Rabu, 08 Oktober 2008

Inspirasi.....

Ayat Al Qur’an

Sebagai Rujukan

Bergerak dalam Wira Usaha tak ubahnya seperti bertani. Diawali dengan kehati-hatian menyemai benih. Kemudian, dengan penuh was-was, menanamnya di areal sawah luas. Ada rasa khawatir kalau tunas-tunas muda termakan hama. Tapi kadang, kehadiran belut dan gabus bisa menggoyahkan penantian. Demi rezeki dadakan, padi muda terlantar.

Hidup dalam gerakan Wira Usaha memang penuh tantangan. Seperti tak mau berhenti, ujian dan cobaan silih berganti menghadang. Kalau mau ditafsirkan, ujian mungkin bisa berukuran kolektif. Dan cobaan bersifat individual.

Disebut kolektif, karena cakupannya menyeluruh meliputi apa pun. Termasuk, lembaga yang menjadi payung Wira Usaha.

Begitu pun dengan cobaan. Tanpa Wira Usaha pun, setiap orang tak bisa luput dengan cobaan. Karena hakikat kehidupan adalah cobaan. Siapakah di antara kita yang akhirnya mampu mempersembahkan produk yang terbaik. Dan Wira Usaha memberikan bobot tersendiri dari nilai sebuah cobaan. Apa pun bentuknya.

Lahir dan meninggal misalnya, merupakan pemandangan biasa buat masyarakat. Biasa karena setiap orang akan mengalami itu. Tapi, itu akan berbeda ketika sudut pandang menyertakan hitung-hitungan Wira Usaha.

Penambahan dan pengurangan pendukung Wira Usaha adalah bentuk lain dari anugerah dan masalah dalam Wira Usaha.

Pendek kata, seorang aktivis Wira Usaha tidak mungkin memisahkan antara masalah pribadi dengan masalah Wira Usaha. Keduanya selalu berkait

Di masa Rasulullah saw., ada seorang sahabat dari kaum Anshar yang menangkap pesatnya perkembangan Islam dengan kacamata yang keliru. Di satu sisi, ia memang bersyukur kepada Allah swt. Islam kian meluas menembus batas benua. Tapi, ketika menoleh ke diri dan keluarga, ia pun mulai terpengaruh untuk tidak lagi ikut dalam pentas perjuangan Islam. "Ah, cukuplah perjuangan saya sampai di sini. Sudah banyak kader-kader Islam yang lebih kredibel. Kini, saatnya memperbaiki ekonomi pribadi," seperti itulah kira-kira ungkapan sang sahabat.

Saat itu juga, Allah swt. menegur. Turunlah ayat Alquran surah Albaqarah ayat 195:

"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan, dan berbuat ihsanlah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan." (diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan yang lainnya yang bersumber dari Abi Ayub Al-Anshari. Menurut Tirmidzi, hadits ini shahih)

Mungkin, secara manusiawi, niat baik sahabat Rasul itu bisa dimaklumi. Wajar kalau mereka mulai menatap kemapanan ekonomi diri dan keluarga setelah sekian tahun berkorban habis-habisan buat perjuangan Dakwah. Wajar kalau seorang kader perintis mulai menghitung masa depan keluarga setelah tampak masa depan Islam kian gemilang. Mungkin, dalih-dalih itu bisa dianggap wajar.

Namun, Allah swt. justru menilai niat itu sebagai sesuatu yang berat. Salah. Bahkan, menjerumuskan diri kedalam jurang kebinasaan. Allah swt. tidak menginginkan hamba-hamba-Nya yang selama ini gemar investasi pahala yang begitu besar, tiba-tiba putus untuk urusan domestik. Karena, balasan dari Allah yang telah tersiapkan jauh lebih baik dari apa yang akan mereka usahakan di dunia ini.

Firman Allah swt. dalam surah Ali Imran ayat 14,

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga)."

Dan transaksi itu mencakup bukan saja urusan potensi diri, melainkan juga segala sumber daya yang melingkupinya. Termasuk, harta dan bisnis.

firman Allah swt. dalam surah At-Taubah ayat 111. "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh...."

surah Al-Lail. Di antara surah itu berbunyi,

"...Ada pun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga). Maka, Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan ada pun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala yang terbaik. Maka, kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan yang sukar)...." (QS. 92: 5-10)

Ujian dan anugerah akan silih berganti menghias jalan Wira Usaha. Dan, pagar jalan itu adalah sabar dan istiqamah. Tinggal, bagaimana pilihan kita. Siapkah kita menanti panen padi Wira Usaha yang telah kita tanam dengan waktu yang begitu lama. Atau, menjadi terpedaya.

Demi pagi cerah yang gemilang. Dan demi malam bila senyap kelam. Allahmu tidak meninggalkan kau, juga tidak merasa benci. Dan sungguh, hari kemudian itu lebih baik buat kamu daripada yang sekarang. Dan akan segera ada pemberian dari Allah kepadamu. Maka engkaupun akan bersenang hati. Bukankah Ia mendapati kau seorang piatu, lalu diberiNya tempat berlindung? Dan Ia mendapati kau tak tahu jalan, lalu diberiNya kau petunjuk? Karena itu, terhadap anak piatu, jangan kau bersikap bengis. Dan tentang orang yang meminta, jangan kau tolak. Dan tentang karunia Allahmu, hendaklah kau sebarkan.”(Qur’an, 93: 1-11)

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Al Kahfi;46)

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali Imran:14)

Dalam ayat lain, Allah mengingatkan bahwa harta kadang melalaikan kita;

Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning Kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.(Al Hadiid:20)

Ada banyak orang yang “tertipu” dengan keindahan dunia dan banyaknya harta yang mereka miliki, padahal seperti disebutkan pada ayat diatas, banyaknya harta dan anak-anak serta perhiasan hanya seperti tanaman yang mengagumkan kita, tapi ketika Allah menghendaki, harta, perhiasan dan anak-anak yang kita banggakan akan diambil kembali oleh pemiliknya yang hakiki, jadilah kita kembali miskin papa, tanpa perhiasan dan harta.Kadang sebagian kita tidak menyadari bahwa miskin dan kaya, berada atau papa, keduanya adalah ujian dari Allah;

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (At Taghabun:15)

Dalam harta kita terdapat hak fakir miskin, anak terlantar, ibnu sabiil, sebagaimana tercantum dalam ayat berikut;

Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka Sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya.(Al Baqarah:215)

PENDAHULUAN

Sebagai Mukadimah

Sampai saat ini besarnya potensi yang dimiliki Jemaah Pengajian Ridho Allah dalam bidang ekonomi belum tergarap secara serius, sistematis, dan berkelanjutan. Oleh sebab itu, ke depan Jemaah harus memiliki orientasi ekonomi melalui enterpreneurship/(kewirausahaan).

Selain memiliki sumber daya manusia sebagai produser, Jemaah Pengajian Ridho Allah juga berpotensi menjadi konsumen. Makanya, yang dibutuhkan ialah jiwa-jiwa wirausaha yang mampu mengelola potensi ekonomi yang ada di Jemaah sekaligus menyalurkan kelingkungan sekitarnya.

Keunggulan lain dari pengembangan ekonomi di Jemaah adalah memiliki basis teologi Islam yang kuat. Dengan landasan teologis itulah pengembangan ekonomi kecil di Jemaah pengajian Ridho Allah, memiliki landasan dan tujuan yang jelas.

Pengembangan ekonomi kecil yang dilandasi jiwa enterpreunership inilah yang cocok dikembangkan di Jemaah Pengajian Ridho Allah kini dan akan datang.

Menyinggung tentang nash Alquran dan perilaku Nabi Muhammad saw, sesungguhnya Islam adalah agama yang anti kemiskinan. Hanya saja karena pemahaman terhadap teks-teks yang sering kita temukan kurang benar, seolah-olah umat Islam harus hidup dengan”kemiskinan”.

Benar adanya Islam memiliki konsep zakat untuk distribusi kekayaan. Namun, zakat yang dikelola tidak diarahkan kepada aspek konsumtif. Ia mesti dipakai untuk kegiatan yang produktif dan pemberdayaan ekonomi umat, sehingga roda ekonomi umat Islam bergairah, Hal ini bisa dimulai dari Jemaah Pengajian Ridho Allah.

Pengertian zuhud, misalnya, bukan berarti antiduniawi, tetapi harus dimaknai sebagai pola hidup yang tidak berlebihan dan mempergunakan harta sebagaimana mestinya sesuai dengan ajaran agama. Pemahaman agama yang kurang tepat inilah membuat umat Islam ter ninabobokan dalam kemiskinan, ini menunjukkan bahwa umat Islam harus kreatif dan inovatif dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam bidang ekonomi.

Kalau umat Islam adalah yang terbaik, maka ia pun harus menjadi yang terbaik dalam bidang ekonomi. Dalam konteks itu, umat Islam diharuskan kreatif mencari berbagai cara untuk meningkatkan derajat ekonomi, baik secara perseorangan maupun kelompok Pengajian-Ridho-Allah.

Yang ironis, hampir di semua negara yang berpenduduk mayoritas Islam adalah negara-negara miskin. Meski ada yang kaya, itu bukan karena prestasi dan kualitas sumber daya manusianya, tetapi disebabkan oleh natural resources (kekayaan alam) yang melimpah, khususnya minyak bumi.

Akan diusahakan tentang penyediaan dana, dana yang diberikan kepada anggota jemaah yang merintis kewirausahaan, semua yang akan diberikan kepada anggota jemaah harus dikembalikan. Karena dana itu akan digilirkan kepada anggota jemaah ke Jemaah yang lain.

Jadi, dana itu bukan pemberian yang bisa dihabiskan secara konsumtif, melainkan dipergunakan secara produktif karena anggota jemaah lain yang menunggu giliran mempergunakan dana yang dipakainya.

Sementara hal-hal ini harus dibuatkan skema dan aturan main potensi ekonomi Jemaah tidak saja dapat mengurangi pengangguran, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. Khususnya, warga sekitar karena Jemaah tidak mungkin berdiri sendiri tanpa bantuan warga sekelilingnya.


KRISIS MONETER INDONESIA

Sebagai Kilas Balik

KRISIS moneter Indonesia disebabkan oleh dan berawal dari kebijakan Pemerintah Thailand di bulan Juli 1997 untuk mengambangkan mata uang Thailand “Bath” terhadap Dollar US. Selama itu mata uang Bath dan Dollar US dikaitkan satu sama lain dengan suatu kurs yang tetap. Devaluasi mendadak dari “Bath” ini menimbulkan tekanan terhadap mata-mata uang Negara ASEAN dan menjalarlah tekanan devaluasi di wilayah ini.

Indonesia, yang mengikuti sistim mengambang terkendali, pada awalnya bertahan dengan memperluas “band” pengendalian/intervensi, namun di medio bulan Agustus 1997 itu terpaksa melepaskan pengendalian/intervensi melalui sistim “band” tersebut. Rupiah langsung terdevaluasi. Dalam bulan September/Oktober 1997, Rupiah telah terdevaluasi dengan 30% sejak bulan Juli 1997. Dan di bulan Juli 1998 dalam setahun, Rupiah sudah terdevaluasi dengan 90%, diikuti oleh kemerosotan IHSG di pasar modal Jakarta dengan besaran sekitar 90% pula dalam periode yang sama. Dalam perkembangan selanjutnya dan selama ini, ternyata Indonesia paling dalam dan paling lama mengalami depresi ekonomi. Di tahun 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot menjadi –13,7% dari pertumbuhan sebesar +4,9% di tahun sebelumnya (1997). Atau jatuh dengan 18,6% dalam setahun.

Selama dekade sebelum krisis, Ekonomi Indonesia bertumbuh sangat pesat. Pendapatan per kapita meningkat menjadi 2x lipat antara 1990 dan 1997. Perkembangan ini didukung oleh suatu kebijakan moneter yang stabil, dengan tingkat inflasi dan bunga yang rendah, dengan tingkat perkembangan nilai tukar mata uang yang terkendali rendah, dengan APBN yang Berimbang, kebijakan Ekspor yang terdiversifikasi (tidak saja tergantung pada Migas), dengan kebijakan Neraca Modal yang liberal, baik bagi modal yang masuk maupun yang keluar.

Kesuksesan ini menimbulkan di satu pihak suatu optimisme yang luar biasa dan di lain pihak keteledoran yang tidak tanggung-tanggung. Suatu optimisme yang mendorong kebijakan-kebijakan ekonomi dan tingkat laku para pelaku ekonomi dalam dan luar negeri, sepertinya lepas kendali.

Kesuksesan Pembangunan Ekonomi Indonesia demikian memukau para kreditor luar negeri yang menyediakan kredit tanpa batas dan juga tanpa meneliti proyek-proyek yang diberi kredit itu. Keteledoran ini juga terjadi dalam negeri. Dimana kegiatan-kegiatan ekonomi dan para pelakunya berlangsung tanpa pengawasan dan tidak dilihat “cost benefit” secara cermat.

Kredit jangka pendek diinvestasikan ke dalam proyek-proyek jangka panjang. Didorong oleh optimisme dan keteledoran ini ekonomi didorong bertumbuh diatas kemampuannya sendiri (“bubble economics”), sehingga waktu datang tekanan-tekanan moneter, Pertumbuhan itu ambruk!

Sementara itu terjadi pula suatu perombakan yang drastis dalam strategi Pembangunan Ekonomi. Pembangunan Ekonomi yang selama ini adalah “State” dan “Government-led” beralih menjadi “led by private initiatives and market”.

Hutang Pemerintah/Resmi/Negara turun dari USD. 80 milyar menjadi USD. 50 milyar di akhir tahun 1996, sementara Hutang Swasta membumbung dengan cepatnya. Jika di tahun 1996 Hutang Swasta masih berada pada tingkat USD. 15 milyar, maka di akhir tahun 1996 sudah meningkat menjadi antara USD. 65 milyar – USD. 75 milyar.

Proses Swastanisasi/Privatisasi dari pelaku utama Pembangunan berlangsung melalui proses liberalisasi dengan mekanisme Deregulasi diliputi visi dan semangat liberal. Dalam waktu sangat singkat bertebaran bank-bank Swasta di seluruh tanah air dan bertaburan Korporasi-Korporasi Swasta yang memperoleh fasilitas-fasilitas tak terbatas. Proses Swastanisasi ini berlangsung tanpa kendali dan penuh KKN.

Maka ketika diserang krisis mata uang, sikonnya belum siap dan masih penuh kerapuhan-kerapuhan, terlebih dunia Permodalan dan Korporasi. Maka runtuhlah bangunan modern dalam tubuh Ekonomi Bangsa. Dan kerapuhan ini ternyata adalah sangat mendalam dan meluas, sehingga tindakan-tindakan penyehatan-penyehatan seperti injeksi modal oleh Pemerintah, upaya-upaya rekapitalisasi, restrukturisasi Permodalan dan Korporasi-Korporasi sepertinya tidak mempan selama dan sesudah 5 tahun ini.

Sektor Finansial dan Korporasi masih tetap terpuruk. Rapuhnya sektor-sektor modern ini adalah dalam hal organisasi, manajemen, dan mental orang-orang/para pelakunya, dalam hal bisnis serta akhlak dan moral. Suatu kerapuhan total dan secara institusional pula!

Apa implikasi dari runtuhnya sektor modern dari bangunan ekonomi kita ini? Peningkatan Pengangguran, Peningkatan Kemiskinan dan Hutang Nasional. Dan hal-hal ini langsung mengena pada nasib ekonomi kita.

Namun akibat-akibat negatif ini dihadapi anggota nya banyak dengan suatu Resistensi dan Kreativitas Ekonomi yang militan. Sektor tradisional yang selama ini dianggap sebagai sektor yang tidak penting/prioritas, malahan dianggap sebagai penghambat dari pertumbuhan Ekonomi, bukan saja menampung reruntuhan-reruntuhan dari ambruknya sektor modern, namun juga memainkan peran sebagai pengganti dari peranan sektor modern yang ambruk itu. Dan yang mengesankan adalah peran dari asas kekeluargaan. Mereka yang di-PHK-kan ditampung dalam sektor tradisional dan sektor informal dan merupakan bagian dari Resistensi Ekonomi Anggota nya dalam krisis ini.

Resistensi, kreativitas ekonomi, produktivitas sektor tradisional dan berfungsinya asas kekeluargaan, merupakan kekuatan ekonomi yang riil yang telah mampu menahan kemerosotan ekonomi yang disebabkan oleh krisis itu, dan malahan telah mampu pula mengangkat pertumbuhan ekonomi kembali pada permukaan pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan +13,7% dengan tercapainya tingkat +0% di tahun 1999, dilanjutkan dengan pertumbuhan +4,8% di tahun 2000, yang hampir sama dengan pertumbuhan ekonomi pra krisis (1997, +4,9%).

Masalahnya adalah mengapa ekonomi Nasional jatuhnya begitu dalam, dalam setahun, tetapi juga dapat cepat pulih dalam 2 tahun berikutnya. Jatuhnya demikian dalam di tahun 1998, menunjukkan betapa rapuhnya dan paniknya sektor Finansial dan Korporasi, alias sektor modern dari bangunan ekonomi kita. Dan seperti telah dikatakan, begitu rapuhnya sehingga dengan segala “inset” dari modal, energi dan konsentrasi sampai sekarang sektor ini belum dapat berfungsi kembali normal. Dan cepat kembalinya pemulihan ekonomi selama dua tahun berikutnya dikatakan adalah berkat ekonomi kelas bawah.

Krisis Ekonomi yang kita alami dewasa ini menunjukkan bahwa keserakahan sektor modern akan kredit, fasilitas dan perluasan kegiatan, dan kurang adanya Pengawasan, adanya KKN, itulah yang telah menjerumuskan Ekonomi bangsa ke dalam keterpurukan yang berkelanjutan ini.

Disebabkan oleh Politik Isolasi Nasional dan menumpuknya Defisit APBN dari tahun ke tahun sedari tahun 50-an dan selama penggalan pertama tahun 1960-an, maka di tahun 1965-66 terjadi suatu krisis ekonomi Nasional yang merisaukan, yang telah menumbangkan ORDE LAMA (Demokrasi Terpimpin) dan dibentuknya ORDE BARU.

Pemerintah/Negara mengambil peran untuk keluar dari krisis tersebut, malahan melanjutkan perannya sebagai Pelaku Utama Pembangunan sesudah krisis itu. Sehingga Pembangunan selama itu disebut “Government/State led development”. Hal ini terjadi bukan karena ideology (Sosialisme) melainkan karena kondisi pragmatis, dimana pada waktu itu tidak ada perusahaan Swasta, dan kalau ada berada dalam kondisi sangat lemah.

Dibawah Pimpinan Negara/Pemerintah, maka Pembangunan dan peningkatan pendapatan Nasional dan per kapita maju pesat. Jika era Demokrasi Terpimpin sebelumnya adalah era dimana Politik menjadi Panglima (upaya pembentukan dari suatu Sistim Politik Nasional) maka era ORBA dapat dinamakan sebagai era dimana Ekonomi menjadi Panglima (dan upaya-upaya untuk membentuk suatu Sistim Ekonomi Nasional).

Di tahun 1980-an, didesak oleh kebutuhan akan modal, efisiensi, dan teknologi yang lebih meningkat untuk menjaga agar Pembangunan Ekonomi berkelanjutan mantap meningkat, dan di bawah pengaruh globalisasi, maka terjadi proses Swastanisasi dari Pembangunan. Proses tersebut ditandai oleh suatu proses Liberalisasi dan mekanismenya adalah Deregulasi/Ekonomi.

Melalui pemberdayaan sektor Swasta maka diharapkan/dianggap Ekonomi kerakyatan akan pula dapat diberdayakan. Jika Pembangunan selama ini adalah “top down” maka proses ini tidak langsung beralih ke sistim “bottom up”, namun melalui sistim (peng)antara “middle down” dan “middle up”. Kita tahu apa yang telah terjadi. Bukan proses “memberdayakan”, melainkan proses “memperdayakan”. “Up” dan “down” diperdayakan oleh si “middle”. Maka terjadilah krisis ekonomi yang berkelanjutan ini.

Ekonomi rakyat bawah adalah ekonomi “from hand to mouth”. Apa yang dihasilkan, dihabiskan! Tidak ada kelebihan untuk melanjutkan dan mendinamisasikan kegiatan. Jika hal itu diperlukan maka dilaksanakan melalui hutang. Sebab itu peran “lintah darat” besar dalam ekonomi kasus kita ini.

Ini semua dikemukakan tidak dengan maksud untuk memojokkan ekonomi kelas bawah Disamping tugas bersama ada pula tugas kelompok yang mendesak!

Kondisi ini perlu diimbangi dengan menciptakan/mengaktifkan “domestic demand” yakni “demand” akan konsumsi usaha. Potensi untuk itu sebetulyan ada di dalam kelompok Pengajian Ridho Allah karena masih tersembunyi dan terpendam.

Mereka tidak menjadi efektif (“effective demand”) antara lain karena ketidakpastian terhadap permodalan. Maka dari itu program kesesuaian dari Divisi Usaha harus menunjukkan prioritas bagi Pemerintah.

Hanya jangan dikira jika semua anggota yayasan Ridho Allah sudah menjadi Subyek Ekonomi, maka dengan sendirinya Kesejahteraan Anggota nya Insya Allah tercapai. Seperti halnya dalam bidang moral dan agama. jika setiap anggota masyarakat itu bermoral tinggi dan sungguh-sungguh menghayati agamanya, maka masyarakat dengan sendirinya bermoral dan beragama. Diperlukan suatu Institusi dan pendekatan secara Institusional.

Diperlukan suatu Institusi yang mengarahkan kepada kepentingan anggota nya dan kesejahteraan Kelompok Pengajian Ridho Allah ini. Diharapkan bahwa Institusi yang demikian itu adalah dari yayasan ini sendiri. Mereka perlu dibimbing, diberi pendidikan, penjelasan-penjelasan dan insentip-insentip.

Mereka perlu diberi pengertian bahwa untuk berusaha secara berkelanjutan diperlukan tertib usaha. Untuk menjamin tertib usaha, mereka diberdayakan ekonomi keluarga nya, ini diperlukan pula untuk membina kader-kader Pelaku Ekonomi unit usaha yayasan Ridho Allah berasal dari usaha dagang kecil dan menengah, tidak dimanjakan dengan subsidi, proteksi dan fasilitas, apalagi dengan KKN, tangguh mental dan professional dalam berusaha.

Ini berarti pula perlu dikembangkan suatu sistim mobilitas vertikal secara sehat dan mandiri dalam masyarakat dunia usaha!

Krisis ekonomi sudah terlalu panjang dan karena sifatnya multidimensional maka ia dapat menggerogoti secara luas dan dalam dari sendi-sendi hidup keluarga, bernegara dan bermasyarakat. Jika hal ini dikaitkan dengan bahaya-bahaya proses desintegrasi sosial, regional dan kelompok maka krisis ekonomi yang berkepanjangan dapat menuju kepada kehancuran rumah tangga.

Dalam hal ini kita berhadapan dengan suatu Dilema Fundamental yang “persistent” sekali. Dilemanya adalah di satu pihak ada tuntutan untuk penyelesaian dulu semua masalah dari masa lalu, baru melangkah maju, di lain pihak ada urgensi, kita maju ke depan (termasuk upaya penyelesaian krisis ekonomi keluarga), dan sambil berjalan ke depan kita secara selektif menyelesaikan masalah-masalah dari masa lalu.

Untuk mengatasi Dilema Fundamental ini diperlukan suatu yang fokus pada pilihan usaha dengan me-Rekonsiliasikan keperluan penyelesaian secara tuntas masalah-masalah kemudian maju ke depan dan didukung oleh semua pihak yang mampu memberantas Pengangguran, Kemiskinan, dan menciptakan unit-unit usaha mandiri Sebab disitulah letak kepentingan ekonomi, dari keluarga dan kelompok

Kondisi Ekonomi Nasional

Sebagai Landasan berfikir

Kondisi ekonomi nasional Indonesia dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN, Indonesia termasuk negara yang memiliki PDB per kapita per tahun yang rendah Indonesia juga memiliki utang yang sangat besar, baik dalam negeri dan lebih-lebih luar negeri. Utang tersebut bukannya berkurang, tetapi semakin bertambah terus sehingga diperkirakan setiap orang penduduk memiliki utang sekira Rp 8 juta lebih.

Selain itu tingkat kemiskinan menurut Komite Penanggulangan Kemiskinan termasuk tinggi, diperkirakan sebesar 17,42% dari jumlah penduduk tahun 2003 yang diharapkan menurun hingga 10% pada tahun 2009.

Definisi orang miskin ialah mereka yang penghasilannya di bawah 2 dolar AS/hari. Di Indonesia, nyatanya cukup banyak mereka yang penghasilannya di bawah 1 dolar AS/hari. Pada awal masa krisis income per capita Indonesia rata-rata di bawah 600 dolar AS/tahun/orang. Oleh sebab termasuk ke dalam negara-negara paling miskin di dunia.

Definisi usaha mikro dan menengah

Didalam sessi PENGAJIAN RIDHO ALLAH sering dibicaraan mengenai upaya penanggulangan kemiskinan dan pembangunan ekonomi keluarga dikaitkan kepada definisinya dan pembicaraan tersebut didapat kesimpulan seperti:

  1. Usaha mikro adalah usaha produktif milik keluarga atau perorangan, yang berskala kecil dan memenuhi kriteria memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200 juta tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1 miliar, serta dapat menerima kredit dari bank maksimal di atas Rp 50 juta s.d. Rp 500 juta.

  1. Sedangkan usaha menengah adalah usaha produktif yang memenuhi kriteria kekayaan bersih lebih besar dari Rp 200 juta s.d. Rp 10 miliar, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha serta dapat menerima kredit dari bank sebesar di atas Rp 500 juta s.d. Rp 5 miliar.

MODAL USAHA, SDM DAN POTENSI

Sebagai Tolak Ukur

Perubahan tidak secara otomatis meningkatkan aksesibilitas, Keterbatasan SDM dan infrastruktur menyebabkan daya jangkau permodalan terhadap sektor sampai ke tingkat bawah masih relatif rendah. ANGGOTA PENGAJIAN RIDHO ALLAH juga cenderung tidak tersentuh permodalan karena kurang pandai mengemas usahanya menjadi lebih feasible dan bankable.

Dengan kondisi demikian, tidaklah mengherankan bila sumber permodalan ditempatkan sebagai salah satu hambatan terbesar bagi ANGGOTA PENGAJIAN RIDHO ALLAH untuk berkembang, di samping faktor pasar, manajemen, dan teknik produksi.

Permodalan memerlukan kemampuan untuk mengembalikan pinjaman karena prospektus bisnis yang disajikan seringkali tidak mampu memberikan gambaran potensi usaha yang sebenarnya.

inilah yang menjadi penyebab utama sulitnya akses ANGGOTA PENGAJIAN RIDHO ALLAH mendapatkan permodalan.

Divisi Usaha PENGAJIAN RIDHO ALLAH harus memiliki karakteristik pembiayaan yang unik, yakni perlunya pembiayaan yang tepat waktu, tepat jumlah dan sasaran, prosedur yang relatif sederhana, dan kemudahan akses ke sumber pembiayaan yang dimiliki sendiri.

Selain itu, diharapkan modal usaha secara bertahap dan sistematis mampu menyesuaikan dan mengakomodasi karakteristik ANGGOTA PENGAJIAN RIDHO ALLAH ke dalam produk-produk bisnis yang akan dibuat.



KONSULTANSI Divisi Usaha Yayasan Ridho Allah

Sebagai Barometer Program

Salah satu prasyarat yang diperlukan bagi keberhasilan pemberdayaan ANGGOTA PENGAJIAN RIDHO ALLAH adalah pendampingan yang mandiri dan berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas atau kemampuan sumber daya manusia sebagai pengusaha.

Oleh sebab itu para pendamping yang baik dan profesional dituntut memiliki kemampuan dalam aspek agama, teknis, sosial, ekonomi, dan keuangan yang berjiwa kewirausahaan yang cukup tinggi.

Proyek pemberdayaan anggota yang dijalankan oleh yayasan, komponen pendampingan terhadap pengembangandan pemberdayaan ANGGOTA PENGAJIAN RIDHO ALLAH dalam rangka penanggulangan kemiskinan, telah menjadi semacam keharusan. Setiap anggota akan punya pendamping yang akan menjalankan programnya supaya sinkron dan tidak tumpang tindih.

Konsultansi ini merupakan salah satu upaya atau program yang sifatnya terbatas yang diselenggarakan oleh yayasan melalui Anggota nya kemudian membentuk satuan tugas (task force) yayasan maupun wilayah yang disebut satuan tugas wilayah (Satgaswil) di tiap cabang-cabang.

Satuan tugas ini memiliki unit bantuan teknis (UBT) pemberdayaan dan begitu pula pada Satgaswil, yang didukung oleh yayasan , yang telah membuat business plan khusus untuk pemberdayaan ANGGOTA PENGAJIAN RIDHO ALLAH.

Fungsi utama nya adalah menjembatani hubungan antara Divisi Usaha dengan ANGGOTA PENGAJIAN RIDHO ALLAH atau sebaliknya yang berarti pula melakukan bimbingan kepada ANGGOTA PENGAJIAN RIDHO ALLAH untuk seluruh aspek kelayakan usaha terutama aspek permodalan / keuangan yaitu membantu mengemas potensi menjadi lebih layak dibiayai yayasan (feasible, bankable versi yayasan , dan possible).

Pendampingan tersebut perlu dilakukan sampai ”ANGGOTA” dapat mengembalikan pinjaman kreditnya ke yayasan. Calon ini diutamakan dari para pendamping teknis terutama yang tergabung dalam Business Development Services-Provider (BDS-P) yang telah dibina oleh Divisi Usaha Yayasan Ridho Allah.

Mudah-mudahan, program yayasan yang akan dibuat dalam menanggulangi usaha ekonomi keluarga dan memberdayakan ANGGOTA yayasan dalam menopang keyakinannya untuk ikut bersaing baik secara kelompok maupun di berbagai forum lainnya dapat berhasil dan bermakna dalam keseharian

PEMBERDAYAAN PROGRAM USAHA

Sebagai Usulan Kebijakan

Dalam kebijakan usaha terdapat dua sasaran kuantitatif yang cukup ambisius. Pertama, waktu proses pendirian usaha dan percepatan proses usaha yang lebih ringkas.

Di bidang usaha ini titik berat diarahkan untuk mengoptimalkan mobilisasi semua potensi sumber pendanaan milik sendiri dengan meningkatkan efisiensi, serta memperkuat tata kelola yang baik, dan jaring pengaman sektor usaha.

Hasilnya tidak bisa dicapai dalam jangka pendek mengingat hampir semua rencana tindak baru sebatas penyusunan konsep umum dan kerangka regulasi.

Dengan penguatan fondasi sektor usaha dan diversifikasi sumber pendanaan sendiri, diharapkan dalam jangka menengah struktur Divisi Usaha yayasan Ridho Allah akan lebih tangguh.

Dengan demikian, tak lagi terlalu bergantung pada permodalan konvensional. Hal ini sangat penting agar usaha tak lagi jadi sasaran "bancakan" kelompok-kelompok kepentingan, pada gilirannya membuat marak kembali praktik asal-asalan. Pembangunan usaha yang sehat dan efisien menjadi salah satu penopang kesinambungan pertumbuhan ekonomi keluarga untuk jangka panjang.

Oleh karena itu, pada era dunia datar sumber daya saing bergeser dari biaya variabel ke biaya tetap. Unsur kedua ini sangat ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur usaha yang andal dan efisien.

Diyakini bahwa yang lebih mendesak untuk memajukan usaha pada ANGGOTA PENGAJIAN RIDHO ALLAH ialah menjamin mereka mendapatkan dari usaha yang tersusun dan tersystem . Bagaimana bisa memenuhi hak ekonomi keluarga mereka sebagai bagian dari hak-hak dasar warga negara.

Pembukaan UUD 1945 dan para pendiri Republik secara tegas mengamanatkan terbentuknya perekonomian pasar sosial, yang mengacu pada kesejahteraan yang merata ke seluruh rakyat. Bukan kesejahteraan orang per orang atau didominasi kaum kapitalis.

Yayasan Ridho Allah divisi usaha akan memfokuskan pada tujuh program pokok untuk mendukung pelaksanaan ekonomi keluarga sebagai Percepatan Pengembangan dan Pemberdayaan ANGGOTA PENGAJIAN RIDHO ALLAH yaitu menumbuhkan usaha yang kondusif bagi anggota melalui penetapan kebijakan:

  1. Prasarana, informasi, kemitraan

melakukan pembinaan dan pengembangan usaha kecil bersama-sama dunia usaha dan masyarakat terutama dalam bidang: produksi dan pengolahan, pemasaran, sumberdaya manusia dan teknologi.

  1. Penyediaan pembiayaan

bagi pemberdayaan usaha kecil secara bersama-sama berupa: pinjaman permodalan sendiri, pinjaman dari penyisihan sebagian zakat anggota Pengajian Ridho Allah, hibah dan jenis pembiayaan lainnya.

  1. Memfasilitasi kemitraan

usaha kecil dengan usaha menengah dan besar melalui pola: inti-plasma, subkontrak, dagang umum, waralaba, keagenan, dan bentuk-bentuk kemitraan lainnya.

  1. Melaksanakan pola administratif kepada usaha kecil dan pemberdayaan usaha kecil.
  2. Usaha kecil yang telah dibina dan berkembang menjadi usaha menengah masih dapat diberikan pembinaan dan pengembangan dalam jangka waktu paling lama tiga bulan
  3. Lokasi usaha

dapat menempati dan melakukan kegiatan usaha yang disiapkan pada lokasi strategis dan keramaian.

  1. Pembinaan dan pengembangan

menetapkan bidang yang masih perlu diberikan kepada anggota yang usaha nya kecil menuju menengah.



RENCANA KERJA DIVISI USAHA DAN PEMBERDAYAAN Y R A

Sebagai Arah Kontribusi

Menciptakan sistem dan program adalah posisi strategis untuk mempercepat perubahan struktural dalam rangka meningkatkan taraf hidup anggota.

Sebagai wadah kegiatan usaha bersama, Yayasan Ridho Allah divisi usaha diharapkan berperan dalam meningkatkan ekonomi anggota nya, melalui dampak eksternalitas positif yang ditimbulkan.

Sementara itu dalam penyediaan lapangan kerja, memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi keluarga, dan peningkatan pendapatan keluarga. Bersamaan dengan itu adalah meningkatnya daya saing dan daya tahan ekonomi anggota.

Dengan perspektif peran seperti itu, sasaran umum Divisi Usaha dan pemberdayaan Yayasan Ridho Allah adalah:

1. memulai produktivitas

2. memulai usaha kecil formal;

3. membuat sistem untuk menumbuhkan wirausaha baru berbasis agama, ilmu pengetahuan dan teknologi;

Dalam rangka mewujudkan sasaran tersebut, divisi usaha dan pemberdayaan Yayasan Ridho Allah akan melakukan arah kebijakan sebagai berikut:

  1. Melaksanakan perencanaan, fasilitasi, pemantauan dan evaluasi pengembangan usaha.
  2. Mengembangkan usaha kecil dan menengah (UKM) yang diarahkan untuk memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi keluarga, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing; lebih diarahkan untuk memberikan kontribusi dalam peningkatan pendapatan pada kelompok dan anggota yang berpendapatan rendah.
  3. Memperluas akses kepada sumber permodalan khususnya modal sendiri;
  4. Memperbaiki lingkungan usaha dan menyederhanakan prosedur pinjaman modal kerja;
  5. Memperluas dan meningkatkan kualitas institusi pendukung yang menjalankan fungsi intermediasi sebagai penyedia jasa pengembangan usaha, teknologi, manajemen, pemasaran dan informasi.
  6. Memperluas basis dan kesempatan berusaha serta menumbuhkan wirausaha baru berkeunggulan untuk mendorong pertumbuhan, penciptaan lapangan kerja terutama dengan meningkatkan perpaduan antara tenaga kerja terdidik dan terampil dengan adopsi penerapan teknologi, khususnya yang ada pada anggota pengajian Ridho Allah
  7. meningkatkan peran keterkaitan industri, percepatan pengalihan teknologi, dan peningkatan kualitas SDM;

Langkah ke depan

Sebagai Orientasi

Dari tullisan diatas dapat ditarik satu benang merah bahwa salah satu kunci keberhasilan program pemberdayaan untuk Divisi Usaha Yayasan Ridho Allah terletak pada akurasi pemahaman karakteristik usaha kecil sesuai dengan status ekonominya. Sekali karakteristik usaha mikro dapat dipahami dengan baik, berbagai risiko (biaya) yang mungkin timbul di dalam pelayanan usaha akan dapat dimitigasi melalui kemasan usaha yang akan ditawarkan.

Selain itu, adanya karakteristik usaha ini yang pada umumnya memiliki marjin keuntungan baik, maka soal pinjaman dana bergulir pada umumnya bukanlah faktor utama yang dipertimbangkan kita bersama di dalam mengambil keputusan . Bagi Divisi usaha ini, yang lebih penting adalah ketersediaan pinjaman dalam waktu yang cepat dan dalam jumlah yang memadai ketika anggota Yayasan Ridho Allah tersebut membutuhkan.

PENUTUP

Sebagai kesimpulan

Sesungguhnya Allah swt tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apa bila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali kali tak ada pelindung bagi mereka.QS 13:11.


1. Siapa siapa yang memilih jalan hidupnya sesuai dengan kemauan ALLAH atau sunnah Rasul dialah yang berhak menerima hadiah besar atau rezeki yang banyak dari ALLAH, dan tempat yang mulia yaitu syurga.

2. Setiap sesuatu yang buruk untuk manusia bukanlah kemauan dari ALLAH, tetapi adalah kemauan nafsu manusia atau kemauan Setan.

ALLAH membiarkannya demikian nanti ALLAH akan meng hazabnya.

4. Akhiranya umat umat islam menjadi orang2 yang tangannya produktif, inilah yang dinginkan oleh ALLAH dan Rasulullah saw.

0 komentar: