonya.
Berbagai faktor baik internal maupun eksternal dapat memengaruhi besar Resiko Yayasan ini sehingga pengendalian atas Resiko tersebut bersifat dinamis. Dengan begitu sesuai dengan perubahan portofolio Yayasan dan variable Resikonya.
BERHUTANG MENURUT PERSPEKTIF ISLAM
KONSEP berhutang menurut perspektif Islam ialah memberikan sesuatu kepada seseorang dengan perjanjian bahwa orang yang diberi pinjam itu akan membayar dengan kadar sama.
Berhutang kini menjadi persoalan biasa di kalangan masyarakat Islam. Seperti untuk pembiayaan pribadi, sekolah, mobil, pemilikan kartu modal kerja/usaha dan lain-lainya, rata-rata ia memberi maksud hutang.
Persoalan hutang dan pinjam meminjam adalah antara pembahasan yang berada pada ruang lingkup perspektif Islam dan itu terikat dengan hukum ditetapkan sebagi syarat, keterangan yang ada pada ayat al-Quran dan Hadis Nabawiyah.
Firman Allah S.W.T:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya” (Surah al-Baqarah ayat 282).
Pada ayat sama Allah melanjutkan Firman-Nya bermaksud:
“Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menulisnya dengan benar, dan janganlah penulis enggan menulisnya sebagaimana yang telah diajarkan oleh Allah, maka hendaklah ia menulis dan orang yang berhutang itu mengimlakkan (menyebutkan) mengenai apa yang ditulis itu dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan jangan ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya.
Jika berhutang itu orang lemah akalnya atau lemah keadaan dirinya atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya (penjaga) mengimlakkan butiran hutang itu dengan jujur. Persaksikanlah (urusan penulisan hutang itu) dengan dua orang saksi lelaki dari kalangan kamu, jika tidak ada dua orang lelaki, maka boleh dengan seorang saksi lelaki dan dua orang perempuan sebagai saksi yang kamu redhai supaya jika salah seorang lupa (butiran hutang piutang), maka seorang lagi boleh mengingatkannya”.
Ayat ini menjelaskan bahwa Islam membenarkan amalan berhutang dengan berbagai syarat dan peraturan supaya kezaliman di antara manusia tidak berlaku dan urusan pinjaman berlaku secara adil dan Ikhlas.
Secara dasarnya Islam membolehkan kepada seseorang untuk berhutang atas faktor yang memaksa seperti masalah kesempitan hidup. Namun begitu, perlu diperjelaskan di sini bahwa beban akan diterima si penghutang adalah berat, terutama jika hutang tidak dibayar. Lebih berat jika dia meninggal dunia pada keadaan hutang tidak dilunasi.
Orang yang memberi hutang termasuk pada golongan mereka yang berhati mulia. Mereka memberi pertolongan kepada golongan yang memerlukan dan mereka akan diberi pahala dari Allah.
Firman-Nya :
“Dan bertolong-tolonglah kamu atas tujuan kebaikan dan janganlah kamu tolong-menolong pada perkara dosa dan permusuhan.” (Surah al-Maidah ayat 2)
diperkuatkan lagi dengan sabda Rasulullah bermaksud:
“Barang siapa melapangkan dari orang mukmin kedukaan dunia, niscaya Allah akan melapangkan dia dari satu kedukaan pada hari kiamat, dan barang siapa memudahkan atas orang yang susah, niscaya Allah akan memudahkan atasnya pada urusan dunia dan akhirat” (Riwayat Muslim - 032/6250)
Ketika menjelaskan hadist ini, Imam al-Nawawi pada kitabnya Hadist 40 menyebut secara jelas satu contoh menarik yaitu mengenai adab berhutang. Beliau menyebut kemudahan kepada orang yang susah atau yang sempit jika pada urusan hutang ialah memberi tempo sewajarnya untuk pembayaran hutang selepas orang yang berhutang itu tidak berkemampuan membayarnya, malah lebih mulia lagi jika hutang itu digugurkan atau diberi beberapa kemudahan lain untuk menjelaskan hutang itu.
Rasulullah s.a.w. juga bersabda seperti yang diriwayatkan Ibn. Mas’ud:
“Seseorang Muslim yang memberi hutang kepada seorang Muslim sebanyak dua kali, seolah-olah dia bersedekah kepadanya satu kali”.
Perkara zalim pada urusan hutang piutang mesti dijauhkan seperti mengenakan riba’, faedah dan bunga yang tinggi karena ia ternyata membebankan si penghutang. Lebih parah dengan kadar bunga yang terlalu tinggi menyebabkan berlaku nilai bunga yang seharusnya dibayar semula jauh lebih tinggi daripada kadar uang dipinjam. Itu ternyata penganiayaan kepada manusia lemah dan tidak berkemampuan.
Kepada orang berhutang pula, sebaik-baiknya berusaha dengan tangan sendiri sebelum mengambil keputusan meminta-minta atau berhutang dengan orang lain. Orang yang suka berhutang seolah-olah menafikan kebolehan yang ada pada dirinya untuk berusaha sendiri mencari rezeki keperluan hidup.
Sebaik-baiknya menghindari diri daripada berhutang. Namun, apabila keadaan terlalu mendesak dan tiada jalan lain untuk memperoleh uang, maka di sinilah Islam membenarkan amalan berhutang.
Apabila sudah mulai meminjam, di jadwalkan pembayaran hutang secara teratur dan konsisten mengikut jadwal serta menepati syarat perjanjian supaya tidak menimbulkan masalah pada kemudian hari. Coba hindari mengambil kesempatan melambat-lambatkan pembayaran hutang karena ia bukan saja menyusahkan diri sendiri malah kepada orang yang memberi hutang.
Ada beberapa contoh yang diajarkan Rasulullah kepada mereka yang berhutang, sama ada yang suka berhutang, melambat-lambatkan pembayaran hutang atau mereka yang tidak membayar hutangnya.
Rasulullah turut memberi ingatan bahwa jika seseorang itu meninggal dunia, sedangkan dia masih berhutang, dosanya tidak akan diampunkan walaupun dia mati syahid pada peperangan.
Seseorang yang berhutang hendaklah berikhtiar dan berusaha membayar hutang yang dipinjamnya karena hutang itu wajib dibayar. Tindakan menunda atau melewatkan pembayaran hutang dilarang karena itu satu kezaliman.
Rasulullah s.a.w. bersabda yang maksudnya:
“Penundaan hutang bagi mereka yang mampu adalah satu kezaliman.” (Riwayat Bukhari - 41/585)
Sementara itu, sudah menjadi kebiasaan pada masyarakat kita ketika menurunkan jenazah dari atas rumah menuju ke tanah perkuburan, ahli waris si mati akan mengumumkan kepada orang yang hadir supaya menuntut dan memberi tahukan mana-mana hutang yang ditinggalkan si mati.
Berkaitan hutang juga, roh si mati hanya akan bebas selepas segala hutangnya dilunasi oleh ahli warisnya atau sesiapa yang sanggup mengambil alih untuk melunasi hutangnya itu seperti perseorangan maupun baitulmal.(cileungsi 25 maret 2008 sebagai bahan referensi dan renungan pada penulisan ini-Redaksi-)
Selengkapnya dijelaskan dipada surah Al-Baqarah ayat 282 tentang hutang adalah sbb:
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu menjalankan sesuatu urusan dengan hutang piutang yang diberi tempo hingga ke suatu masa yang tertentu, maka hendaklah kamu menulis (hutang dan masa bayarannya) itu. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menulisnya dengan adil (benar). Dan janganlah seseorang penulis enggan menulis sebagaimana Allah telah mengajarkannya. Oleh itu, hendaklah ia menulis dan hendaklah orang yang berhutang itu merencanakan (isi surat hutang itu dengan jelas). Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Allahnya, dan janganlah ia mengurangkan sesuatu pun dari hutang itu. Kemudian jika orang yang berhutang itu bodoh atau lemah atau ia sendiri tidak dapat hendak merencanakan (isi surat itu), maka hendaklah di rencanakan oleh walinya dengan adil (benar) dan hendaklah kamu mengadakan dua orang saksi lelaki dari kalangan kamu. Kemudian kalau tidak ada saksi dua orang lelaki, maka bolehlah, seorang lelaki dan dua orang perempuan dari orang-orang yang kamu setujui menjadi saksi, supaya jika yang seorang lupa dari saksi-saksi perempuan yang berdua itu maka dapat diingatkan oleh yang seorang lagi. Dan janganlah saksi-saksi itu enggan apabila mereka dipanggil menjadi saksi. Dan janganlah kamu jemu menulis perkara hutang yang bertempo masanya itu, sama ada kecil atau besar jumlahnya. Yang demikian itu, lebih adil disisi Allah dan lebih membetulkan (menguatkan) keterangan saksi, dan juga lebih hampir kepada tidak menimbulkan keraguan kamu. Kecuali perkara itu mengenai perniagaan tunai yang kamu edarkan sesama sendiri, maka tiadalah salah jika kamu tidak menulisnya. Dan adakanlah saksi apabila kamu berjualbeli. Dan janganlah mana-mana jurutulis dan saksi itu disusahkan. Dan kalau kamu melakukan (apa yang dilarang itu), maka sesungguhnya yang demikian adalah perbuatan fasik (durhaka) yang ada pada kamu. Oleh itu hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah dan (ingatlah), Allah (dengan keterangan ini) mengajar kamu dan Allah sentiasa Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu.
BAB III
NALURI DAN INTUISI
dalam
MENJALANKAN EKONOMI ISLAM
(versi YAYASAN RIDHO ALLAH)
Allah Yang Maha Pencipta telah menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, yang tidak saja telah dilengkapi dengan HASRAT/KEINGINAN serta NALURI/INTUISI, akan tetapi juga dilengkapi dengan AKAL/ PIKIRAN/ NALAR/ LOGIKA serta KALBU/HATI-NURANI, sehingga dalam melakukan setiap perbuatan TIDAK HANYA dengan mengikuti HASRAT/- KEINGINAN serta NALURI/INTUISI begitu saja, akan tetapi juga dengan menggunakan AKAL/ PIKIRAN/ NALAR/ LOGIKA serta KALBU/ HATI-NURANI untuk terlebih dahulu menentukan TUJUAN (OBJEKTIF) dari melakukan perbuatan yang bersangkutan SEBELUM melakukannya.
Ketahuilah bahwa NALURI/INTUISI digerakkan oleh HASRAT/KEINGINAN, sedangkan HASRAT/KEINGINAN akan menjadi "liar" bila tidak dikendalikan dengan AKAL-SEHAT/- PIKIRAN-JERNIH, yaitu AKAL/ PIKIRAN/ NALAR/ LOGIKA yang TIDAK DIPENGARUHI oleh HASRAT/KEINGINAN akan tetapi DITUNJANG oleh KALBU/HATI-NURANI.
Malaikat tidak dilengkapi dengan HASRAT/KEINGINAN, namun dilengkapi juga dengan AKAL/ PIKIRAN/ NALAR/ LOGIKA serta NALURI/INTUISI, akan tetapi oleh karena tidak ada HASRAT/ KEINGINAN yang akan mempengaruhi, maka AKAL/ PIKIRAN/ NALAR/ LOGIKA serta NALURI/INTUISI akan SELALU MENGARAH KE TUJUAN (OBJEKTIF) dari setiap perbuatan yang akan dilakukan, yaitu PENGABDIAN kepada Allah Yang Maha Kuasa SEMATA-MATA.
Iblis diberi HASRAT/ KEINGINAN, akan tetapi tidak dianugerahi AKAL/ PIKIRAN/ NALAR/ LOGIKA sehingga pada melakukan setiap perbuatan hanya berdasarkan NALURI/ INTUISI yang digerakkan oleh HASRAT/ KEINGINAN, yaitu untuk selalu MEMPENGARUHI MANUSIA agar ikut melakukan segala perbuatan yang dilakukannya.
Binatang malah hanya diberi NALURI/ INTUISI, sehingga setiap melakukan suatu perbuatan hanya berdasarkan NALURI/ INTUISI pada saat akan melakukan perbuatan yang bersangkutan.
Walaupun manusia adalah makhluk yang paling sempurna, namun yang menentukan tinggi rendahnya derajat kemanusian adalah kondisi "kesehatan-akal/ kejernihan pikiran" dari manusia yang bersangkutan. Bilamana pada suatu saat AKAL/ PIKIRAN/ NALAR/ LOGIKA seseorang sudah sangat dipengaruhi oleh HASRAT/KEINGINAN untuk melakukan suatu perbuatan, maka pada saat itu "kesehatan-akal/ kejernihan pikiran" berada pada kondisi yang “sangat parah”, sehingga AKAL/ PIKIRAN/NALAR/ LOGIKA tidak akan dapat berfungsi dengan baik dan HASRAT/KEINGINAN dengan segera akan mendorong orang yang bersangkutan untuk melakukan perbuatan yang bersangkutan dengan segera pula (secara SPONTAN) berdasarkan NALURI/INTUISI yang ada, tanpa mempertimbangkan TUJUAN melakukannya.
Demikianlah, sehingga ada orang yang pada suatu saat sampai melakukan perbuatan yang lebih buas dari binatang yang paling buas sekalipun, sehingga derajat kemanusiannya pada saat itu menjadi paling rendah. Penyebabnya tidak lain karena AKAL/ PIKIRAN/ NALAR/LOGIKA orang yang bersangkutan sudah tidak berfungsi sama sekali untuk mengendalikan HASRAT/ KEINGINAN-nya,
sehingga akibatnya HASRAT/KEINGINAN-nya-lah yang mengendalikan dirinya untuk berbuat apapun untuk memenuhi HASRAT/KEINGINAN-nya itu.
Kemampuan menggunakan AKAL/ PIKIRAN/NALAR/ LOGIKA untuk mengendalikan HASRAT/ KEINGINAN juga terlihat sangat berperan pada diri seorang olah-ragawan pada keberhasilannya memenangkan suatu pertandingan olah-raga. Setiap olah-ragawan pasti mempunyai HASRAT/ KEINGINAN untuk memenangkan setiap pertandingan olah-raga yang dihadapinya. HASRAT/ KEINGINAN tersebut akan memacu NALURI/ INTUISI yang kemudian menjadi dasar untuk melakukan sesuatu terhadap lawannya.
Sering kita lihat seorang olah-ragawan kalah pada suatu pertandingan karena hanya mengikuti NALURI/ INTUISI. Oleh karena itu NALURI/ INTUISI saja tidak cukup bagi seorang olah-ragawan untuk memenangkan setiap pertandingan olah-raga. Olah-ragawan yang bersangkutan juga HARUS menggunakan AKAL/ PIKIRAN/ NALAR/ LOGIKA untuk MEMPELAJARI secepat kilat kondisi lawannya
dan dengan segera menentukan tindakan yang paling tepat untuk dilakukannya agar berhasil memenangkan pertandingan, sedangkan memenangkan pertandingan adalah merupakan TUJUANnya (OBJEKTIF-nya) mengikuti pertandingan.
Topik ini adalah salah satu topik yang DIBICARAKAN pada “Pendidikan Bisnis” yang kita selenggarakan, karena “Naluri/ Intuisi Bisnis” saja tidak cukup untuk berhasil pada “Menjalankan Usaha (Bisnis)”. Sekurang-kurangnya ada 2 hal yang dibicarakan pada setiap topik dengan penekanan pada PERBEDAANNYA. Bila hal yang satu “berwarna hitam” dan hal yang lainnya “berwarna putih”, maka pada suatu saat akan timbul situasi dan kondisi yang “tumpang tindih” sehingga timbul hal baru yang “berwarna abu-abu (GREY AREA)”.
Ketahuilah bahwa setiap GREY AREA adalah “daerah bermasalah”, sehingga tanpa mengetahui PERBEDAAN-nya, maka pada situasi dan kondisi tertentu akan SULIT untuk MENENTUKAN SIKAP dengan TEGAS kapan harus berwarna hitam” dan kapan harus “berwarna putih”, pada hal sangat diperlukan agar berhasil pada mengatasi masalah yang bersangkutan.
PERAN dan KIAT YAYASAN RIDHO ALLAH MEMAJUKAN EKONOMI ISLAM
Islam sebagai ad-din telah mendidik umatnya agar selalu hidup produktif dan penuh vitalitas kerja dan amal. Hal ini bermakna bahwa Islam, bukan agama orang pemalas, tapi justru sebaliknya umat Islam dipacu untuk mencari kebahagiaan hidup akhirat dengan tidak melupakan kebahagiaanya di dunia. Ini terbukti dengan disyariatkan zakat, haji serta dianjurkannya bershadaqah dan untuk itu perlu harta dan material. Hal itu didapatkan melalui usaha dan kerja keras yang dilkitassi ilmu pengetahuan, iman serta kejujuran.
Begitulah Islam menata umatnya agar selalu berbagi rasa dengan orang lain, dapat pula membagi waktu antara kepentingan dunia dan akhirat, dan ini merupakan keuniversalan ajaran Islam. Untuk itu, sebenarnya umat Islam perlu mencari dan mengumpulkan harta, perlu jabatan yang strategis. Hanya saja untuk kepentingan suatu tujuan, sebab tanpa nilai ajaran Allah Subhanahu wa Ta'ala, pasti manusia hilang kendali hidup dan akhirnya mendapatkan kesesatan. Selain itu kita juga diingatkan agar selalu “menabung” ibadah demi kepentingan akhirat. Justru itu kita diharuskan untuk selalu adil pada jabatan, ikhlas pada menerima dan memberi nikmat Allah dan berlapang hati atas seluruh karunia-Nya serta jujur pada setiap tindak perbuatannya.
Karena perlunya keseimbangan hidup dunia dan ukhrawi, maka kita harus senantiasa menjadikan kerja memenuhi kebutuhan hidup ini sebagai ibadah dan dilkitasi oleh niat cari ridho Allah. Dengan demikian dapat mendorong kita untuk selalu optimis pada setiap tindakan produktif pada setiap hasil kerja, pada gilirannya jadilah sebagai tabungan amal menyongsong hari kemudian. Begitulah pada menata hidup kita agar selalu membagi kepentingan anatara dunia dan akhirat. Agar hidup penuh arti, mendapat barokah dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Karena itulah setiap pemanfaatan harta sesuai dengan perintah-Nya sehingga nikmat dapat mendatangkan manfaat bagi kita, juga bagi orang lain, yang pada gilirannya kita pun dapat menempatkan kehidupan yang seimbang antara keperluan material dunia, serta kebutuhan rohaniyah ukhrawi.
YAYASAN RIDHO ALLAH MENUJU EKONOMI ISLAM
Melihat perlunya umat Islam memanfaatkan seluruh potensi harta yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala agar tidak sia-sia, atau tidak dimanfaatkan pada proporsi sebenarnya, maka salah satu upaya untuk itu didirikanlah berbagai bentuk sistem DIVISI USAHA-Yayasan Ridho Allah menuju ekonomi Islam.
Pada dasarnya perkembangannya Yayasan Ridho Allah tidaklah besar Namun, problema yang muncul adalah sangat sedikit sekali umat yang berminat menanamkan modalnya pada Yayasan Islam. Barangkali hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan umat tentang bagaimana sistem Islam yang sebenarnya, atau karena minimnya promosi. Kondisi ini harus didukung SDM (Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Material), justru itu bagi kita yang memiliki harta, tentunya perlu memikirkan sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi umat ini, sebagai upaya memperbaiki sistem ekonomi kita. Tentunya peranan ini perlu mendapat perhatian kita, dimana DIVISI USAHA-Yayasan Ridho Allah ini pun harus berani mengikuti sistem yang Islami. Namun, Yayasan Ridho Allah sebagai kekuatan Ekonomi (nantinya) penerima dan pendistribusi harta kepada umat yang berhak, tentunya tidak boleh kaku pada ketentuan haul dan nisab saja, tetapi harus pula berani menjemput dan menggulirkan bola.
Yang paling perlu tentunya bagaimana menjadikan DIVISI USAHA-Yayasan Ridho Allah menjadi salah satu kebangkitan ekonomi umat, sehingga umat melihat dengan jelas hasil dari pendistribusian usaha yang mereka berikan. Untuk itu perlulah kita membuka diri, sehingga Yayasan Ridho Allah sebagai tempat deposito, menabung dan investasi untuk dunia dan akhirat kita.
Sebagai konsekuensi menyahuti DIVISI USAHA-Yayasan Ridho Allah menuju ekonomi Islam ini, kita mengajak seluruh anggota Pengajian Ridho Allah untuk mencintai dan mendukung keberadaannya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Yayasan ini akan terbuka dan jujur kepada anggota, dengan demikian perbaikan kehidupan anggota ini pun sedikit demi sedikit dapat kita tingkatkan.
PARTISIPASI SELURUH ANGGOTA
Secara nyata kehadiran DIVISI USAHA-Yayasan Ridho Allah Hal ini dilatarbelakangi oleh kondisi masyarakat yang terlanjur kurang yakin dan ini perlu mendapat perhatian dari para pengelola dan pemikir di -Yayasan Ridho Allah-. lebih menfokuskan programnya pada pemberian informasi tentang sistem ekonomi Islam. Begitu juga kepada para anggota agar selalu menyampaikan amanah ini dengan selalu menjelaskan kelebihan sistem ekonomi Islam, versi yayasan Ridho Allah dengan begitu akan semakin mapanlah -Yayasan Ridho Allah-menuju ekonomi Islam, menuju masyarakat Adil dan Makmur
ISLAM DAN ILMU EKONOMI
Sejak adanya kehidupan manusia di permukaan bumi, hajat untuk hidup secara kooperatif di antara manusia telah dirasakan dan telah diakui sebagai faktor esensial agar dapat survive pada kehidupan. Seluruh anggota manusia bergantung kepada yang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Ketergantungan mutualistik pada kehidupan individu dan sosial di antara manusia telah melahirkan sebuah proses evolusi gradual pada pembentukan sistem pertukaran barang dan pelayanan. Dengan semakin berkembangnya peradaban manusia dari zaman ke zaman, sistem pertukaran ini berevolusi dari aktivitas yang sederhana kepada aktivitas ekonomi yang modern.
Bisnis atau berusaha sebagai bagian dari aktivitas ekonomi selalu memegang peranan vital di pada kehidupan manusia sepanjang masa, sehingga kepentingan ekonomi akan mempengaruhi tingkah laku bagi semua tingkat individu, sosial, regional, keluarga, dan interkeluarga. Umat Islam telah lama terlibat pada aktivitas ekonomi, yakni sejak lima belas abad yang silam. Fenomena tersebut bukanlah suatu hal yang aneh, karena Islam menganjurkan umatnya untuk melakukan kegiatan bisnis (berusaha) guna memenuhi kebutuhan sosial-ekonomi mereka. Rasulullah Shallullahu Alaihi wa Sallam sendiri terlibat di pada kegiatan bisnis selaku pedagang bersama istrinya Khadijah.
Al Quran sebagai Kitab Suci Umat Islam bukan hanya mengatur masalah ibadah yang bersifat wajib, tetapi juga memberikan petunjuk yang sempurna (komprehensif) dan abadi (universal) bagi seluruh umat manusia.
Al Quran mengandung prinsip-prinsip dan petunjuk-petunjuk yang fundamental untuk setiap permasalahan manusia, termasuk masalah-masalah yang berhubungan dengan aktivitas ekonomi. Prinsip-prinsip ekonomi yang ada pada berbagai ayat di Al Qur’an dilengkapi dengan sunah-sunah dari Rasulullah melalui berbagai bentuk Al Hadits dan diterangkan lebih rinci oleh para fuqaha pada saat kejayaan Dinul Islamiyah baik pada bentuk Al Ijma maupun Al Qiyas.
Namun sejak abad ke 15 hingga pertengahan abad ke 20 Masehi, kontribusi Islam pada pemikiran ekonomi seakan hilang ditelan peradaban dunia sehingga tidak ditemukan buku-buku sejarah pemikiran Ekonomi Islam. Adalah sebuah ironi, bahwa Adam Smith, yang dikenal sebagai “Bapak Ilmu Ekonomi”, pada bukunya The Wealth of Nations (tahun 1766), menjelaskan bahwa perekonomian yang maju ketika itu adalah perekonomian Arab yang dipimpin Muhammad dan Para Khalifa ur Rasyidin (pada buku tersebut disebut sebagai Mahomet and his immediate successors). Lebih ironis lagi, jika kita simak, ternyata judul buku Adam Smith tersebut merupakan saduran dari buku Imam Abu Ubayd, yaitu “Al-Amwal” (865).
Ironi lainnya, adalah, ketika Samuelson pada buku teks Economics edisi 7, menyebutkan bahwa asal muasal Ilmu ekonomi adalah Bible (Injil), tidak satupun ekonom (pakar ekonomi) yang bereaksi. Sementara itu, ketika Ilmuwan Islam mengangkat kembali Ilmu Ekonomi Islam dengan Al Qur’an dan Al Hadits sebagai sumber rujukan utama, sebagian besar ekonom, termasuk ekonom muslim, spontan bereaksi menentang keberadaan Ekonomi yang berdasarkan ajaran Islam Islam tersebut.
Sementara itu, seorang ilmuwan Barat, C.C. Torrey pada disertasinya yang berjudul “The Commercial Theological Terms in the Koran” menyatakan bahwa Al Quran menggunakan terminology bisnis sedemikian ekstensif.
Ditemukan 20 (dua puluh) macam terminology bisnis pada Al Quran serta diulang sebanyak 370 kali pada berbagai ayat (Mustaq Ahmad, 1995).
Penggunaan terminology bisnis (ekonomi) yang sedemikian banyak, menunjukkan sebuah manifestasi adanya spirit bersifat komersial pada Al Quran.
Jika kita simak dengan seksama, menurut ilmu ekonomi merupakan warisan peradaban manusia yang dapat diibaratkan sebagai bangunan bertingkat, dimana setiap kelompok telah memberikan kontribusi pada zamannya masing-masing pada mendirikan bangunan tersebut.
Kegiatan sosial-ekonomi (muamalah) pada Islam mempunyai cakupan luas dan fleksibel, serta tidak membedakan antara Muslim dan Non Muslim. Kenyataan ini tersirat pada suatu ungkapan yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali, yaitu “pada bidang muamalah, kewajiban mereka adalah kewajiban kita dan hak mereka adalah hak kita”. Pada segenap aspek kehidupan bisnis dan transaksi, dunia Islam mempunyai sistem perekonomian yang berbasiskan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam yang bersumber dari Al Quran dan Hadits serta dilengkapi dengan Al Ijma dan Al Qiyas. Sistem perekonomian Islam, saat ini lebih dikenal dengan istilah Sistem Ekonomi Islam.
Sistem Ekonomi Islam mempunyai beberapa tujuan, yakni:
1. Kesejahteraan Ekonomi pada kerangka norma moral Islam (dasar pemikiran QS. Al- Baqarah ayat 2 & 168, Al-Maidah ayat 87-88, Al-Jumu’ah ayat 10);
2. Membentuk masyarakat dengan tatanan sosial yang solid, berdasarkan keadilan dan persaudaraan yang universal (Qs. Al-Hujuraat ayat 13, Al-Maidah ayat 8, Asy-Syu’araa ayat 183)
3. Mencapai distribusi pendapatan dan kekayaan yang adil dan merata (QS. Al-An’am ayat 165, An-Nahl ayat 71, Az-Zukhruf ayat 32);
4. Menciptakan kebebasan individu pada konteks kesejahteraan sosial (QS. Ar-Ra’du ayat 36, Luqman ayat 22).
Ekonomi Islam yang merupakan bagian dari sistem perekonomian Islam, memiliki karakteristik dan nilai-nilai yang berkonsep kepada “amar ma’ruf nahi mungkar” yang berarti mengerjakan yang benar dan meninggalkan yang dilarang. Ekonomi Islam dapat dilihat dari 4 (empat) sudut pkitang, yaitu:
1.Ekonomi Illahiyah (Ketuhanan).
2.Ekonomi Akhlaq.
3.Ekonomi Kemanusiaan.
4.Ekonomi Keseimbangan.
Ekonomi Ketuhanan mengandung arti bahwa manusia diciptakan oleh Allah untuk memenuhi perintah-Nya, yakni beribadah, dan pada mencari kebutuhan hidupnya, manusia harus berdasarkan aturan-aturan (Islam) dengan tujuan utama untuk mendapatkan Ridho Allah.
Ekonomi Akhlaq mengandung arti bahwa kesatuan antara ekonomi dan akhlaq harus berkaitan dengan sektor produksi, distribusi, dan konsumsi. Dengan demikian seorang Muslim tidak bebas mengerjakan apa saja yang diinginkan atau yang menguntungkan tanpa mempedulikan orang lain.
Ekonomi Kemanusiaan mengandung arti bahwa Allah memberikan predikat “Khalifah” hanya kepada manusia, karena manusia diberi kemampuan dan perasaan yang memungkinkan ia melaksanakan tugasnya. Melalui perannya sebagai “Khalifah” manusia wajib beramal, bekerja keras, berkreasi, dan berinovasi.
Ekonomi Keseimbangan adalah pkitangan Islam terhadap hak individu dan masyarakat diletakkan pada neraca keseimbangan yang adil tentang dunia dan akhirat, jiwa dan raga, akal dan hati, perumpamaan dan kenyataan, iman dan kekuasaan.
Ekonomi yang moderat tidak menzalimi masyarakat, khususnya kelompok lemah sebagaimana yang terjadi pada masyarakat kapitalis. Di samping itu, Islam juga tidak menzalimi hak individu sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok sosialis, tetapi Islam mengakui hak individu dan masyarakat secara berimbang.
Dengan demikian, dapat dilihat bahwa Sistem Ekonomi Islam mempunyai konsep yang lengkap dan seimbang pada segala hal kehidupan, namun penganut ajaran Islam sendiri, seringkali tidak menyadari hal itu. Hal itu terjadi karena masih berpikir dengan kerangka ekonomi kapitalis, karena berabad-abad dijajah oleh bangsa Barat, dan juga bahwa pkitangan dari Barat selalu lebih hebat. Padahal tanpa disadari ternyata di dunia Barat sendiri telah banyak negara mulai menpadai system perekonomian yang berbasiskan Islam.
10 Prinsip Bisnis Dengan Hati Nurani versi YAYASAN RIDHO ALLAH
Yayasan Ridho Allah menjadi sukses ?
Sekarang ini banyak KELOMPOK DAN ORANG yang menginginkan menjadi pengusaha sukses. Kalau dulu menjadi pegawai negeri, menjadi pegawai kantoran dianggap golongan priyayi, sedangkan menjadi pedagang masih dianggap kelompok kelas dua, sekarang ini situasinya sudah berubah.
Menjadi pedagang atau pengusaha bukan lagi dianggap sebagai kelompok kelas dua, namun sudah menjadi tujuan utama banyak manusia sekarang ini. Maka kini pengetahuan tentang entrepreneurship, kewirausahaan, training motivasi entrepeneurship akan dikembangkan sebagai basis ekonomi keluarga Kelompok pengajian Ridho Allah dan banyak orang akan terlibat dipadanya.
Meskipun demikian, perlu dipahami bahwa menjalankan usaha sebenarnya bukan sekedar mengejar profit atau keuntungan pribadi semata. Ada makna ibadah yang nilainya lebih tinggi dari sekedar mendapatkan keuntungan berupa uang belaka. Kalau orang menjalankan usaha hanya berorientasi pada keuntungan materi sebesar-besarnya sebagai tujuan utamanya, maka kalaupun usahanya berhasil, belum tentu menjadi berkah bagi dirinya, belum tentu menjadikan kebahagiaan sejati bagi dirinya.
Harapan menjalankan bisnis yang dapat menjadi ibadah dan membawa berkah bagi kehidupan kita ?
Jalankanlah usaha atau bisnis berdasarkan hati nurani.
Berikut ini 10 prinsip bisnis yang perlu menjadi pertimbangan pada mengembangkan usaha kita:
1. Kawan dan Persaudaraan adalah aset berharga.
Tidak ada usaha yang tidak berhubungan dengan orang lain. Pada membina hubungan dengan orang lain, letakkanlah nilai persahabatan, nilai pertemanan yang jauh lebih berharga dibandingkan sekedar meraih keuntungan uang. Dengan menempatkan kawan sebagai aset berharga, maka kita akan menghargai komitmen dan kerjasama dengan siapapun.
2. Kepercayaan adalah modal jangka panjang.
Modal pada usaha itu dapat dibadi kepada modal tangible dan modal intangible. Uang, gedung, peralatan, mesin adalah contoh modal tangible. Namun ada modal yang intangible yang jauh lebih berharga untuk usaha jangka panjang kita yakni membina kepercayaan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun sebuah kepercayaan dan hanya sekian detik saja untuk menghancurkannya. Maka berusahalah membina kepercayaan baik kepada siapapun.
3. Menjual dengan harga lebih tinggi dari pembelian, bukan harga tertinggi.
Maknanya adalah berbisnis bukan sekedar mengejar keuntungan dengan membeli serendah-rendahnya, kemudian menjual dengan harga tertinggi. Namun berbisnis dan berusaha adalah bagaimana dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi orang lain sebesar-besarnya, tanpa mengabaikan kelayakan usaha. Nilai kebahagiaan dan keberhasilan usahanya bukan pada berapa besarnya keuntungan materi, tetapi berapa banyak manfaat yang diberikan.
4. Mendengarkan kata hati.
Pada melakukan tindakan, mengambil keputusan, belajarlah memisahkan antara pikiran yang dikuasai oleh emosi, ego pribadi, nafsu duniawi dengan pikiran yang dikendalikan hati. Gunakan ketajaman mata hati untuk dapat mengambil keputusan berdasarkan kata hati bukan berdasarkan emosi atau nafsu duniawi. Karena sesunggunya mendengarkan kata hati merupakan usaha mengenal sifat-sifat kemuliaan Allah yang sudah "built in" pada hati kita.
5. Bekerja dengan hati.
Mereka yang bekerja dengan hati bukanlah orang yang bersikap baik kepada Kita, namun bersikap kasar terhadap bawahan, pekerja, atau pelayan. Sesungguhnya orang seperti ini bukanlah orang baik yang bekerja dengan hatinya. Karena mereka yang bekerja dengan hati akan selalu bersikap baik kepada siapapun.
6. Kekayaan bukan dinilai dari uang yang dimiliki.
Menjadi kaya bukan sekedar berhubungan dengan memiliki banyak uang.
Namun kekayaan yang utama adalah seberapa besar uang yang kita dapatkan dapat digunakan untuk menolong orang lain, untuk memberikan manfaat bagi orang lain.
7. Berorientasi pada manfaat sebesar-besarnya.
Berbisnis bukan sekedar berorientasi pada profit atau keuntungan materi sebesar-besarnya, tetapi memperoleh keuntungan untuk memberikan manfaat bagi orang lain sebanyak-banyaknya. Karena berbisnis adalah ibadah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT nantinya dan kepada sesama manusia lainnya.
8. Fokus pada apa yang diperoleh bukan yang hilang.
Jangan pikirkan kesempatan, peluang atau kegagalan yang sudah lewat atau sudah hilang dari kita. Kalau Kita kalah tender sebuah proyek, padahal hitung-hitungannya untungnya akan besar sekali, jangan dirisaukan lagi. Hal ini dapat membuat Kita stress, atau berlaku tidak bijaksana. Fokuslah memikirkan pada apa yang Kita peroleh saat ini. Biarkan kesempatan yang hilang berlalu dari Kita, karena akan ada kesempatan baru kalau kita dapat mensyukuri apa yang dimiliki saat ini.
9. Gagal hanyalah sebuah proses.
Gagal bukanlah akhir dari segalanya, tetapi bagian dari proses untuk menghasilkan rencana-rencana baru. Bagian dari proses menuju kesempatan-kesempatan baru, sepanjang kita mau memperbaiki rencana baru. Namun kalau kita gagal merencanakan sesuatu, berarti Kita telah berencana untuk gagal.
10. Akui Kesalahan Dengan rendah Hati.
Kesalahan-kesalahan pada mengambil keputusan pada menjalankan usaha bisa saja terjadi. Ketika Kita menyadari bahwa itu suatu kesalahan keputusan yang Kita ambil, dan merasa bahwa partner Kita atau karyawan Kita yang benar, maka akui dengan rendah hati.
Segera lakukan evaluasi untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi.
BAB IV
MANAJEMEN UMUM DUNIA USAHA
UNTUK
ANGGOTA YAYASAN RIDHO ALLAH
pentingnya pemberian hak atas properti (baca tempat berdagang-”PASAR KRANGGAN”) untuk Kelompok Pengajian Ridho Allah yang selama ini belum memiliki tempat usaha. Legalisasi seperti itu mutlak dibutuhkan untuk memungkinkan mereka mengakses modal kerja/usaha dengan biaya rendah pada upaya memacu kewiraswastaan mereka. Kurangnya akses ke modal kerja/usaha resmi tersebut membuat mereka harus tergantung pada modal kerja/usaha berbunga tinggi dari para rentenir yang umumnya semakin memperparah kondisi ekonomi mereka.
Bila kita terbiasa melihat ekonomi keluarga dari kaca mata konvensional, kita tentu layak mempertanyakan kemampuan kelompok kurang mampu tersebut membantu pertumbuhan ekonomi keluarga. Dengan daya beli yang lemah, bagaimana mungkin mereka memiliki kekuatan untuk mendorong kemacetan ekonomi kelompok yang sarat dengan masalah?
Kelompok Pengajian Ridho Allah ini, bisa disebut - sebagai bottom of the pyramid sebenarnya menyimpan potensi ekonomi yang besar. Sebagai individu, pengaruh mereka memang hampir tidak ada. Tetapi untuk negara berkembang dengan jumlah penduduk kurang mampu yang besar seperti di Kita, secara agregat kekuatan ekonomi tersebut tidak bisa diremehkan.
Kelompok ini sebenarnya juga memiliki aspirasi yang sama dengan kelompok-kelompok lainnya. Bila daya konsumsi mereka bisa dibuka – misalnya dengan menyediakan modal kerja/usaha ringan atau pembelian melalui sistem arisan seperti yang dirintis kelompok kurang mampu ini juga bersedia membeli barang-barang yang sama dengan kelompok menengah dan atas.Organisasi bisnis yang telah melayani segmen ini menemukan beberapa keuntungan antara lain:
1. Kompetisi di segmen ini cukup rendah dibanding di segmen yang melayani kalangan menengah dan atas. Kedua, untuk melayani segmen ini sering dibutuhkan inovasi radikal untuk menghasilkan produk bermutu dengan biaya rendah Kemampuan menciptakan inovasi dengan biaya murah tersebut pada akhirnya bisa dipakai untuk menghasilkan barang biaya murah untuk kelas menengah dan atas, sehingga mampu membantu kelompok usaha tersebut mendapatkan margin keuntungan yang lebih tinggi di semua segmen.
2. Kelompok usaha yang melayani segmen ini sering mendapatkan image yang positif dari publik karena dianggap peduli terhadap kelompok kurang mampu sebagai distributor di desa-desa mereka, sebuah upaya yang membantu meningkatkan taraf hidup mereka.
Ide ini memang cukup membuka mata buat dunia bisnis yang selama ini meremehkan potensi kelompok kurang mampu. Padahal, bukti-bukti yang berhasil dikumpulkan - menunjukkan kelompok usaha yang berhasil melayani kelompok kurang mampu memiliki tingkat pengembalian investasi yang lebih tinggi dibanding kelompok usaha lain yang melayani segmen yang lebih makmur.
Seperti yang bisa kita lihat, pemikiran tersebut sebenarnya saling melengkapi, yang mendorong investasi dari segala arah harus dikeluarkan, bukan saja dari kelompok usaha multi keluarga, namun juga dari kelompok paling bawah, oleh pihak-pihak yang berbeda juga harus berjalan ke arah yang sama dan bukannya saling bertolak belakang.
Tetapi yang lebih penting adalah jangan melupakan kekuatan ekonomi dari kelompok kurang mampu. mengakui permasalahan yang dihadapi Kita memang rumit dan tidak cukup waktu untuk melakukan segalanya. Tetapi kita harus bisa memprioritaskan hal-hal penting.
Salah satu hal penting yang bisa dilakukan tentu saja membantu kelompok usaha yayasan Ridho Allah memberdayakan para kelompok kurang mampu tersebut, dan memberi kemudahan pada kelompok kurang mampu untuk berinvestasi. Dengan kekuatan agregat mereka, bila diberi waktu dan kesempatan, mereka seharusnya bisa membantu meringankan masalah ekonomi keluarga..
KELOMPOK INDUSTRI DAN INOVASI YAYASAN RIDHO ALLAH
1. Kelompok industri akan meningkatkan produktivitas karena semua kebutuhan sumber daya terkonsentrasi di satu tempat (PASAR KRANGGAN). Kelompok usaha yang berada pada satu kelompok dengan mudah dan cepat mendapatkan sumber daya manusia, kapital, atau sumber daya lainnya sehingga memperkecil transaction costs.
Selain itu, karena konsentrasi dan interaksi yang tinggi antar sesama anggota kelompok membuat berita atau rumor cepat menyebar, para anggota kelompok dengan cepat belajar bahwa untuk berhasil pada jangka panjang, mereka harus bisa membangun reputasi yang baik. Dengan adanya tekanan untuk membangun reputasi yang tinggi, friksi ekonomi karena kurangnya trust akan menurun.
2. Kelompok industri akan memaksa penghuninya untuk terus berinovasi, Di pada suatu kelompok , akan dijaga mobilitas tenaga profesional yang ada dengan tidak mudah berpindah dari satu usaha ke usaha lainnya. Walau sepintas hal itu kurang menguntungkan buat kelompok kita , namun bila dibedah lebih jauh, mobilitas tersebut justru membawa akibat positif berupa transfer pengetahuan, baik yang bisa diajarkan atau pun yang bersifat tacit, ke kelompok usaha lain di luar kelompok pengajian Ridho Allah . Di samping itu, biasanya akan bermunculan perkumpulan profesi, baik formal atau pun informal yang akan mempercepat penyebaran pengetahuan. Ide-ide dan praktek-praktek terbaik menyebar dengan cepat pada kelompok kita . Kompetisi yang ketat antar pemain memaksa mereka untuk tidak berpuas diri dengan status quo. Alasan inilah yang membuat mampu menelurkan karya-karya inovatif tanpa henti.
3. Kelompok industri mempermudah munculnya bisnis-bisnis baru. Di pada kelompok , sumber daya yang tersedia buat kelompok usaha besar juga bisa diakses sama mudahnya oleh kelompok usaha start ups. Ketersediaan semua sumber daya yang dibutuhkan membuat entry barrier menjadi rendah bagi yang ingin mendirikan bisnis baru. Karena kebutuhan sumber daya yang sudah tersedia, kelompok usaha kita yang baru akan memulai tidak perlu mengeluarkan dana sendiri yang besar untuk mengakuisisi sumber daya tersebut. Kondisi ini memungkinkan start up yang gagal mampu menghentikan usaha tanpa harus menanggung resiko tinggi pada bentuk investasi yang sudah terlanjur dibuat. Kemudahan untuk entry dan exit tersebut jelas merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi calon wiraswastawan di Pengajian Ridho Allah, dengan tersedianya segala fasilitas
Melihat alasan di atas, kita bisa menyimpulkan, untuk membuat Kita mampu bersaing di masa depan Untuk merealisasikan konsep ini, peran seluruh anggota sangat dibutuhkan, mulai dari pengadaan infrastruktur, jaminan MODAL KERJA, Sosialisasi ke kelompok usaha lain mendukung konsep tersebut juga penting karena merekalah yang akan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.
Insya Allah, kita sudah menapak ke jenjang berikutnya. Proyek-dan-Usaha yang membutuhkan kreativitas dan inovasi sudah mulai dilahirkan.
PERUBAHAN DIMULAI DARI DIRI SENDIRI
Perbedaan antara negara berkembang (kurang mampu) dan negara maju (kaya) tidak tergantung pada umur negara itu. Contohnya negara India dan Mesir, yang umurnya lebih dari 2000 tahun, tetapi mereka tetap terbelakang (kurang mampu). Di sisi lain, Singapura, Kanada, Australia, dan New Zealand – negara-negara yang umurnya kurang dari 150 tahun pada membangun — saat ini merupakan bagian dari negara maju di dunia. Mayoritas penduduknya tidak lagi kurang mampu.
Ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara juga tidak menjamin negara itu menjadi kaya atau kurang mampu. Jepang mempunyai area yang sangat terbatas. Daratannya 80% berupa pegunungan dan tidak cukup untuk pertanian dan peternakan. Tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia. Jepang laksana suatu negara “industri terapung” yang besar sekali, mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia dan mengekspor barang jadinya.
Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat tetapi sebagai negara pembuat coklat terbaik di dunia. Negara Swiss sangat kecil, hanya 11% daratannya yang bisa ditanami. Swiss juga mengolah susu dengan kualitas terbaik. (Nestle adalah salah satu kelompok usaha makanan terbesar di dunia). Swiss juga tidak mempunyai cukup reputasi pada keamanan, integritas, dan ketertiban –-saat ini bank-bank di Swiss menjadi bank yang sangat disukai di dunia.
Para eksekutif dari negara maju yang berkomunikasi dengan temannya dari negara terbelakang akan sependapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada hal kecerdasan. Ras atau warna kulit juga bukan faktor penting. Para imigran yang dinyatakan pemalas di negara asalnya ternyata menjadi sumber daya yang sangat produktif di negara-negara maju/kaya di Eropa.
sikap/perilaku masyarakat, yang telah dibentuk bertahun-tahun melalui kebudayaan dan pendidikan. Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ternyata bahwa mayoritas penduduknya sehari-harinya mengikuti/mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan, sebagai berikut:
- Etika, sebagai prinsip dasar pada kehidupan sehari-hari
- Kejujuran dan integritas
- Bertanggung jawab
- Hormat pada aturan dan hukum masyarakat
- Hormat pada hak orang/warga lain
- Cinta pada pekerjaan dan Berusaha keras untuk menabung dan berinvestasi
- Mau bekerja keras dan Tepat waktu
masyarakatnya mematuhi prinsip dasar kehidupan tersebut, Insya Allah akan selamat dunia dan akherat karena Kita bukan kurang mampu (terbelakang) karena kurang sumber daya alam, atau karena alam yang kejam kepada kita. Kita terbelakang/lemah/kurang mampu karena perilaku kita yang kurang/tidak baik. Kita kekurangan kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang akan memungkinkan kita mampu membangun masyarakat, ekonomi keluarga , dan negara.
Dan… PERUBAHAN DIMULAI DARI DIRI KITA SENDIRI! ,kemudian mari kita maju bersama dengan KELOMPOK PENGAJIAN RIDHO ALLAH
Di era globalisasi ini, semua bagian dunia sudah saling terhubung, baik melalui transportasi, satelit, mau pun Internet. Dari sisi positif, hubungan dagang antar negara semakin lancar. Ide-ide terbaik juga mengalir dengan mudah dari satu benua ke benua lainnya, yang memungkinkan kemajuan ilmu pengetahuan yang lebih merata. Namun, globalisasi juga mengandung potensi bahaya.
Kelompok usaha yang ingin manaksir dampak secara lebih jelas bisa memanfaatkan diagram systems thinking di mana semua komponen dan kejadian direpresentasikan pada hubungan sebab akibat pada halaman yang sama. Melalui diagram tersebut, bisa melihat hal-hal yang mungkin kelewatan dengan cara berpikir yang linier.
Selain itu juga harus memikirkan cara-cara untuk beroperasi secara lebih fleksibel. Pertama-tama, posisi-posisi kunci hendaknya diidentifikasi sehingga sumber daya yang terbatas bisa diberikan secara tepat. Kemungkinan bekerja secara remote bisa dipertimbangkan.
Para anggota lebih diarahkan sebagai generalis untuk fungsi-fungsi yang kritis sehingga dampak ketidakhadiran beberapa orang pekerja bisa dikurangi.
Penunjukan beberapa orang wakil untuk posisi manajemen puncak harus dilakukan untuk menghindari kebingungan bila sang kepala tidak bisa dihubungi.
Dan tak kalah pentingnya, pemimpin yang mampu membuat keputusan dengan cepat sangat dibutuhkan pada situasi krisis.
EKONOMI KELUARGA YAYASAN RIDHO ALLAH = DENGAN KEJUJURAN
Selama ini, ilmu ekonomi memang sering dihubungkan dengan model matematika yang abstrak dan lebih membutuhkan rasionalitas. Konstruksi “the invisible hand” yang diperkenalkan oleh bapak ekonomi modern, Lewat pengejaran kepentingan sendiri yang egois itu lah, pasar bebas terbentuk. Struktur pemikiran dunia bisnis yang banyak dipengaruhi oleh ilmu ekonomi pada akhirnya mengambil begitu saja pola pikir tersebut. Akibatnya, banyak yang berpkitangan bahwa pada bisnis, kejujuran adalah hal yang haram, terutama bila ingin kaya dengan cepat.
Pada mengutip teori-teori Adam Smith tentang pasar bebas dan kapitalisme, banyak yang tidak tahu bahwa Adam Smith sebenarnya adalah seorang profesor filsafat moral. Dia memiliki kepercayaan bahwa apa yang disebut sebagai “kepentingan diri” sebenarnya mencakup aspek-aspek lain seperti moralitas, etika, dan rasa kasih kitang pada sesama. Kitangnya, pada perjalanan waktu, kata “kepentingan diri” perlahan-lahan berubah definisi dan hanya difokuskan pada pencapaian material belaka.
Mari kita berfokus pada aspek kejujuran terlebih dahulu. Bagaimana ekonomi dan kejujuran sebenarnya saling mendukung?
Kita lihat dulu dari segi pendirian usaha baru. Bila Kita ingin membuka usaha baru, apa faktor-faktor yang membuat Kita berani melakukannya? Kita tahu bahwa usaha baru mengandung resiko yang cukup besar. Karena itu, untuk berani mengambil resiko tersebut, resiko yang ada harus dikurangi atau dibagi. Di sini kita membutuhkan pihak yang bersedia diajak bekerja sama, baik dari segi permodalan atau pun sumber daya lainnya.
Dan apa yang membuat pihak lain bersedia menanggung resiko bersama kita?
Kepercayaan. Selain itu, Kita juga ingin kepastian bahwa usaha Kita bisa berjalan baik tanpa ancaman. Di sini, Kita harus percaya bahwa yayasan akan menyokong hak-hak dasar Kita pada berbisnis. Kita juga harus percaya para pelanggan dan pemasok akan memenuhi janji mereka dan bila janji tersebut tidak dipenuhi, Kita harus percaya allah bisa menyelesaikannya untuk kepentingan Kita. Selain itu, Kita juga harus percaya bahwa orang-orang yang bekerja untuk Kita tidak akan menyalahgunakan kepercayaan yang Kita berikan kepada mereka.
Dan apa yang melkita si kepercayaan seperti itu? Tentu saja kejujuran dan integritas dari pihak-pihak yang terlibat di pada yayasan Ridho Allah telah teruji .
Tentu itu bukan berarti Kita tidak bisa membuka bisnis baru bila Kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang tidak menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan integritas. Namun di tengah-tengah masyarakat seperti itu, para pengusaha harus bersedia mengeluarkan biaya-biaya siluman dan menanggung transaction costs yang tidak kecil. (Transaction costs adalah biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk menjamin suatu transaksi jual beli yang saling menguntungkan.)
Bila transaction costs yang tidak diperlukan tersebut (pada bentuk korupsi, pungutan-pungutan liar, birokrasi, dan setumpuk ijin-ijin yang tidak jelas fungsinya) bisa dihilangkan, bayangkan betapa banyak calon wiraswasta yang bersedia membuka bisnis baru.
Di tingkat usaha maju, kita bisa melihat efek kepercayaan terhadap keberhasilan usaha besar , yang terkenal dengan hubungan saling percaya mempercayai dengan karyawan dan pemasoknya, berhasil menekan transaction costs .
Penghematan tersebut adalah salah satu alasan mampu menghasilkan produk bagus dengan biaya murah dan mengalahkan kelompok usaha lainnya. Tingkat kepercayaan yang tinggi tersebut juga membuat para partner bisnis usaha tidak takut membagikan inovasi terbaru mereka kepada kelompok usaha tersebut.
Sementara itu, tiadanya kepercayaan sering menjadi pemicu pemogokan, sabotase, atau pada bentuk yang lebih halus: penundaan pekerjaan. juga menunjukkan para eksekutif puncaknya saling tidak mempercayai sering tidak efektif pada menjalankan kebijakan strategis usaha. Pada upaya manajemen perubahan usaha, yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi antar sesama anggotanya memiliki peluang yang lebih besar untuk berhasil.
Dari contoh-contoh di atas, kita bisa melihat sebenarnya kejujuran mampu menciptakan nilai ekonomi pada bentuk pengurangan transaction costs dan mengurangi ketidakpastian. Kejujuran membantu membangun reputasi sehingga para pelanggan dan pemasok lebih suka bertransaksi dengan kelompok usaha tersebut. Reputasi yang bagus tersebut akan membuat lebih banyak orang bersedia bergabung dengan kelompok usaha kita, yang memungkinkan menarik bakat-bakat terbaik. Komunitas sekitar juga lebih bersedia membantu bila usaha kita menghadapi masalah.
KEBODOHAN SEBAGAI ASUMSI
Konon kabarnya, tanah Kita sungguh subur. Tongkat yang ditancapkan ke tanah saja bisa tumbuh menjadi ubi. Kekayaan berlimpah juga terwujud pada bentuk mineral-mineral, minyak bumi, sumber daya hayati dan kelautan. Kita memang patut bersyukur dengan semua itu. Namun, tahukah Kita bahwa justru negara-negara yang memiliki sumber daya alam berlimpah sering kesulitan untuk maju? Kita jelas bukanlah satu-satunya contoh, dan untung saja bukan contoh terburuk. Beberapa negara Afrika yang memiliki kandungan minyak bumi yang besar seperti Nigeria, Gabon, Sudan, Kamerun, atau Chad; dan negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, memiliki jumlah penduduk kurang mampu yang sangat besar sementara penguasa mereka berfoya-foya dari rejeki nomplok minyak.
Para pakar ekonomi menyebut fenomena ini sebagai The Oil Curse — kutukan minyak. Menurut mereka, negara-negara yang memiliki sumber daya alam berlimpah (terutama minyak bumi) justru kehilangan motivasi untuk mencari sumber kemakmuran lain, terutama yang berkaitan dengan pengetahuan. Bila semua sudah disediakan oleh alam, buat apa bersusah payah menuntut ilmu belasan tahun? Bila tongkat yang ditancapkan asal-asalan saja bisa menjadi ubi, mengapa harus bekerja keras?
Namun, celakanya, kekayaan tersebut tidak bisa dinikmati mayoritas rakyat. Kekayaan tersebut justru menciptakan pemerintahan yang korup dan birokratis yang didukung oleh militer dan kelompok usaha raksasa. Para penguasa yang egois, yang melihat kekayaan yang dengan mudah dieksploitasi, akan mencoba segala daya upaya untuk menguasainya, termasuk dengan menggunakan senjata untuk menghadapi rakyatnya sendiri.
Kondisi ini bertolak belakang sama sekali dengan negara-negara seperti Jepang, Singapura, atau Korea yang tidak memiliki sumber daya alam yang bisa dieksploitasi. Kekurangan sumber daya alam tersebut, masyarakat mereka dipaksa untuk menjadi kreatif, mengutamakan pendidikan, dan bekerja keras.
Tentu saja tidak semuanya begitu. Beberapa negara yang memiliki kekayaan alam berlimpah seperti Australia terbukti bisa maju. Malaysia juga demikian. Tidak ketinggalan Afrika Selatan dan Botswana yang diberkati kekayaan alam berlian sudah mulai menunjukkan perkembangan ekonomi berbasis pengetahuan yang baik. Sementara itu, banyak juga negara-negara tanpa sumber daya alam yang semakin terpuruk. Jadi di sini kita melihat bahwa faktor-faktor lain seperti sistem pemerintahan yang baik, para pejabat yang kompeten dan bervisi jauh ke depan, tingkat pendidikan, kerukunan masyarakat dan lainnya memiliki peranan yang penting juga.
Bagaimana dengan Kita? Kelihatannya meski kita sudah terlepas dari sistem pemerintahan yang otoriter, kita masih belum lepas sepenuhnya dari kutukan tersebut. Lihat saja siapa yang diuntungkan dari tambang di Freeport atau minyak di blok Cepu? Lihat juga bagaimana tingkat dan kualitas pendidikan kita dibanding negara-negara ASEAN lainnya? Hitung juga berapa hak paten teknologi yang kita hasilkan setiap tahunnya?
Kita mungkin akan merasa resah mendengar kabar tentang cadangan minyak bumi dan gas alam kita yang semakin menipis, atau posisi Kita dari eksportir beras menjadi importir beras. Pada jangka pendek, memang semua itu adalah berita buruk. Namun bila kita siap dan mampu berfikir jauh, berita tersebut seharusnya dirayakan, karena itu berarti sudah dekat saatnya di mana kekayaan intelektual kita akan dipaksa untuk menggantikan kekayaan alam kita. “Tongkat” tersebut sekarang adalah pikiran dan pengetahuan kita.
BESAR ATAU KECIL SEBAGAI UKURAN
Pada ilmu Geodesy skala merupakan ukuran sebuah peta Topography, Apakah ukuran itu penting? Pada ilmu ekonomi Pertanyaan tersebut tentu bisa dianggap sebagai pertanyaan retorik. Ya, ukuran jelas penting, dan itu juga berlaku bila kita membahas mengenai inovasi usaha.
Pada tahun 1940, Joseph Schumpeter, seorang ekonom terkenal di masanya, berargumen kelompok usaha besar jelas lebih inovatif dan monopoli bisa dibenarkan karena alasan itu (selama tidak merugikan konsumen).
Lewat ukuran mereka yang besar, kelompok usaha tersebut mampu menyediakan sumber daya yang besar untuk menopang upaya-upaya inovasi Kita sendiri.
Selain itu, kelompok usaha besar juga lebih mampu mengelola resiko. Sebuah kegagalan proyek untuk kelompok usaha kecil akan menenggelamkan usaha tersebut.
Di beberapa industri, seperti pembuatan pesawat terbang dan farmasi, jarang ada usaha kecil yang mampu bertahan karena besarnya investasi yang harus dibenamkan untuk menghasilkan produk-produk baru. Sedangkan bagi kelompok usaha besar, resiko tersebut bisa disebar ke beberapa proyek pada bentuk portofolio. Sebuah keberhasilan umumnya akan mampu menutup seluruh kerugian di proyek-proyek lainnya. Kemampuan seperti ini sangat dibutuhkan pada program-program inovasi karena tingginya angka kegagalan di sini. Reputasi kelompok usaha besar tersebut juga membuat konsumen lebih berani mencoba produk-produk inovatif yang dikeluarkan usaha bersangkutan sehingga penyebaran inovasi bisa dipercepat.
Jika begitu, apakah berarti perdebatan selesai dengan kemenangan di pihak usaha besar? Tentu tidak sesederhana itu, karena seperti yang dituliskan di alinea pembuka, perdebatan ini sudah terjadi selama 50 tahun dan mungkin tidak akan selesai 50 tahun lagi. Ukuran besar memang menjanjikan sejumlah keuntungan pada berinovasi seperti yang dituliskan di atas. Namun, ukuran besar juga melahirkan masalah-masalah tersendiri.
Sebut saja masalah kontrol. Ukuran besar menyebabkan kontrol menjadi sulit. Akibatnya, di banyak kelompok usaha besar, banyak yang saling tumpang tindih dan keluar dari jalur strategi yang sudah ditentukan kelompok usaha.
Interaksi antar fungsi-fungsi pada organisasi menjadi lebih sulit karena setiap fungsi cenderung membangun kerajaannya sendiri. Hal ini mempersulit upaya-upaya inovasi yang sering membutuhkan kerja sama lintas fungsional. Kelompok usaha besar juga lebih sulit memotivasi para stafnya yang sudah berjumlah ribuan orang. Lapisan birokrasi yang dibangun perlahan-lahan akan mencekik ide-ide yang datang dari bawah. Bahkan bila ide tersebut datang dari atas sekalipun, pola-pola hubungan dan kerja sama yang sudah dibangun dengan para pemasok, distributor, komplementor, atau subkontraktor sering menyulitkan kelompok usaha untuk berubah.
Di sinilah kelompok usaha yang lebih kecil memiliki keuntungan. Ukuran kecil membuat mereka lebih lincah dan fleksibel. Karena keterbatasan dana, mereka umumnya lebih selektif memilih usaha yang hendak dijalankan sehingga tingkat keberhasilan lebih tinggi. Beberapa riset berhasil membuktikan tingkat pengembalian kelompok usaha kecil memang lebih tinggi dibandingkan kelompok usaha besar.
Selain itu, kurangnya jalinan hubungan dengan pihak-pihak lain membuat kelompok usaha kecil lebih bebas berinovasi, terutama pada meluncurkan disruptive innovations. Ide-ide yang datang dari segala arah lebih mudah terdeteksi. Interaksi yang intens antara sesama anggota kelompok usaha membuat berbagai sudut pkitang terakomodasi dengan baik.
Jadi sekarang kita bisa melihat ukuran memang memegang peranan besar pada upaya inovasi. Ukuran besar memiliki keunggulan tersendiri, dan ukuran kecil memiliki keuntungannya juga. Beberapa kelompok usaha besar yang menyadari fakta ini berusaha sekuat mungkin menyeimbangkan keduanya. Walau ukuran mereka besar, mereka berusaha memecah-mecah kelompok usahanya menjadi beberapa unit yang lebih kecil. GE, Johnson & Johnson, Virgin, dan Hewlett-Packard sudah mencoba pendekatan seperti itu dengan cukup sukses. Tetapi permainan tersebut bukan permainan untuk semua kelompok usaha. Upaya menyeimbangkan ukuran besar dan kecil memperlukan upaya-upaya koordinasi dan kontrol yang cukup njelimet.
Inovasi, adalah kunci untuk mencapai keunggulan berkesinambungan
Saat ini, semakin banyak kelompok usaha yang menyadari pentingnya menyeimbangkan sukses jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. ukuran metrik untuk menilai kesuksesan sebuah kelompok usaha tidak melulu ukuran finansial saja seperti laba bersih, namun juga mencakup ukuran-ukuran yang melibatkan sudut pkitang pelanggan, proses internal, dan pembelajaran organisasi. Keempat hal itulah yang menjadi tiang-tiang penyangga yang harus dikaitkan dengan pencapaian divisi usaha, Yayasan, sampai ke tingkat individu dan kelompok Pengajian Ridho Allah.
Inovasi, adalah kunci untuk mencapai keunggulan berkesinambungan. Untuk beberapa industri, berinovasi bisa jadi merupakan proses internal terpenting pada organisasi. Namun proses ini biasanya justru mendapatkan perhatian paling sedikit dari jajaran puncak manajemen dibanding proses-proses lainnya yang lebih mudah kelihatan hasilnya. juga menganjurkan setiap kelompok usaha setidaknya memiliki satu metrik yang berkaitan dengan inovasi. Tanpa itu, kelompok usaha tidak mungkin membangun sukses untuk jangka panjang.
1. Mengidentifikasi peluang.
Proses ini mencakup pengumpulan dan pengembangan ide-ide produk baru. Sumber utama tentu saja dari R&D (Reseach&Development), tetapi sumber-sumber lain tetap harus dieksplorasi. para konsumen, para pemasok dan distributor, atau ide-ide dari model harus dijadikan alternatif lain. Ukuran-ukuran yang bisa dijadikan sebagai metrik di sini mencakup jumlah ide yang berhasil diperoleh, disaring, dan diteruskan ke bagian pengembangan.
2. Mengelola portofolio
penting karena dengan sumber daya terbatas, kelompok usaha harus menentukan proyek pengembangan mana yang harus diprioritaskan dan mana yang tidak. Portofolio juga memungkinkan kelompok usaha menyeimbangkan proyek-proyek yang bisa memberikan pengembalian jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. jumlah investasi aktual versus rencana, jumlah kerja sama yang berhasil dijalin, dlsb.
3. Merancang dan mengembangkan.
Di sinilah kita berjumpa dengan inti dari proses pengembangan produk baru. Proses yang berhasil akan menghasilkan produk yang siap untuk diproduksi masal dan dipasarkan sesuai kebutuhan calon pelanggan. Selain itu, proses ini juga harus memenuhi persyaratan waktu dan biaya yang sudah ditentukan. Pengelolaan proses ini penting mengingat semakin besarnya biaya pengembangan dewasa ini dan semakin rumitnya interaksi produk baru dengan sistem-sistem yang sudah ada, termasuk dengan komponen-komponen yang dikembangkan kelompok usaha komplementor lainnya. Untuk mengukur kesuksesan proses ini, beberapa metrik yang bisa dipakai adalah: jumlah paten yang dihasilkan, jumlah proyek yang berhasil diselesaikan, jumlah proyek yang selesai tepat waktu, rata-rata waktu pengembangan produk baru, jumlah investasi aktual versus rencana, dlsb.
4. Membawa produk baru tersebut ke pasar.
Di sini, produk akhir siap diluncurkan setelah melalui pemeriksaan dan pengujian akhir secara intensif. Departemen pemasaran dan penjualan mulai melibatkan diri pada tahap ini. Produksi dimulai dulu pada skala kecil, dan kadang dilakukan uji coba penjualan terbatas. Setelah volume penjualan mulai meningkat, produksi skala besar baru berjalan. Metrik yang sering dipakai di sini antara lain: waktu yang dibutuhkan dari pengenalan produk ke produksi masal, jumlah produk baru yang berhasil diluncurkan, biaya produksi aktual versus rencana, jumlah produk cacat, tingkat kepuasan pelanggan, pendapatan 6 bulan pertama, dlsb.
Metrik-metrik di atas bersifat generik dan tidak bisa ditiru mentah-mentah untuk kelompok usaha Kita. Kita tetap harus mengembangkan metrik-metrik Kita sendiri sesuai konteks internal kelompok usaha Kita sendiri. Namun setidaknya tulisan ini bisa memberikan gambaran bagaimana caranya memasukkan proses-proses inovasi ke pada kelompok usaha Kita. Tanpa memasukkan proses-proses inovasi, kelompok usaha Kita belum bisa disebut balanced.
Menghitung modal awal,menentukan keuntungan
Suasana kompetisi, strategi pemasaran, sampai ke kesiapan mental dan risk profile sang calon wiraswasta. Dan yang tak kalah pentingnya adalah menyusun proyeksi finansial yang sering disebut dengan analisis proforma.
Ketika hendak memulai sebuah usaha atau proyek baru, untuk menghitung proyeksi laba/rugi, cara yang paling umum dipakai adalah menghitung berapa modal awal yang harus ditanamkan.
Setelah itu kita akan memperkirakan berapa harga jual, harga pokok penjualan, volume penjualan, dan biaya-biaya rutin bulanan. Dari sana kita akhirnya bisa menentukan berapa kira-kira keuntungan yang bisa diperoleh. Namun ketika proyeksi seperti di atas bertemu dengan dunia nyata yang semakin tidak pasti, tidak perduli dibuat oleh analis sepintar apapun dan dengan bantuan sistem informasi secanggih apapun, kemungkinan meleset jauh tetap ada.
Kegagalan metode perencanaan disebabkan karena usaha baru memiliki perbedaan besar dengan usaha yang sudah berjalan. Pada usaha yang sudah berjalan di atas relnya, pemakaian metode proyeksi di atas sah-sah saja karena banyak asumsi-asumsi dasar yang sudah diketahui.
Tetapi untuk usaha baru, banyak asumsi-asumsi yang masih kabur. Karena itu, sebuah metode perencanaan yang berbeda harus dipergunakan. Metode baru ini tentu harus memenuhi persyaratan metode sebelumnya yang memungkinkan perhitungan laba/rugi, tetapi yang lebih penting lagi, metode ini juga harus mendaftarkan semua asumsi-asumsi penting yang dipakai agar asumsi-asumsi tersebut bisa diuji secara berkala untuk mengurangi ketidakpastian.
Berbeda dengan pemakaian metode perencanaan konvensional yang memulai perhitungan dari modal, pemasukan, dan pengeluaran untuk menghitung laba; perencanaan dengan metode memulai perencanaan dari laba terlebih dahulu. Jadi, pertama-tama kita tentukan dulu laba yang hendak kita peroleh melalui usaha baru ini. Setelah itu barulah kita bergerak mundur dengan menentukan nilai parameter-parameter lain yang harus dipenuhi untuk mencapai laba tersebut.
Sebagai contoh:
Kita menginvestasikan Rp. 1 milyar ke sebuah usaha baru. Karena bagi hasil Bank Syariah berada di kisaran 15%, Kita menentukan laba tahunan 24% sebagai pengembalian minimal. Berarti, Kita menginginkan laba bersih sebesar Rp. 240 juta/tahun (atau Rp. 20 juta/bulan).
Berapa nilai dari parameter-parameter penting (seperti marjin keuntungan, harga jual, dlsb) yang harus dipenuhi untuk mendapatkan laba bersih Rp. 20 juta/bulan?
Kita misalnya bisa memulai dengan menghitung biaya bulanan seperti gaji karyawan, biaya listrik, biaya sewa kantor, dlsb yang relatif tetap. Katakanlah semua biaya-biaya tersebut sekitar Rp. 10 juta/bulan. Berarti untuk mendapatkan laba bersih Rp. 20 juta/bulan, Kita harus mendapatkan laba kotor Rp. 30 juta/bulan. Setelah melalakukan sedikit survei pasar, Kita tiba pada kesimpulan margin keuntungan yang masuk akal di industri tersebut adalah 15%. Bila harga pokok penjualan diperkirakan sebesar Rp. 10.000/unit, maka Kita akan mendapatkan laba kotor Rp. 1.500/unit. Nah, untuk mendapatkan Rp. 30 juta/bulan, Kita harus menjual 20.000 unit/bulan. Bila setiap pelanggan rata-rata mengambil 1.000 unit/order, maka Kita harus mendapatkan 20 order/bulan.
Dari perhitungan-perhitungan di atas, Kita telah mendapatkan sejumlah asumsi-asumsi yang harus dipenuhi agar usaha tersebut bisa dijalankan, seperti: marjin keuntungan per unit 15%, harga pokok penjualan Rp. 10.000/unit, penjualan minimal 20.000 unit/bulan, rata-rata jumlah pemesanan 1.000 unit, dan jumlah pemesanan 20/bulan. Itulah asumsi-asumsi yang harus Kita daftarkan.
Dengan mendaftarkan asumsi-asumsi tersebut, Kita akan lebih mudah mencari informasi-informasi tambahan yang dibutuhkan untuk menguji apakah asumsi-asumsi tersebut memang masuk di akal. Benarkah Kita bisa menjual 20.000 unit/bulan? Apakah benar rata-rata pemesanan 1.000 unit? Lakukanlah riset lebih lanjut atau eksperimen skala kecil untuk memverifikasi beberapa asumsi bersangkutan.
Ketika Kita menemukan adanya asumsi yang salah, Kita bisa kembali melakukan perhitungan untuk mencari tahu apakah usaha tersebut memang masih layak untuk diteruskan.
Contoh di atas memang terlalu disederhanakan, namun yang penting adalah mengetahui prinsip yang dipergunakan. Berlawanan dengan metode perencanaan konvensional, memaksa kita untuk “belajar” melalui pengujian asumsi-asumsi yang pada metode perencanaan konvensional selalu dianggap sebagai fakta.
Untuk program-program pengembangan usaha atau produk baru yang serba tidak pasti, ini jelas lebih cocok karena telah memasukkan unsur ketidakpastian dan pengujian asumsi-asumsi yang penting ke pada proses perencanaan.
Dengan melakukan disiplin, resiko kegagalan bisa dikurangi. Bila setelah berjalan beberapa bulan dan Kita menemukan adanya asumsi dasar yang salah, dan setelah perhitungan ulang dengan data baru yang lebih akurat tersebut menunjukkan Kita tidak mungkin untung, Kita bisa memutuskan berhenti dengan cepat atau merubah secara drastis strategi awal Kita sebelum semua investasi Kita habis.
Tetapi metode tersebut hanya sebuah contoh tentunya Pengajian Ridho Allah mempunyai satu kiat jitu dimana jalan usaha akan kita ketahui terlebih dahulu baru lah kita menjalankannya atas dasar sunnahtullah, Segala sesuatu Milik Allah, Manusia hanya berusaha dengan sekuat tenaga hasil akhir serahkan kepada Nya, Insya Allah, KITA SUKSES BERSAMA....
KINERJA MANAJEMEN
Mereka yang merasa telah berkinerja baik boleh jadi menganggap manajemen kinerja bukan prioritas utama. Mereka melihat manajemen kinerja tak ubahnya ilmu ringan dengan keuntungan nyata di depan mata.
Muncul bukti baru bahwa bentuk solusi Enterprise Performance Management (EPM) dapat memberi perbedaan mendasar pada upaya kelompok usaha menentukan strategi, rencana, forecasting, monitoring serta mengelola kinerja bisnis. Akan tetapi, hal itu tak mudah dicapai.
Kelompok usaha Yayasan Ridho Allah tertantang untuk menjawab beberapa pertanyaan tentang kreasi nilai dan pengelolaan kinerja usaha.
Dengan menganalisis tren-tren berikut keterkaitan yang sederhana, para pemikir bisnis di yayasan Ridho Allah berharap bisa mengalokasikan sumber daya secara strategis untuk menghasilkan nilai.
Kenyataannya, selain hanya meningkatkan efisiensi sekadarnya, juga menyadari tidak banyak memberi perubahan efektivitas sistem manajemen atau penciptaan nilai. Terdapat kesenjangan pada hal kemampuan untuk memahami pendorong munculnya nilai yang sesungguhnya di pada model bisnis ini.
ditemukan karakteristik umum untuk menjelaskan mengapa kelompok usaha sering bergulat dengan masalah kinerja, yaitu
Metriks yang salah.
Hanya 23% dari kelompok usaha yang menggunakan sistem balanced scorecard memiliki bukti keterkaitan yang jelas antara scorecard dan pertumbuhan nilai pemegang saham. Hanya 12% kelompok usaha mengaitkan kualitas pengukuran dengan nilai saham, dan paling tidak ada 70% kelompok usaha menerapkan metriks yang tidak memiliki validitas memadai. Kekurangan ketepatan di pada metriks ini memunculkan kebingungan dan menghalangi eksekusi strategi.
Biaya kualitas data.
Estimasi total biaya yang keluar untuk aplikasi data warehousing mencapai lebih dari US$ 40 miliar/tahun. Dari nilai tersebut, 60% lebih dipergunakan untuk membersihkan data. Bahkan dengan investasi besar ini, sering hasil yang keluar sangat kontraproduktif; 60% dari pegawai merasa terkesima dengan jumlah informasi yang mereka terima dan 43% manajer percaya bahwa keputusan-keputusan penting tertunda dan kemampuan membuat keputusan terpengaruh oleh banyaknya informasi yang diterima.
Studi atas 300 investor (termasuk investor skala besar, institusi investor, manajer portofolio dan peneliti) mengindikasikan 50% keputusan alokasi pendanaan berdasarkan kinerja nonfinansial.
Insentif yang salah.
Pengalaman dan penelitian Accenture menunjukkan banyak organisasi yang menempatkan insentif yang salah untuk meningkatkan kinerja. Di antaranya, insentif untuk meningkatkan kinerja yang berasaskan metriks keuangan tanpa keterkaitan yang mengarah pada penciptaan nilai pemegang saham di jangka panjang. Di samping itu, insentif condong sangat pendek waktu dan tidak diimbangi kinerja jangka pendek dan jangka panjang.
apa yang menjadi kunci penentu nilai dan bagaimana kelompok usaha melihat kinerjanya berdasarkan nilai-nilai penentu tersebut? Berikut adalah beberapa tipe analisis yang dapat mengarah pada kinerja dengan nilai yang lebih baik:
· Analisis nilai kelompok usaha dan portofolio dapat menentukan strategi yang dapat meningkatkan nilai hari ini dan esok.
· Analisis kompetitif eksternal memberi konteks pada menentukan serangkaian target
· Kunci-kunci penentu nilai diidentifikasi dan menjadi prioritas
· Perencanaan mengarahkan strategi ke inisiatif-inisiatif investasi kapital, alokasi sumber daya dan perencanaan alokasi dana
· Pelaporan kinerja dapat memonitor kinerja beberapa Key Performance Indicators atau indikator inti kinerja
· Dinamika forecasting dan alokasi sumber daya dapat membantu memperbaiki arah berdasarkan perubahan yang terjadi di lanskap kompetitif atau kinerja yang sesungguhnya terjadi
· Manajemen stkitar dan pelaporan sesuai regulasi atau compliance memberi bentuk pengontrolan lainnya.
Tipe analisis di atas dapat digunakan untuk menciptakan kinerja yang lebih baik. Dan ke depannya, sistem manajemen kinerja selayaknya fokus pada nilai masa kini dan masa depan dengan memperhitungkan setiap aset dengan solusi terintegrasi.
BAB V
“SDM Yayasan Ridho Allah:
MENGUBAH KEKUATAN POTENSIAL MENJADI RIIL
Ketertinggalan dan keterpurukan itu dapatlah diidentifikasi sebagai kegagalan dalam mengubah potensi kekuatan manusia Yayasan Ridho Allah menjadi kenyataan. Bahwa manusia, baik sebagai individu maupun kelompok, merupakan potensi kekuatan, fisik, mental, spiritual, intelektual, dan lain-lain potensi kekuatan, seperti kekuatan cinta dan kasih kitang, kiranya tidaklah perlu diragukan. Bagi umat beragama, khususnya yang beragama Islam, yang merupakan terbesar pemeluknya dibenak setiap anggota Yayasan Ridho Allah, manusia merupakan wakil Allah di bumi.
Cobalah Kita baca proses penugasan manusia oleh Allah S.W.T sebagai khalifah-NYA di bumi dalam surat Al-Baqarah ayat 30 – 34 dari Al Quran. Ini sungguh dramatis. Sewaktu Allah S.W.T mengumumkan bahwa Dia akan menunjuk manusia sebagai khalifah-NYA, malaikat keberatan karena manusia menurut sejarahnya tukang bikin onar di bumi. Lagi pula manusia terbuat dari bahan yang lebih hina, yaitu tanah; sedangkan malaikat terbikin dari cahaya.
Jadi, malaikat memberikan argumen tidak tepat kalau manusia diserahi tugas sebagai khalifah. Tetapi Allah S.W.T menjawab bahwa Dia lebih tahu dari malaikat. Kemudian Allah S.W.T menyuruh malaikat menyebutkan nama-nama benda yang ada. Malaikat tidak bisa menjawab. Kemudian pertanyaan yang sama diajukan kepada manusia, yang dalam hal ini diwakili oleh Adam.
Setelah diberi tahu oleh Allah S.W.T sebelumnya mengenai nama benda-benda, Adam tentu bisa memberi jawaban. Manusia ternyata lebih pintar dari malaikat; maka malaikatpun menerima keputusan Allah S.W.T; malaikat sembah sujud di hadapan manusia; kecuali setan. Setan memohon kepada. Allah S.W.T untuk diberi kebebasan menggoda manusia sampai hari kiamat.
Permintaan setan tersebut diizinkan oleh-NYA. Setan menganggap dirinya lebih hebat dari manusia. Maka setanpun terus bekerja menggoda manusia dengan berbagai cara dan tipu muslihat sampai detik ini. Masing masing kita tentu dapat merasaka godaan setan pada diri masing-masing pada satu atau lain kesempatan.
Bagaimanapun proses penugasan manusia sebagai khalifah Allah S.W.T di bumi memberi petunjuk mengenai potensi manusia sesuai dengan keinginan Sang Pencipta.
- Manusia dimuliakan oleh Sang Pencipta, lebih mulia dari malaikat. Secara potensial, manusia memiliki sifat sifat malaikat seperti kejujuran, keterbukaan, sportivitas, dan lain-lain sifat yang baik-baik. Secara khusus manusia diberi berbagai kemampuan agar ia mampu melaksanakan tugas kekhalifahannya di bumi seperti ilmu pengetahuan. Seluruh alam dan seisinya diperuntukkan bagi manusia.
Manusia bisa menjadi amat hebat dan mulia. Tetapi semua ini adalah potensi dan belum tentu dapat direalisasikan, setidak tidaknya pada semua kesempatan. Persoalannya ada iblis yang terus menggoda.
Iblis terus membisikkan yang enak-enak, bahkan yang ekstra enak-enak, baik secara pribadi maupun publik; seperti berzina, menganggap diri atau kelompok sendiri paling hebat, tertipu rayuan konsultan asing seolah-olah mereka punya resep ampuh menyelesaikan perkara perkara pelik seperti mengatasi krisis, korupsi, dan lain lain.
Kesimpulannya, manusia punya potensi besar, baik sendiri-sendiri maupun kelompok.
Manusia di Yayasan Ridho Allah memiliki potensi illahiyah, berbuat yang terbaik;
Apakah ada bukti manusia bisa merealisasikan potensi illahiyahnya?
Tentu buktinya banyak; tetapi yang paling jelas dan telah menjadi pengalaman bersama secara historis yang tidak boleh dilupakan adalah kemampuan manusia mengusir penjajah. Walaupun penjajah sudah punya pengalaman menjajah ratusan tahun dan mereka mendapat dukungan persenjataan dari sekutu-sekutu mereka, toh rakyat kita berhasil mengusir mereka dari bumi Indonesia.
Senjata fisik rakyat amat minimal; utamanya adalah bambu runcing. Tetapi senjata mental dan moral amat kuat oleh karena perjuangan ditujukan untuk menegakkan nilai bahwa panjajahan merupakan satu kezaliman dan penghinaan terhadap sesama anak manusia.
Setelah penjajah diusir secara fisik, tentu tidak ada orang kita yang sadar, berkeinginan untuk mengembalikan penjajah dan penjajahan dalam bentuk fisik maupun mental.
- Kekuasaan yang besar yang diberikan kepada manusia perlu dipertanggungjawabkan kepada Allah S.W.T baik di dunia maupun di akhirat; tentu pengadilan yang seadil adilnya nanti akan berlangsung pada hari pengadilan di depan Allah S.W.T, setelah kehidupan di dunia ini selesai seluruhnya.
Di pengadilan akhirat yang menjadi hakim adalah Allah S.W.T langsung. Tidak bisa berbohong atau meminta bantuan pengacara, sebab lidah akan dibekukan; masing masing anggota tubuh akan memberi kesaksian mengenai apa yang dilakukan selama kehidupan di dunia ini.
Apakah adanya pengadilan akhirat ini wajar untuk dipercaya? Amat wajar kalau dilihat “track record” dari Allah S.W.T. Dia telah menciptakan alam semesta dan mengatur hubungan hubungan keseimbangan diantara berbagai badan di jagat raya sampai ke yang sekecil kecilnya.
Kalau keseimbangan terganggu sedikit saja, maka dunia ini bisa berbenturan dengan planet lain dan kiamatpun terjadi. Dia telah menciptakan waktu. Dia telah menciptakan siang dan malam. Dia telah mengatur dan memprogram proses peciptaan Kita dan kita di rahim ibunda kita masing-masing sebelum kita dilahirkan; dan hanya Dia yang tahu dimana dan bilamana Kita dan kita dipanggil menghadap-NYA.
Dengan “track record” yang demikian sulit untuk tidak mempercayai kemampuan-NYA menggelar suatu pengadilan akhirat. Adanya kepercayaan kuat yang demikian merupakan awal dan syarat bagi menjadikan “Islam benar-benar mendjadi satu pertolongan satu tempat-pernaungan, satu djalan keluar, dan bukan satu pendjara” sebagaimana yang diharapakan Bung Karno.
- Singkatnya dapatlah disampaikan bahwa terpuruknya kehidupan rakyat kita dan rendahnya posisi bangsa di dunia internasional pada saat ini setelah sekian lama indonesia merdeka merupakan kegagalan sistem pembangunan yang dianut selama ini untuk memobilisasikan potensi manusia kita serta memanfaatkan potensi ini untuk merealisasikan tujuan-tujuan Republik yang diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada bulan Agustus 1945.
Kekurangberhasilan pencapaian cita-cita kemerdekaan itu, sebagaimana yang disimpulkan dalam pembukaan UUD 1945, telah membuat sebagian orang merasa bahwa kita belum sungguh-sungguh merdeka.
namun tidak dapat disangkal besarnya rasa kekecewaan di kalangan sejumlah warga negra terhadap hasil hasil kemerdekaan yang telah dicapai hingga saat ini.
Disampaikan apa yang dikatakan Bung Hatta mengenai kemerdekaan untuk membantu memberi perspektif.
...Kemerdekaan bangsa adalah suatu barang yang mulia dan suci, yang tidak mudah dicapai, dan menghendaki korban yang tidak sedikit. Hanya mereka yang berhati tabah dan sabar dapat mencapai cita-cita. Yang lemah dan putus asa jatuh di jalan....
Kalimat di atas diucapkan Bung Hatta pada tahun 1948, sewaktu Belanda sebagai penjajah belum selesai bercokol di negeri ini.
BERPRASANGKA BAIK
Sebagai orang, kita boleh kecewa; tetapi sama sekali tidak boleh menjadi lemah, tidak sabar, dan putus asa.
Putus asa berarti bersangka buruk terhadap Allah S.W.T, Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengatur; dan menyerahkan kembali kemerdekaan ini kepada penjajah versi modern, siapapun dan apapun mereka. Sebaliknya kegagalan yang dirasakan setelah merdeka perlulah dimanfaatkan sebagai tantangan dan dorongan untuk berprestasi mengisi kemerdekaan “yang mulia dan suci”.
Tetapi kemana kita harus bergerak? Mengenai arah gerak inipun kita perlu mencari dan mendapatkan inspirasi dari para pendahulu kita termasuk secara spiritual. Itulah yang perlu dan adil untuk dilakukan, khususnya yang menyangkut hal hal yang fundamental bagi kehidupan bersama.
Kenapa perlu? Kegagalan dan tantangan yang kita hadapi saat ini bukanlah yang pertama yang kita hadapi sebagai bangsa.
kaitan inipun Bung Hatta memberikan arah yang jelas bagaimana menyelesaikan masalah, Bung Hatta menulis antara lain:
“Dengan proklamasi 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia ingin memulai hidup baru dengan berdasarkan Pancasila: Ke Tuhan an Yang Maha Esa, Prikemanusiaan, Persatuan indonesia, Kedaulatan Rakyat, dan Keadilan Sosial. Pancasila ini menjadi sendi Negara Republik Indonesia Dasar Ke Tuhan an Yang Maha Esa adalah dasar yang memimpin cita cita kenegaraan Kita untuk menyelenggarakan segala yang baik, sedangkan dasar Prikemanusiaan adalah kelanjutan praktek hidup dari pada dasar yang memimpin tadi. Dengan dasar dasar ini sebagai pedoman, bangsa kita tidak akan menyimpang dari jalan yang lurus untuk mencapai kebaikan dunia serta persaudaraan bangsa-bangsa. Manakala kesasar sewaktu-waktu dalam perjalanan, senantiasa ada yang membimbingnya kembali ke jalan yang benar
Kita sekarang sudah kesasar dan perlu kembali ke jalan yang lurus. Namun untuk kembali ke jalan yang lurus kita perlu mengetahui dimana kita sekarang
Daya saing yang rendah dan hilangnya kemandirian
Hasil-hasil yang dicapai amat memprihatinkan dan ini dapat terjadi oleh karena pelecehan manusia secara sistematis dalam sistem dan proses produksi khususnya dan proses pembangunan umumnya.
Sebagaimana dimaklumi definisi pendapatan per kapita sebagai ukuran kemajuan yang digunakan dalam ekonomi konvensional merupakan hasil pengurangan pertumbuhan produksi barang dan jasa atau pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan penduduk.
Umpamanya, bilamana pertumbuhan ekonomi adalah 7% sedangkan pertumbuhan penduduk adalah 2% maka pertumbuhan pendapatan per kapita adalah 5%. Semakin tinggi pertumbuhan pendapatan per kapita semakin baik oleh karena itu berarti penduduk akan semakin kaya.
Begitulah pola pikir konvensional yang digunakan selama ini. Ternyata disinilah kita sebagai bangsa telah melakukan kekelliruan mendasar, yaitu menggunakan pertumbuhan pendapatan per kapita sebagai idiologi operasional pada manajemen pembangunan bangsa.
kekeliruan tersebut terletak pada kenyataan bahwa secara operasional kita telah merekayasa pelecehan manusia dengan memberi penilaian utama bahwa manusia merupakan sumber masalah dan pusat biaya.
Memang sepintas lalu rumusan konsep maksimsasi pendapatan per kapita ini masuk akal. Tetapi bilamana ditinjau lebih mendalam maka terlihat betapa melecehkannya rumusan ini terhadap peran manusia dalam sistem dan proses produksi khususnya dan proses pembangunan umumnya.
Disini manusia dilihat utamanya sebagai beban. Bertambahnya jumlah manusia dilihat sebagai penambahan beban berupa peningkatan berbagai kebutuhan seperti pangan, pakaian, perumahan, dan lain lain.
Dalam jangka pendek, setahun umpamanya, ini memang benar. Apa yang dikeluarkan untuk pendidikan dan kesehatan tidak bisa digunakan pada saat yang sama bagi peningkatan produksi industri.
Ini kekeliruan lainnya yaitu terlalu menekankan jangka pendek. Berbicara mengenai peran manusia memerlukan kerangka berpikir dalam jangka panjang. Potensi produktif manusia hanya bisa dibangun dalam jangka panjang dan pengeluaran untuk bidang-bidang pendidikan dan kesehatan perlulah dilihat sebagai investasi.
Dengan tingkat pendidikan yang cukup tinggi dan tingkat kesehatan yang memadai; semakin besar jumlah penduduk, maka semakin besar potensi pertumbuhan ekonomi. Sebagai satu rumusan matematis dan teoritis, konsep pendapatan per kapita itu boleh boleh saja. Tetapi bilamana digunakan sebagai formula perumusan kebijakan pembangunan yang sifat dasarnya adalah jangka panjang maka dampaknya akan fatal; dampaknya fatal oleh karena menganggap manusia sebagai sumber masalah semata, sebagai sumber biaya semata akan mengabaikan perannya sebagai sumber pertumbuhan dan kemajuan.
Kemampuan pikir manusia pengelola pembangunan yang terbatas dan sumber-sumber lain yang juga terbatas diarahkan ke jurusan yang salah; ke jurusan memerangi masalah dan bukan memecahkan masalah dengan akibat fatal dari segi memajukan daya saing bangsa. Adanya sentralisasi pembangunan bangsa dan pemerintahan selama ini dan pembatasan pembatasan kepada kebebasan manusia untuk berkiprah merupakan kelanjutan saja dari pola pikir manusia sebagai sumber masalah dan pusat-pusat biaya.
Pola pikir manusia sebagai sumber masalah dan pusat biaya inilah yang telah mengakibatkan begitu banyak kekejaman dan tindakan-tindakan a-manusiawi
Menganggap manusia sebagai sumber masalah dan pusat biaya semata bukan hanya merupakan pelecehan terhadap manusia tetapi juga berlawanan secara diametris dengan konsep manusia sebagai wakil Allah di bumi dan manusia sebagai ciptaan-NYA yang terbaik dan dimuliakan-NYA, sebagaimana yang disampaikan dalam surah Al-Baqarah ayat 30 – 34.
Bangsa kita jadi kualat karena tidak mensyukuri nikmat-NYA yang berlimpah berupa jumlah manusia yang banyak.
Dari segi agama Islam, dapat dikatakan ini kesalahan amat mendasar.
Materi dijadikan Panglima, manusia alat semata.
Seharusnyalah jumlah manusia yang banyak dipupuk kemampuannya di segala bidang utamanya kemampuan Manajemen dan teknologinya, sehingga mereka mampu memberi rahmat bagi dirinya dan manusia umumnya dengan maksimal. Oleh karena langkah langkah yang ditempuh adalah yang sebaliknya, maka tidaklah mengherankan bilamana daya saing SDM kita rendah adanya.
Pelecehan terhadap peran manusia dalam proses pembangunan terealisir bukan saja melalui rendahnya pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan yang dilihat hanya sebagai beban biaya yang perlu diminimalisir tetapi juga melalui upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi.
Bagaimana pertumbuhan ekonomi bisa ditingkatkan? Tentu tidak dengan mengkitalkan kemampuan manusia sebab tadi sudah dikatakan manusia begitu dilecehkan dalam konsepsi berpikir pendapatan per kapita. Jadi, kalau tidak dengan kemampuan manusia, dengan apa? Jawabannya adalah dengan kemampuan modal.
Ini kekeliruan lainnya yaitu terlalu mengandalkankan peran modal dalam mengupayakan pertumbuhan ekonomi.
Dengan aplikasi modal dalam jumlah yang besar dan meningkat maka pertumbuhan ekonomi akan bisa meningkat dalam jangka singkat, pendapatan per kapita juga akan naik dan Yayasan Ridho Allah akan meraih kemajuan,
Tetapi dari mana modal bisa diperoleh? Modal dalam jumlah besar bisa diperoleh dari INHOUSE , yang sedang diupayakan pemasukan modal kerja saat ini oleh manajemen di yayasan , makin besar makin baik.
Kehilangan percaya diri dan pengagungan yang serba asing diperkuat dengan fakta fakta lapangan sebagai akibat dari kebijakan yang dihasilkan sendiri sebagaimana yang akan disajikan di bawah ini. Ini semua bisa terjadi bukan oleh karena kesalahan orang asing tetapi kesalahan sendiri.
Namun fakta-fakta lapangan yang dihasilkan oleh kebijakan pembangunan yang ditempuh selama puluhan tahun berbicara lain. Fakta-fakta ini mengatakan bahwa memanglah SDM Indonsia kurang memiliki daya saing dan bahwa pembangunan ekonominya hanya bisa dilanjutkan dengan pemasukan modal yang besar termasuk modal asing. Inilah kesimpulan yang diperoleh dari proses pembangunan selama ini, kesimpulan kesimpulan yang sudah tentu tidak kita senangi bersama.
Kesimpulan-kesimpulan ini diperoleh bilamana ditanyakan darimana asalnya pertambahan kekayaan atau pertumbuhan ekonomi kita yang selama ini dialami.
Hal ini berarti rendahnya daya saing bangsa dan hilangnya kemandirian yang diperlihatkan antara lain oleh hal hal sebagai berikut:
- Dengan bertambahnya kekayaan bangsa, pemilik modal tambah kaya. Yang tidak memiliki modal khususnya yang memiliki hanya tenaga kerja saja akan semakin tertekan baik oleh karena pengangguran yang cenderung maningkat maupun oleh karena daya beli pendapatan masyarakat yang cenderung berkurang. Semua ini berarti yang kaya tambah kaya yang miskin tambah sulit hidup. Kesenjangan yang besar ini merupakan pemandangan sehari hari di Jakarta. Di tengah anak anak yang meminta minta belas kasihan, Rp1000–Rp2000, kita menyaksikan penggunaan kendaraan pribadi super mewah seperti mobil-mobil merk Jaguar, Mercedes 500, dan lain lain yang masing-masing berharga di atas Rp500 juta. Inilah contoh konkrit pelecehan sistemik terhadap sebagian anak manusia oleh anak manusia lain, dilakukan dengan sadar atau tidak oleh pihak pertama terhadap pihak kedua.
- Penghematan, peningkatan efisiensi dan produktivitas pemanfaatan sumber-sumber yang dimiliki termasuk sumber daya alam sebagai sumber pertumbuhan ekonomi kurang mendapat perhatian.
- Sebaliknya yang menonjol selalu adalah pemborosan dan upaya mendapatkan utang baru; mengenai pemborosan, kita dapat perhatikan berbagai perjalanan keluar negeri oleh para pejabat yang manfaatnya bagi kepentingan rakyat dapat dipertanyakan; dan betapa mewahnya gedung gedung pemerintah seperti yang terdapat di Jalan Thamrin, dan di Jalan Budi Kemuliaan, Jakarta, yang ketika seseorang berada di padanya dapat bertanya apakah ini semua dapat dibenarkan di tengah begitu banyak rakyat yang terpuruk; semuanya ini merupakan isyarat betapa kuatnya budaya hedonisme dan kemegahan materi telah tertanam di kalangan sebagian elit bansa ini;
- Ada dampak kultural yang amat merugikan bagi pembentukan daya saing masyarakat kita dengan dominannya peran tambahan modal dalam pertumbuhan ekonomi keluarga yaitu terbentuknya sistem insentif yang melulu didasarkan pada uang dan materi dalam organisasi organisasi kerja seperti pemerintahan dan usaha usaha; dan anggapan berlebihan terhadap kemampuan orang asing dan cenderung merendahkan terhadap kemampuan bangsa sendiri.
Sistem insentif materi dan uang telah mengusir keluar dan tidak memberi tempat kepada sistem insentif yang lain, yang lebih tinggi seperti profesionalisme, nasionalisme dan sistem balas jasa yang gaib atas dasar kepercayaan agama, dosa dan pahala. Di daerah daerah tertentu, budaya uang dirumuskan secara praktis dan sinis dengan menggunakan istilah istilah tertentu. SUMUT, umpamanya, diartikan sebagai semua urusan harus memakai uang tunai.
Sistem insentif melulu uang dan materi telah mendorong terbentuknya budaya korupsi ke tingkat yang ekstrim. Waktu zaman pemerintahan Bung Karno, korupsi masih malu malu dan dilaksanakan di bawah meja. Di zaman Soeharto, korupsi sudah terang terangan, dan dilaksanakan di atas meja.
Di zaman sesudah Soeharto, mejanyapun ikut dikorupsi. Ungkapan ungkapan sinis demikian dengan baik menangkap dan mengungkapkan nuansa Indonesia sebagai salah satu negara terkorup di dunia. Korupsi sulit dikurangi ke tingkat minimal selama sistem insentif didominasi oleh satu unsur saja, yaitu uang.
Rasa percaya diri yang kuat dari para pemimpin dan anggota Kelompok Yayasan Ridho Allah untuk menang bersaing di dunia Usaha, insya Allah terwujud.
Untuk mencapai kondisi itu tentunya ada caranya. Ada ilmunya. Ada tahapannya. ada 5 tahap pada membangun dan mengembangkan bisnis:
1. Mastery
2. Niche
3. Leverage
4. Team
5. Synergy
mengenai tahap yang pertama. Mastery – adalah tahap awal pada mengembangkan bisnis. Bagaimana bisnis itu bisa menghasilkan profit secara produktif berdasarkan informasi yang cukup untuk pengambilan keputusan.
Apa yang harus di-mastery (dikuasai)?
1. Uang, atau cashflow.
Yaitu bagaimana kita menguasai data keuangan historis dan bagaimana dengan data itu kita bisa melakukan sesuatu di masa depan. Cashflow is king. Dengan cashflow itu kita mau buat apa? Jangan terpaku pada mengejar profit di kertas, tapi uangnya nggak ada di tangan. Kita harus kuasai ini. Ini adalah pondasi bisnis kita. Dengan cashflow yang kuat, apa pun bisa kita lakukan.
2. Target break even atau titik impas.
Berapa banyak produk yang harus dijual, atau berapa banyak pelanggan, atau berapa rupiah penjualan per hari yang dibutuhkan untuk mencapai target titik impas itu. Kalau kita nggak tahu ini, bisa bahaya… Misalnya, sewa tempat, biaya, plus gaji karyawan per bulan adalah 3 juta, artinya biaya kita adalah 100 ribu per hari, berarti keuntungan yang harus diperoleh adalah minimal 100 ribu per hari. As simple as that.
3. Profit margin atau marjin keuntungan.
Harus ditarget atau dibuat budgetnya, berapa profit margin yang harus didapat per hari untuk mencapai target yang diinginkan. Harus jelas berapa persentasenya atau nilai nominalnya. Mengutak-atik hitungan margin ini merupakan keasyikan tersendiri bagi kita. Inilah salah satu permainan bisnis yang menggairahkan.
4. Reporting atau pelaporan.
Kita harus tahu angka-angka vital pada bisnis kita per hari, per minggu, per bulan sehingga kita bisa membuat keputusan berdasarkan ini di masa depan. Berapa produk terjual hari ini, berapa marginnya, berapa jumlah transaksi hari ini, berapa prospek yang masuk ke pada toko, dan sebagainya. Kita harus tahu ini.
5. Test and Measure atau uji ukur.
Apa pun yang kita lakukan harus diuji dan diukur hasilnya. Jangan pernah melakukan sesuatu tanpa diukur tingkat keberhasilannya. Buat indikator kinerja kunci, yaitu apa saja indikator-indikator di bisnis kita yang merupakan kunci atau penentu vital. Harus kita identifikasi faktor-faktor ini. Misalnya kita buat brosur. Berapa biayanya? Bagaimana hasilnya? Untung atau rugi? Kalau untung, lanjutkan. Kalau rugi, diubah, diperbaiki atau dihentikan.
6. Delivery.
Delivery juga kita artikan memberikan apa yang kita janjikan. Kalau kita sudah terima uangnya, ya kita harus berikan barangnya sesuai yang kita janjikan mencakup jumlah, kualitas dan waktu pengirimannya. Jangan berusaha menjanjikan yang hebat atau superior. Lebih baik yang biasa-biasa saja tapi konsisten. Berusahalah menutupi setiap lubang kelemahan yang ada. Sedikit demi sedikit.
7. Time.
Kuasilah waktu. Produktivitas kita, bisnis kita, organisasi kita sangat tergantung kepada kemampuan kita menguasai waktu. Banyak teori mengenai penguasaan waktu ini, misalnya teori pareto (prinsip 80/20) atau the power of least effort.
8. Goal atau tujuan.
Tujuan itu harus jelas dan disampaikan kepada organisasi kita. Tujuan itulah sebagai penunjuk arah bagi orang-orang yang mengikuti di belakang kita. Dari mana kita melangkah dan sampai di mana kita nanti, harus jelas dimengerti oleh mereka.Self mastery. Menguasai diri sendiri, atau pengendalian diri. Ini menyangkut disiplin. Ini menyangkut fokus. Ini adalah harga yang harus kita bayar untuk mencapai kesuksesan.
BAB VI
P E N U T U P
I n s p I r I n g W o r d s
"..s e b u a h t r a d I s I y a n g d I d a s a r k a n a t a s g a g a sa n
s e de r h a n a b a h w a k I t a m e m I l I k I I k a t a n s a t u s a m a l a I n , d a n I k a t a n y a n g m e n y a t u k a n k I t a I t u j a u h l e b I h k u a t
d I b a n d I n g k a n s e s u a t u y a n g d a p a t me m I s a h k a n k I t a .
J I k a s e m a k I n b a n y a k o r a n g y a n g p e r c a y a
p a d a k e b e n a r a n p r o p o s I s I I t u
d a n b e r t I n d a k s e s u a I d e n g a n n y a ,
m a ka k i t a y a k I n k I t a t I d a k h a n y a d a p a t m e n y e l e s a I k a n s e t I a p p e r s o a l a n ,
t e t a p I k I t a j u g a m a m p u m e l a k u k a n s e s u a t u
y a n g ( le b I h ) b e rm a k n a b u a t k e h I d u p a n y a n g l e b I h b a i k .
( di -citra grand- dalam sebuah perenungan)
|
|
| Kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif menuju sukses. Pengetahuan usaha Pengetahuan tentang peran dan tanggung jawab Etika Berwirausaha : 1. Agama
–aktualisasi kecerdasan kreatifitas dan keterampilan - membantu masyarakat - mempunyai banyak relasi - Kebebasan
a. Aspek perencanaan Pertama dipasar dengan produk dan jasa baru
( Strength – Kekuatan, Weakness – Kelemahan, Kriteria yang dapat dijadikan penilaian :
"Dan Dialah (Allah) yang memudahkan lautan supaya kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar, dan kamu keluarkan darinya hiasan (mutiara) yang kami pakai, dan kamu lihat kapal-kapal berlayar padanya, agar kamu memperoleh rizki (karunianya) dan agar kamu bersyukur" |
Plan, Do, Check, Action
Niat
Ikhtiar
Tafakur
Ikhlas
Do’a
(Ruhnya adalah Sabar, Syukur & Ikhlas)
Pengajian Ridho Allah
Plan, Do Check, Action adalah konsep dari barat mengenai konsep manajemen yang dikenal luas dan sudah sangat populer dilaksanakan. Islam adalah menggunakan bahasa yang berbeda, namun lebih luas penggunaannya dan lebih dalam maknanya.
Dasar utama Adalah Allah, Maha Penggenggam, Pemilik, Yang Awal, Perencana, Pemelihara, Berkehendak dan Maha Menentukan dan Yang Akhir.
Dengan kesadaran dan berlandaskan hal itu dan menyadari bahwa terdapat sifat-sifat Allah yang dapat dimiliki oleh manusia sebagai anugerahNya dan ada yang Mutlak Milik Allah. Dengan menyadari hal tersebut diatas, setiap diri adalah wajib melakukan sesuatu diatas dunia ini, dengan melihat ketentuan dan aturan-aturan Allah dan harapkan hasil untuk mendapatkan Ridho Allah berupa kesuksesan, keberhasilan dan kebahagiaan yang hakiki sehingga mempunyai hasil di dunia dan mempunyai tabungan untuk akhirat kelak.
Plan - Perencanaan
Dalam setiap kegiatan, adalah keharusan membuat perhitungan dan perencanaan, dengan mengingat pada salah satu sifat indah Allah yaitu Maha Merencanakan, adalah terkandung pelajaran bahwa Allah sejak mulai menciptakan alam semesta melalui proses, dalam Al Qur’an dinyatakan terdapat beberapa tahapan dalam membuat alam semesta beserta isinya, kemudian dalam penciptaan diri manusia melalui proses 9 bulan dalam alam Rahim sang Ibu, dan pada bulan keempat (Qur’an Tidak menyatakan bulan keempat, tetapi berupa hitungan rasional adalah kurang lebih 4 bulan), meniupkan Ruh pada sang Jabang Bayi, dan Malaikat bertanya pada Allah bagaimana, hidup & matinya, susah & senangnya, termasuk perjalanan hidupnya, semua itu dicatat oleh Allah dalam kitab yang Nyata yaitu Lauhil Mahfuz, hal tersebut adalah pengajaran bagi manusia untuk Merencanakan, adalah pasti Allah mampu dengan berkata “Kun” maka Faya Kun (Akan Terjadi), manusia diberi anugerah akal untuk berpikir dan secara logis adalah kodrat manusia, namun jangan menjadikan akal sebagai Tuhannya, bahkan hanya dengan “Kun” maka Allah akan mampu menghilangkan kemampuan akal termasuk menghilangkan jiwa seseorang.
Dari ayat di atas terlihat bahwa Allah mengajarkan perencanaan dengan juga menyertakan proses tahapan-tahapan tertentu untuk diikuti oleh manusia dalam berkegiatan segala sesuatu.
Dalam ayat-ayat lain terdapat ketentuan bahwa Jadikanlah Shalat dan Sabar sebagai penolongmu, mengandung arti bahwa tidak mudah melakukan sesuatu, namun jagalah hati dengan shalat dan sabar bagi kesuksesan dunia dan akhiratnya.
Harap dan Cemas (Ra’ja & khauf) adalah diarahkan pada Ridho Allah, sehingga dalam merencanakan sesuatu, keyakinan tidak berlebih dan senantiasa mengingat Allah agar waspada dari kesombongan, takabur, ‘Ujub dan Ri’ya, mengingat bahwa sesuatu yang telah direncanakan oleh manusia hanya dengan “Kun” dari Allah kemungkinan akan menjadi hancur.
Adapun penolongnya adalah Shalat dan Sabar, karena Allah tidak mungkin mendzolimi mahlukNya, hanya diri sendirilah yang mendzalimi dirinya sendiri, do’anya adalah pengakuan kenistaan diri dari Nabi Yunus ketika sedang diuji Allah dimakan dan berada dalam perut sebuah ikan, bayangkan betapa keadaanya mungkin membuat putus asa dengan berbagai keadaan, kegelapan, baunya dalam perut ikan, dll.
Dengan berdoa La illaha illa Anta Subhanaka inni kuntu minnaddzalimiin”. Keyakinan dan Optimisme karena Allah, adalah milik umat islam sebagai karunia Allah, dan bergeraklah dengan kegiatan-kegiatan atau tindakan nyata.
Do – Pelaksanaan
Adalah kegiatan setelah perencanaan, dilakukan dengan mengawali dengan Basmallah merupakan harapan agar senantiasa dalam lindungan, kasih sayang Allah. Dinamisasi langkah dan tindakan adalah milik umat islam dari Allah SWT, dalam Al Qur’an terdapat Alam Nasyrah bahwa didalam kesulitan dan setelah kesulitan adalah kemudahan, dan diakhiri dengan ayat lakukan kegiatan lain setelah selesai dari satu kegiatan, serta ayat dalam
adalah menunjukkan dinamisasi pergerakan kehidupan umat islam, kemudian proses penggunaan berbagai model usaha, pencatatan atau administrasinya, kita dapat melihat bahwa ayat al Qur’an menyatakan bahwa Ambilah Saksi pada saat terjadi pinjam meminjam, menunjukkan proses kegiatan bisnis atau usaha akan terdapat proses utang-piutang dengan menyatakan butuh orang ketiga sebagai saksi dan bahkan Allah, memerintahkan kita untuk melakukan pencatatan, sehingga tidaklah salah dalam proses kegiatan melakukan proses pencatatan secara administratif, demikian juga Allah mencontohkannya dengan menyatakan bahwa kita didampingi oleh dua malaikat yaitu Munkar dan Nakir, sebagai pencatat amal baik dan buruk, dan tentunya Allah bukan tidak mampu mengingat atau tidak tahu atau tidak melihat kegiatan amalan mahluknya,
Namun adalah pelajaran bagi manusia untuk melakukannya dengan proses pencatatan. Rasulullah adalah pedagang sejati, demikian riwayat menyebutkan, demikian juga bahwa sejak jaman Makiyah, terdapat periode Madaniyyah, dalam Makiyyah adalah penegakan Tauhid, dan setelahnya adalah penegakkan Syariat Islamiyah dalam berbagai kehidupan, tidak ada sejarah manapun yang menunjukkan bahwa kepemimpinan Rasulullah SAW adalah yang terbaik dan terbesar wilayahnya, terkandung makna Hal pertama adalah spiritualnya berupa ketauhidan pada Allah semata (Periode Makiyyah), dan dilanjutkan dengan periode antar sesama mahluk, kerja sama antar wilayah, antar golongan dan etnis adalah ajaran islam, kesuksesan, kepemimpinan dan kerjasama adalah ajaran islam, dinamisasi kegiatan, hidup.
Administratif dan kegiatan yang menyertainya adalah milik Islam, Allah meridhoi Islam sebagai agama yang terbaik sehingga jelas didalamnya terkandung sesuatu yang terbaik, dalam berbagai hal. Terdapat stereotype bahwa kegiatan agama adalah terpisah dari kegiatan pekerjaan dan bisnis, Tidak sama sekali tidak, tetapi kegiatan bisnis dan pekerjaan adalah bagian dari hidup seseorang yang harus dilalui dengan nafas islam.
Bagi kita ,orang islam, anggota pengajian Ridho Alah, kesuksesan duniawi adalah nomor dua setelah kesuksesan nomor satu berupa akhirat atau ukhrowi (Zuhud).
Check – Control – Pengendalian & Evaluasi
Suatu kegiatan melakukan tindakan pemeriksaan, pengontrolan dengan berbagai metode dan langkahnya dilakukan untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Terdapat keyakinan bahwa terdapat hari hisab, dimana setiap orang mempunyai catatan amalan-amalan masing-masingnya, sehingga yang timbangan amalannya baik akan masuk surga dan yang amalan buruknya banyak akan masuk neraka, adalah suatu proses pemeriksaan terhadap setiap diri manusia untuk senantiasa mengontrol kegiatan selama hidupnya untuk mendapatkan hasil yang terbaik, dengan berbagai ukuran dan aturan syariah diajarkan bagi manusia untuk senantiasa mengendalikan hawa nafsunya,
Berbagai proses pencatatan termasuk pencatatan setiap amal perbuatan oleh malaikat munkar dan nakir adalah cerminan bahwa terdapat proses evaluasi diri dengan control langsung dari Allah melalui pencatatan Malaikatnya.
Terdapat dua hasil yang digambarkan untuk manusia bahwa kalau tidak neraka yaitu surga, sehingga kalau sorga adalah orang yang beruntung dan kalau neraka adalah orang yang merugi, demikian pula Al hadits dari sayyidina Ali karamallahu Wajhahu,
Adalah orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan esok adalah lebih baik dari hari ini.
Pernyataan itu sudah merupakan kalimat istimewa dalam islam yang menyatakan bahwa setiap hari terdapat proses kontrol diri, untuk mereview atau menganalisa atau bertafakur melihat keadaan diri, apakah sudah lebih baik hari ini dibandingkan dengan hari kemarin.
Terkandung pula secara islami bahwa ukurannya adalah bukan keberhasilan secara lahiriah atau duniawi saja, namun juga adalah ukuran secara batin, termasuk cara menggapai keberhasilan pekerjaan apakah dilakukan dengan halal atau haram, dengan menganiaya orang lain atau tidak, betapa keberhasilan dalam islam tidak menyatakan dalam nilai-nilai yang bersifat duniawi saja.
Seseorang lahir dalam keadaan susah, sakit ataupun keadaan lain bukan karena keinginannya, namun adalah kehendak mutlak Allah.
Kalimat Hari ini lebih baik dari hari kemarin serta hari esok lebih baik dari hari ini, mencerminkan adanya proses berkesinambungan atau terus menerus setiap saat, mengingatkan pada konsep Total Quality Management dengan Continuous Imprvement/Kaizen serta slogan Good Enough is Never Good Enough atau Zero Defect. Dalam Islam konteks untuk terus berkembang adalah kewajiban yang harus diupayakan dengan memaksimalkan ikhtiar karena Allah, selama kegiatannya tidak menyimpang dari syariat adalah keuntungan bagi dirinya dan harus dilakukan dengan proses terus menerus.
Allah menciptakan segala sesuatu secara berpasangan, Malam dan Siang, Hujan dan Panas, Laki & Perempuan, Susah dan Senang, adalah mutlak milik Allah setiap keadaan tersebut dan adalah hal yang kita sadari bahwa hal itu terjadi berkesinambungan terus sampai akhir jaman.
Tinggal keuntungan islami yang diharapkan adalah bagaimana menyikapi setiap keadaan tersebut agar beruntung disisi Allah SWT dengan ikhlas menerima ketentuanNya serta melaksanakan kewajiban ikhtiar sebagai manusia.
Adalah dengan dasar Iman, keyakinan atas Qodho dan Qadar dari Allah untuk terus berupaya tanpa menyerah pada keadaan, Allah mengajarkan Do’a, misalnya riwayat Rasulullah dengan seorang sahabatnya sedang dalam suatu perjalanan dan malaikat jibril datang untuk memberitahukan pada beliau untuk membaca Salawat Mubrom – “Allahumma Shalli ‘Alla Sayidina Muhammaddin, Wad’fa Ana Minal Balaa’il Mubromi innaka ‘Alla Kulli Syaiin Qodir” sebanyak tujuh kali sehingga setelah membaca doa tersebut sahabt Rasulullah tersirami dengan debu, yang seharusnya adalah tertimpa dengan batu,
Adalah do’a yang dapat merubah Qodho yang diberikan oleh Allah, yang tercatat dalam Lauhil Mahfuz dan dapat berubah sesuai dengan Qadarnya.
Action – Tindakan Kembali setelah Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan yang harus dilakukan untuk tujuan memperbaiki diri, dalam ayat al Qur’an terdapat pernyataan Allah SWT, bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai suatu kaum itu merubahnya.
Adalah niat yang utama, berupa keinginan untuk merubah keadaan menjadi lebih baik sehingga menimbulkan motivasi dalam diri sendiri, dan menerbitkan energi biologis untuk pergerakan sinyal syaraf di otak sehingga terjadi pergerakan aktifitas lahiriah melakukan sesuatu, dan karena Allah segala sesuatu terjadi, demikian juga niat adalah hak Allah yang diterbitkan kepada manusia (Qadar).
Sehingga Nabi Sulaiman dalam Al Qur’an berdoa Ya Allah karuniakanlah pada kami ilham untuk senantiasa mensyukuri ni’mat yang telah engkau berikan pada kami dan ibu-bapak kami, serta untuk melakukan amalan-amalan soleh, dan rahmatilah kami untuk menjadi orang-orang shaleh.
Bahwa ide, niat dan keinginan pun timbul karena dan dari Allah semata, betapa ni’mat mana lagi yang engkau dustakan (Ar Rahman). Dengan demikian kembali awali dengan do’a dan harapan pada Allah, sehingga timbul ilham berupa ide-ide untuk melakukan kegiatan yang terbaik sesuai dengan Qudrah dan Iradah diri kita masing-masing.
Adalah Mutlak ketentuan Allah mengenai hasil yang terjadi karena Allah adalah yang Maha berkehendak, lagi maha Mengetahui yang terbaik bagi setiap mahluknya.
......Demikian semoga Allah senantiasa memberikan yang terbaik bagi kita, Anggota pengajian Ridho Allah dan kepada ummat Islam sedunia ....amien Yaa Robbal Allamien...
Alhamdulillah semoga bermanfaat....
Jakarta , 04 April 2008
NOT 4 VOLEME 2
CORETAN SEKITAR PROBLEM SOLVING
Kita sering berbicara tentang problem solving. Apa sebenarnya problem
solving dan mengapa harus ada problem dan solving ? Sebuah pertanyaan yang
sebenarnya tidak perlu lagi dijawab.
Karena tampaknya setiap individu manusia pasti mengetahuinya. Cuma mungkin ketika dibahasakan ke dalam sebuah kata-kata jawabannya satu sama lain akan berbeda. Tapi pada intinya mereka bersepakat bahwa hidup adalah ancaman, tantangan dan perjuangan. Oleh karenanya peran aktif yang dilakukan oleh manusia untuk bersiap siaga dalam mengantisipasi segala sesuatu yang akan menimpa dirinya mutlak diperlukan.
Jadi setiap peran aktif yang dimainkan oleh manusia dalam rangka mengantisipasi keadaan yang terjadi atau mempertahankan eksistensinya bisa kita sebut sebagai problem solving.
Mungkin itulah artikulasi problem solving dalam langkah yang lebih praktis.
Kini penggunaaan istilah problem solving telah mengalami perluasan makna.
Artikulasinya tidak saja terbatas pada tataran aktivitas praktis, namun
teori antisipasi masalah yang masih berupa kerangka pemikiran sudah dapat
dikategorikan kedalam istilah problem solving.
Bahkan kini ada kecenderungan penggunaannya hanya terbatas pada pembicaraan teori antisipasi masalah. Maka ketika kita mendengar istilah problem solving bayangan kita langsung tertuju pada pembicaraan teori antisispasi masalah dan cara penyelesaiannya.
Kapan teori problem solving mulai dikenal manusia. Saya kira -walaupun belum
ada data yang otentik menyatakan ini- teori ini sudah diketemukan sejak pertama
abad kemanusiaan lahir. Karena saya berkeyakinan bahwa pada diri manusia ada
sebuah kekuatan tertentu yang mendorong dirinya berbuat sesuatu ketika jasad dan
kejiwaannya disentuh oleh sebuah keadaan. ini bisa dibuktikan ketika seorang
bayi merah merasa lapar, ia akan berusaha mencari jalan penyelesaiannya
lewat tangisan yang merupakan ekspresi kelaparan sekaligus panggilan kepada orang
tuanya untuk memberikan makan.
Begitu pula Al Quran dibeberapa ayatnya telah mengisyaratkan bentuk problem
solving yang dihadapi umatnya ketika dihadapkan pada pemasalahan yang sangat
dilematis. Sebagai contoh bisa dilihat pada surat Luqman ayat 15 yang
berbunyi "
Dan jika keduanya (orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku
sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti
keduanya, dan pergauilah keduanya di dunia dengan baik ......" . Dalam hal
ini Al quran berusaha memberikan jalan penyelesaian kepada manusia yang
dihadapkan pada permasalahan yang cukup dilematis.
Dimana keberadaannya sebagai anak yang harus taat dan patuh kepada keduanya dipertantangkan pada seruan Ilahi yang melarangnya untuk mematuhi perintah keduanya ketika menyuruhnya berbuat musyrik.
Begitu pula pada sunnah nabi ada beberapa hadits yang secara eksplisit
membeberkan antisipasi atau penyelesaian masalah. Satu diantaranya jawaban
rasulullah ketika diminta jawaban tentang prioritas berbuat baik yang
dilakukan oleh seorang anak kepada orang tuanya, mana yang didahulukan. Dalam
haditsnya ia menjawab," Ibumu." Kemudian sahabat bertanya kembali, " Setelah itu siapa ? Ibumu' Jawab Rasulullah.
Hal ini terulang sampai tiga kali. Baru pada ke empat kalinya ia
menjawab," Bapakmu." Jadi sebenarnya dari dua nash tadi kita bisa memperoleh
gambaran bahwa Tuhan menyuruh manusia untuk senantiasa berperan aktif dalam
menghadapi segala sesuatu baik yang menyenangkan atau sebaliknya. Dan
senantiasa mengembangkan kemampuan rasionalitasnya dalam memformat sebuah bentuk aktifitas kemanusiaan. Karena nampaknya dinamika kehidupan lahir dari pergumulan usaha aktif manusia melawan segala bentuk tantangan atau keadaan yang ada di sekelilingnya.
Kembali pada problem solving, nampaknya pembahasan hal ini secara rapi dan
sistematis sudah dirintis oleh para ulama Islam sejak abad ke-2 hijriyah
terutama setelah diketemukannya ilmu ushul fiqh.
Dalam pembahasannya -baik dalam ushul atau qawaid fiqh- ditemukan beberapa metode problem solving namun jangkauan operasionalnya masih terbatas pada wilayah fiqh.
Beberapa sampel yang diberikan tampaknya metode-metode itu belum mendapatkan optimalisasi fungsi, sehingga dalam prakteknya terkesan sempit dan kaku. Diantara metode-metode itu adalah teori pentarjihan dan penggabungan. Atau metode yang ada dalam pembahasan ilmu qawaid disana kita akan menjumpai beberapa teori penyelesaian yang sudah disistematiskan kedalam sebuah kaidah-kaidah hukum layaknya pasal-pasal dalam undang-undang.
Diantara kaidah-kaidah itu adalah seperti kaidah " sesuatu
yang diperolehnya secara haram, maka haram pula dipergunakannya". Bentuk praktis
dari kaidah ini seperti seorang yang mendapatkan hadiah uang dari judi, maka uang
itu haram dipergunakannya.
Kaidah lain seperti " rasa yakin tidak dapat digantikan oleh
keragu-raguan". Kaidah ini bisa dipakai oleh seseorang yangsudh berwudlu
kemudian ia ragu-ragu apakah wudlunya itu sudah batal atau belum. Maka dalam
keadaan demikian ijalan penyelesaiannya bisa merujuk kembali pada kaidah ini.
Atau kaidah " ketika terjadi akulturasi dua bentuk dalil/ perbuatan yang saling
berlainan (halal dan haram), maka yang diambil (menjadi sandaran) hukum adalah dalil/ perbuatan haram.
Hal ini bisa terlihat ketika terjadi pertentangan dua dalil (halal dan mubah) dalam ketentuan menikahi dua bersaudara sekaligus dengan bentuk kawin sumpah (milku al yamin) maka didahulukan dalil yang menyatakan haram.
Pembicaraan tentang problem solving kini tidak hanya menjadi milik satu bidang
kajian tertentu saja (seperti fiqh), akan tetapi jangkauannya sudah meluas pada
berbagai bidang kehidupan. Sehingga kini sudah dipastikan bahwa setiap bentuk
aktivitas atau bidang yang menjadi garapan manusia tidak akan lepas dari
pembahasan problem solving ini. Apalagi sekarang ini kita mengenal dalam sebuah
bidang kerja usaha atau aktivitas manusia apa yang dinamakan dengan
manajemen konflik yang salah satu elemen terpentingnya adalah pembahasan sekitar
problem solving. Dan tidak aneh lagi bila kita membaca iklan tentang seminar/ diklat tentang problem solving.
Dalam pembahasan tema problem solving ada satu kajian yang boleh dibilang
merupakan kajian terpenting. Kajian ini adalah kajian yang berputar pada pembicaraan sekitar landasan atau standar dalam menentukan langkah operasional penyelesaian. Sebagian orang mengatakan bahwa standar dalam menentukan langkah operasional adalah kembali pada rutinitas kebijakan individu seseorang.
Rutinitas individu yang dimaksud adalah rutinitas pada seseorang yang memiliki tingkat kestabilan emosi yang konstan disamping keistimewaan-keistimewaan tertentu yang menjadi pra syarat seorang penentu kebijakan dalam menentukan
langkah strategisnya.
Kemampuan seperti ini biasanya didapatkan melalui sebuah proses eksperimen yang begitu lama, di samping melalui latihan-latihan yang dilakukan secara intensif.
Sebagian lain mengatakan bahwasanya sebuah kemampuan
tehnis dalam menyelesaikan sesuatu banyak terinspirasi dari sebuah sandaran
tetap yang menjadi rujukan utama dalam melakukan proses operasional sebuah
penyelesaian masalah. Rujukan ini bisa berbentuk teori-teori problem solving atau filsafat tertentu yang memiliki hubungan erat dengan pembahasan problem solving. Karena standar-standar itu selain memiliki legalitas secara keilmuan juga telah mengalami eksperimen sejarah yang begitu lama.
Sebagai contoh banyak para pemegang kebijakan dalam pemerintahan di negara-negara Eropa merujuk dalam kebijakan strategisnya atau penyelesaian problematik pemerintahannya pada asas Filsafat Utilitarianisme yang telah dikembangkan John stewart Mill dalam bukunya "System of Logic ".
Salah satu semboyannya yang terkenal adalah "Memperoleh sebesar-besarnya kebahagian untuk sebagian besar orang" . l
Lalu bagaimana dengan langkah kita ? Saya kira penggabungan dua bentuk
pendekatan akan membawa pada hasil yang lebih memuaskan. Karena bukankah
pada saat menggabungkan keduanya sebenarnya kita telah melakukan satu bentuk
problem solving.
"i'mal al kalam awla min ihmalihi" Allahumma ihdina
Belakangan ini kita tertarik dan memikirkan istilah yang dipopulerkan oleh Gery Robert ini. Istilah ini juga dimuat di buku Financial Revolutionnya Tung Desem Waringin. Tahun 2002 lalu kita juga sempat baca bukunya Robert Allen, Multiple Streams of Income. Idenya kurang lebih sama. Namun kita masih belum mempraktekkannya dengan serius. Income kita baru dari 2 sumber saja. Dipikir-pikir, enak juga ya, punya sumber income dari bermacam-macam sumber.
Di dekat rumah orang tua kita di Pademangan, ada Pak Haji Sodikin, pensiunan dari PT. Pos Yayasan Ridho Allah. Menurut kita, Haji Sodikin ini salah satu contoh orang yang punya MSI. Dia punya rumah dua lantai. Kebetulan lokasinya di hook. Dari rumah itu dia membuat MSI dengan membagi-bagi ruangan di rumahnya. Ada yang untuk Kos-kosan, rental Playstation, studio musik, toko kelontong, wartel, rental mobil, dealer motor, agen gas dan Aqua dan kontrakan untuk PT. Pos. Bayangkan, dia punya 9 MSI dari rumahnya saja.
Tak jauh dari tempat tinggal Haji Sodikin ada seorang ibu sederhana yang punya MSI juga. Di rumahnya dia jual barang kelontong, jual nasi dan lauk pauk juga, ada motor untuk diojekkan, ada beberapa rumah kontrakan dan ada juga yang agak miring, jualan togel. Kurang lebih 5 MSI dia punya.
Pak Tung pernah cerita. Dia punya kawan. Di usia 40-an dia terbilang sukses di bisnis fitness center. Cabangnya di mana-mana. Entah kenapa, bisnisnya itu ambruk semua pada satu ketika. Habislah dia. Semua uangnya tertanam di sana. Pada usia 40-an dia harus mulai lagi dari awal. Sebenarnya sih bangkrut itu oke-oke aja. Tapi, kalau sudah ada anak istri yang menjadi tanggungan, tentunya ini memprihatinkan.
Kita seharusnya punya sumber income yang lain di samping sumber income utama. Apalagi bagi yang bekerja. PHK terus mengancam dengan alasan yang macam-macam. Ahli investasi sering bilang, jangan menaruh telur pada satu keranjang. Kalau keranjangnya jatuh, bahaya. Telurnya pecah semua. Habis semua. Harus mulai dari awal lagi.
MSI bukanlah pekerjaan tambahan yang menyita waktu kita bersama keluarga. MSI juga bukanlah sumber income utama. MSI adalah sumber income lain di luar yang sumber income utama. Jadi, sebelum mengembangkan MSI musti punya sumber income utama yang kuat dulu atau Primary Source of Income (PSI). Harus ada massive income dulu kata Pak Tung.
MSI ideal adalah yang mempunyai kriteria:
1. Low risk
2. Low time involvement
3. Low capital
4. Low personal funding
5. Low labor
6. High thinking
7. High return
8. High service
9. High personal enjoyment
10. High grow on educational factor
11. Unique
12. Easily duplicatable
13. High speed
Bisnis yang kita lakukan sekarang ini sudah mendekati kriteria di atas. Itu adalah PSI kita. PSI ini harus dijadikan massive income dulu sebelum melangkah ke MSI. Jangan sampai nanti sibuk mengejar MSI, malah PSI-nya jadi terbengkalai. Target kita, harus ada dua MSI tahun ini. Insya Allah.
MINTALAH APA YANG KITA INGINKAN
Prinsip ini berlaku di mana-mana dan dilakukan oleh siapa saja. Seorang politikus meminta dukungan kepada konstituennya, seorang karyawan meminta kenaikan gaji kepada bossnya, seorang istri meminta tambahan uang belanja kepada suaminya, seorang anak meminta hadiah kepada orang tuanya, semua orang meminta apa yang diinginkannya.
Bagaimana pada bisnis? Prinsip ini juga berlaku. Bahkan jadi suatu keharusan. Semakin sering kita meminta, semakin sukses bisnis kita. Mintalah pelanggan kita agar melakukan pembayaran lebih cepat, mintalah supplier kita agar memberi diskon lebih banyak, mintalah pemilik properti yang kita sewa agar tidak menaikkan harga, mintalah karyawan kita agar lebih disiplin, mintalah bank kita agar memperpanjang jangka waktu pengembalian pinjaman, mintalah ….
Waktu bisnis kita mulai bangkit, kita memberanikan diri untuk meminta kepada sebuah usaha garmen besar dan sudah go public untuk menjadi supplier salah satu produk kita. Alhamdulillah, mereka bersedia membantu.
So, mintalah apa yang kita inginkan. Memang tidak pasti dikabulkan. Tapi, bagaimana orang lain bisa tahu keinginan kita kalau kita diam saja?
Contoh perhitungan dengan usaha WARNET
1. Biaya Listrik
Biaya listrik per bulan ditentukan oleh kebutuhan listrik dari warnet tersebut. Untuk memperkirakan biaya listrik yang wajar tentu harus di analisa dulu seberapa besar kebutuhan daya listrik. Sebagai contoh kasus kita coba menghitung berapa besar daya listrik yang diperlukan oleh warnet dengan konfigurasi berikut:
- PC : 11 unit @ 200 watt
- Monitor: 11 unit CRT 15″ @ 90 watt
- Printer: 1 unit inkjet @ 40 watt
- Scanner: 1 unit @45watt
- Lampu indoor: 4 buah TL @ 25watt
- Lampu outdoor: 2 buah TL @ 50watt
- AC: 2 buah @ 1,5 PK ( 1 pk = 746 watt, 1,5 pk = 1119 )
- Cooler: 1 unit @ 90 watt
Total kebutuhan daya adalah:
- PC = 11 x 200 = 2200 watt
- Monitor = 11 x 90 = 990 watt
- Printer = 1 x 40 = 40 watt
- Scanner = 1 x 45 = 45 watt
- Lampu indoor = 4 x 25 = 100 watt
- Lampu outdoor = 2 x 50 = 100 watt
- AC = 2 x 1119 = 2238 watt
- Cooler = 1 x 90 = 90 watt
- Total kebutuhan daya = 5803 watt
Dilihat dari paparan di atas maka daya listrik terpasang yang disarankan adalah minimal 6600 watt. Biaya listrik untuk daya sebesar itu biasanya berada di kisaran Rp 900.000 s/d Rp 1.500.000 per bulan. Banyak cara (yang halal) untuk menurunkan pemakaian daya listrik. Misalnya: menggunakan monitor LCD, mematikan pc/monitor yang tidak digunakan, mengatur suhu AC pada suhu yang tidak terlalu dingin ( 22 - 25 derajat celcius ).
2. Biaya koneksi per bulan.
Berbicara biaya koneksi, maka pilihannya beragam dan bergantung kepada lebar bandwidth, media koneksi, kualitas dll, tentukan dulu kebutuhan bandwidth nya, baru berbicara biaya koneksi. Untuk biaya dapat dilihat dari situs-situs ISP di Kita.
3. Apakah usaha warnet bisa bertahan hingga 5 tahun ke depan?
Tentu bisa. Yang menentukan adalah kemampuan manajemen warnet tersebut apakah bisa bertahan menghadapi persaingan. Persaingan di sini harus dilihat secara general. Saingan warnet bukan cuma warnet tetangganya. ISP juga saingan warnet, sebab ada produk-produk layanan mereka yang bersaingan langsung dengan warnet. PC/Notebook murah juga saingan warnet. Kombinasi antara PC/Notebook murah dan Produk ISP yang murah atau akses Wifi gratis adalah ancaman yang nyata bagi keberadaan Warnet. Karena itu, warnet harus bisa menempatkan target pasar dan pelayanannya dengan tepat jika tidak ingin tersingkir dari persaingan.
4. Mana lebih menguntungkan Warnet atau game online?
Pertanyaan ini sulit dijawab tanpa adanya data akurat. Pengalaman setiap orang bisa berbeda tetapi kita bisa menganalisanya sebagai berikut: Warnet biasanya tidak perlu spesifikasi komputer setinggi game center. Dari sisi harga, Warnet umumnya di atas game center yang justru membutuhkan spesifikasi komputer yang lebih tinggi. Namun, secara kasat mata, game center lebih ramai dari Warnet. Beberapa warnet juga menyediakan game online sebagai bagian dari pelayanan mereka. Kita kira inilah jalan tengah terbaik dengan catatan bahwa pengguna game dan warnet dipisahkan mengingat karakter keduanya sangat berbeda.
5. Tingkat Okupansi.
Tingkat okupansi yang umum adalah 7 - 9 jam. Di bawah 7 jam maka warnet itu terhitung sepi. Sementara di atas 9 jam warnet tersebut terhitung ramai (sekali). Jarang sekali ada warnet yang memiliki tingkat okupansi di atas 9 jam.
Manajemen Pengetahuan Untuk Keunggulan Usaha
Pertanyaan soal bagaimana membangun keunggulan usaha sering diajukan oleh para praktisi bisnis dan akademisi., untuk selanjutnya dapat direspon dengan value proposition atau pilihan positioning dalam sebuah rangkaian rantai nilai (value chain) akan menentukan kinerja akhir usaha.
Sedangkan sebagian lainnya berpandangan bahwa kemampuan membangun sumberdaya yang bernilai (valuable), langka (rare), tak dapat ditiru (in-imitable) dan tak tergantikan (non substitable) merupakan sumber utama keunggulan usaha pada industri apapun yang dipilihnya.
Belakangan, kedua pandangan tersebut saling berinteraksi dan melengkapi satu sama lain Kedua sudut pandang yang berbeda tersebut telah menjadi main stream ilmu manajemen strategis dalam tiga puluh tahun terakhir dan mendapat perhatian secara bergantian.
Dari berbagai pandangan tersebut, satu hal yang menarik adalah terdapatnya kesamaan dalam melihat sumber atau penyebab dari perubahan dinamika industri dan strategi yang dijalankan perusahan. beberapa faktor diantaranya globalisasi dan digitalisasi,
beberapa tren yang terjadi pada perilaku organisasi usaha seperti:
(i) perubahan apresiasi terhadap informasi menjadi knowledge dan wisdom;
(ii) perubahan praktek birokrasi menjadi jejaring;
(iii) orientasi pelatihan menjadi pembelajaran;
(iv) lokal menjadi transnational/global dan bahkan metanational; (
(v) pemikiran tentang persaingan menjadi kolaborasi; dan
(vi) hubungan organisasional secara tunggal menjadi ekosistem bisnis dengan stakeholder yang berbeda.
Banyak kalangan menilai bahwa sistem informasi telah menjadi salah satu faktor yang paling berperan dalam impelementasi manajemen pengetahuan yang berdampak pada kinerja usaha.
manajemen pengetahuan dengan menjalankan organisasi yang menjalankan prinsip-prinsip pembelajaran organisasional bagaikan makhluk hidup (living organism).
Apa sebenarnya manajemen pengetahuan (knowledge management) itu? Tulisan ini merupakan uraian akademis yang berusaha menjelaskan manajemen pengetahuan secara umum.
Pengetahuan Manajemen
Tentang pengetahuan sebagai sumberdaya organisasi yang paling menentukan kinerja organisasi. membagi pengetahuan menjadi :
1. implicit (yang terdapat pada manual, sistem dan prosedur dan sejenisnya) dan
2. tacit (yang terdapat pada pengalaman dan pengetahuan yang tidak tertulis lainnya).
ada dimensi yang tidak tertulis di dalam sistem dan prosedur usaha yang melekat pada setiap individu di dalam usaha. menerjemahkan perlunya proses pembelajaran yang mengintegrasikan pembelajaran internal dan eksternal kedalam sebuah konsep kapabilitas yang dikenal dengan combinative capabilities.
Pemikiran tersebut intinya menyatakan bahwa perubahan kondisi pasar harus dihadapi organisasi dengan menjalankan pengelolaan teknologi yang berbasis prinsip manajemen pengetahuan, baik yang berupa informasi maupun know-how, dimana pengetahuan menjadi sumberdaya yang menentukan keunggulan usaha. Oleh karena itu, pengetahuan baru harus dikembangkan terus menerus agar usaha mampu menciptakan keunggulan kompetitif pada lingkungan usaha masing-masing.
manajemen pengetahuan didefinisikan sebagai: “proses penciptaan pengetahuan, teknologi dan sistem baru secara kontinyu, penyebaran secara luas melalui organisasi dan mewujudkannya dalam bentuk produk atau jasa baru dengan cepat, serta membuat perubahan dalam organisasi”.
yang menyatakan bahwa pengetahuan dibagi menjadi dua yaitu:
(i) pengetahuan eksplisit (explicit knowledge), diekspresikan dalam bentuk kata-kata, nomor, bunyi, data, rumus, visual, audio visual, spesisfikasi produk, atau bentuk manual. Pengetahuan ini dapat ditransfer secara formal dan sistematis kepada individu dan kelompok;
(ii) (ii) pengetahuan implisit (tacit knowledge), tidak mudah dilihat dan diekspresikan. Tacit knowledge cenderung lebih bersifat personal, sulit untuk diformalkan, sulit untuk dikomunikasikan atau disebarkan kepada yang lain. Intuisi subyektif dan firasat merupakan bentuk tacit knowledge. Pengetahuan ini merupakan pengetahuan mendasar dalam diri seseorang seperti cita-cita, nilai atau emosi.
Suatu organisasi membuat dan menggunakan pengetahuan dengan mengkonversi pengetahuan implisit menjadi eksplisit dan begitu sebaliknya.
Selanjutnya mengidentifikasi empat gaya konversi pengetahuan, yaitu:
(i) Socialization (sosialisasi) dari tacit menjadi tacit. Merupakan pembuatan dan penyebaran tacit knowledge melalui pengalaman langsung, dari individu ke individu;
(ii) Externalization (eksternalisasi) dari tacit menjadi eksplisit. Merupakan artikulasi tacit knowledge melalui dialog dan refleksi, yaitu dari individu ke kelompok;
(iii) Combination (kombinasi) dari eksplisit ke eksplisit. Merupakan sistematika dan aplikasi pengetahuan eksplisit dan informasi, dari kelompok ke organisasi;
(iv) Internalization (internalisasi), dari eksplisit menjadi tacit, mempelajari dan memenuhi praktek tacit knowledge yang baru, dari organisasi ke-individu.
Telah teruji bahwa menciptakan lingkungan usaha yang responsif terhadap berbagai pengetahuan baru akan menciptakan kinerja usaha yang lebih baik.
Basis Keunggulan Usaha
· usaha yang unggul adalah usaha yang mampu membangun daya saing yang berkelanjutan pada industri masing-masing, baik dalam konteks penerimaan pasar maupun dalam konteks kinerja keuangan yang memberikan shareholders value.
· usaha yang memiliki keunggulan kompetitif adalah usaha yang melampau (outperforming) pesaing-pesaingnya pada industri masing-masing. Selanjutnya, kinerja unggul yang dimiliki usaha hendaknya berkelanjutan dan dapat bertahan dalam periode-waktu tertentu.
Dalam berbagai referensi manajemen strategis, batasan keunggulan usaha biasanya dapat diukur melalui:
(i) kinerja pemasaran (penjualan, pangsa pasar, customer value dan lain-lain)
(ii) kinerja keuangan (return on assets, return on equity, free cash flow, dan lain-lain) pada periode tertentu.
Belakangan pilar-pilar keunggulan lebih bersifat holistik, selain mencakup empat pilar organisasi, yakni pasar, keuangan, sumberdaya manusia dan proses yang terintegrasi dalam konsep balance score-card.Setelah melakukan studi eksplorasi mengajukan delapan basis keunggulan usaha yang berujung pada kinerja finansial dan pertumbuhan usaha, yakni:
(i) a bias for action, pengambilan keputusan yang aktif dan pas;
(ii) dekat dengan pelanggan, belajar dari pihak yang dilayani;
(iii) otonomi dan kewirausahaan, melakukan inovasi dan mengembangkan sikap dan mental juara;
(iv) produktifitas melalui manusia di dalam usaha;
(v) hands-on and value driven; falsafah manajemen yang memandu kegiatan setiap hari, dengan komitmen penuh dari pimpinan;
(vi) menekuni binis yang dikuasai;
(vii) simple form, lean staff; dan
(viii) simultaneous loose-tight properties, yang memungkinkan otonomi pada level-level operasional dengan sentralisasi pada nilai-nilai usaha.
Uraian ini masih relevan untuk diterapkan pada prinsip-prinsip pengelolan usaha kontemporer, termasuk di Indonesia.
Pentingya visi dan kepemimpinan memperkuat faktor kepemimpinan manajemen puncak terhadap pencapaian eksponensial usaha. Kepemimpinan tersebut mendorong para pimpinan usaha good companies untuk membangun kinerja usaha yang mencapai kinerja kumulatif tiga kali lipat dari kinerja kumulatif lima belas tahun kinerja sebelumnya untuk menjadi great companies.
Berbagai uraian di atas menunjukkan pentingya visi, pandangan jangka panjang, kemampuan manajerial dan profitability yang berkaitan dengan keunggulan yang dihasilkan usaha.
Berbagai perihal bagaimana kapabilitas organisasional terbentuk secara terus-menerus adalah melalui proses identifikasi, adopsi dan akumulasi pengetahuan yang telah dijalankan pada berbagai usaha besar di dunia,
Dengan kata lain, akumulasi sumberdaya pengetahuan pada usaha dapat mendorong penguatan kapabilitas organisasional secara terus-menerus.
Catatan Penutup: Agenda Membangun Organisasi Pembelajar
Tulisan ini ditutup untuk mengajak para anggota Pengajian Ridho Allah untuk mulai membangun nilai-nilai organisasional yang dapat mendorong terjadinya pembelajaran organisasional di dalam usaha.
Proses pembelajaran organisasional ini merupakan esensi dari manajemen pengetahuan yang telah teruji pada berbagai usaha yang sedang berusaha menjalankan manajemen pengetahuan.
nilai-nilai di dalam pembelajaran organisasional yang harus dikembangkan di dalam usaha adalah sebagai berikut:
(i) adanya komitmen terhadap pembelajaran;
(ii) keterbukaan pandangan manajemen dan karyawan; dan
(iii) shared-vision yang dilakukan terus-menerus,
hal mana ketiganya merupakan nilai-nilai yang dapat dibangun dan dikembangkan dalam usaha yang menjalankan prinsip-prinsip manajemen pengetahuan.
Mari bangun nilai-nilai tersebut di dalam organisasi yang kita kelola, karena pengetahuan demikian luas dan terbuka untuk dapat diserap, ditransfer dan diasimilasikan kedalam kapabilitas organisasi untuk memanfaatkan berbagai peluang yang semakin terbuka kita hadapi pada era ekonomi baru dimana dunia semakin borderless. Dengan memperhatikan rincian tersebut dibawaha ini :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar